Lanjut lagi. Selamat Membaca!
|
•
|
•
|
•
|
Mentari pagi telah bersinar, semua orang tengah bersiap untuk pergi ke makam. Yang paling ribet ialah Adel, entah apa yang sedang dia lakukan di kamar. Saat ingin menghampirinya Adel pun turun dengan membawa ransel.
"Tumben tumbenan lo lama banget," ujar Ferrel heran.
"Maaf ya, tadi siapin kado buat bunda dulu," balasnya menunjuk ransel miliknya.
"Ada yang kelupaan gak nih, kalo enggak kita berangkat sekarang," ucap Aran dibalas gelengan.
Mereka berangkat ke makam, tidak banyak memakan waktu untuk sampai disana. Dari tadi Adel nampak sangat gembira, terlihat jelas diraut wajahnya yang berseri. Pratama family ikut menyunggingkan senyuman. Mereka bertemu dengan penjaga makam.
"Eh nak Adel, mau berkunjung ke makam ibu ya," ujarnya. Keduanya sangatlah akrab karna Adel sering berkunjung.
"Hahaha iya Pak, kalo gitu saya masuk dulu ya," ucap Adel lalu berjalan mendahului mereka.
"Assalamu'alaikum bundaa.."
Adel berlari kecil dan duduk bersimpuh disamping nisannya. Tangannya mencabut rumput yang mulai rimbun. Setelah itu Adel membuka tas miliknya, mengambil bunga yang semalam udah dia persiapkan.
"Bunda kenapa sekarang jarang masuk ke mimpi, padahal Adel kangen banget," ucapnya dengan senyum.
"Oh ya, Adel bawain sesuatu buat bunda. Bentar ya..."
Ia mengeluarkan hasil karyanya di dalam tas. Sebuah lukisan foto keluarga yang lengkap.
"Lihat deh bun bagus kan.."
"Ini yang gandengan tangan Adel sama bunda, terus dibelakangnya ada ayah, bang Sean, Cio, Zean dan dedek Christy. Gak tau kenapa Adel gambarnya gini. Seolah-olah Adel juga akan ninggalin mereka,"
"Bunda aku capek, boleh nggak aku nyerah sekarang.." ucapnya yang tadinya senyum kini pertahanannya runtuh juga.
Tiba-tiba kepalanya berdenyut, pandangan matanya mulai mengabur. "R-rel lo dimana?"
"Gue disini, lo kenapa?" tanya Ferrel khawatir. Lalu menyentuh lengan gadis itu.
"K-kepala gue sakitt.." keluhnya.
"Kita pulang sekarang aja ya," ucap Ferrel menggendongnya ke mobil. Dirinya makin panik, melihat wajahnya semakin memucat.
"Ke rumah sakit aja ya," ucap Chika melihat ke belakang, dia juga sama khawatirnya.
"Enggak, Adel kayaknya cuma kecapean aja," ucapnya setelah lebih tenang karena usapan lembut di kepalanya.
Setibanya di rumah, Ferrel mengantarkan Adel ke kamarnya dan menyuruhnya untuk istirahat. Dengan setia ia menemani dipinggir kasur. Usapan di kepalanya membuat Adel mengantuk.
"Lo pucat banget, gue takut lo kenapa-napa," lirih Ferrel cemas.
Rumah sebelah nampaknya sepi, hanya ada Sean yang stay di rumah. Sementara yang lain sedang jalan-jalan atas permintaan si bungsu. Tadinya dia diajak tapi ia menolaknya dengan alasan capek.
Pada saat ingin pergi ke kamarnya, ia melihat kamar adiknya yang tidak tertutup rapat. Rasa penasaran semakin menyeruak, meski kemarin dirinya telah memasuki kamar ini. Kakinya melangkah masuk dan menutup pintunya kembali. Menyusuri setiap sudut, banyak lukisan yang terpajang rapi. Senyumnya mengembang saat menatap bingkai foto keluarga mereka yang masih lengkap.
"Maaf bun, sebenarnya aku juga gak mau seperti ini, tapi melihat dia mengingatkanku kepada bunda. Dan mulai sekarang aku akan mencoba berdamai dengan masa lalu. Sean janji akan jagain Adel, anak kesayangan bunda kan," batinnya.
Lelah mengitari kamar ini, ia duduk di kursi belajar adiknya. Netranya tak sengaja menangkap sesuatu yang aneh di tong sampah. Sean mendekat melihat banyak tisu dengan bercak merah dan banyak rambut yang berserakan.
Pikirannya kacau memikirkan hal ini. Ia lebih milih buat balik ke kamar. Sebelum mereka semua pulang dan memergoki dirinya berada di kamar adiknya. Saat sudah di kamar dirinya masih berpikir keras akan yang ia lihat tadi.
Selepas makan siang, Adel dan Ferrel sedang belajar mempersiapkan olimpiade nanti. Ditemani cemilan yang dibuat oleh Chika. Keduanya sangat fokus membaca dan mengerjakan soal-soal yang kemungkinan akan keluar nantinya.
Ditengah kefokusan mereka. Adel merasa perutnya tidak enak, jadinya dia berlari ke toilet dapur. Untuk mengeluarkan semua isi perutnya. Chika yang memang ada di dapur memutuskan untuk mendekati anak tetangganya.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Chika dengan raut wajah khawatir.
Adel hanya menggeleng. Hampir saja tubuhnya oleng. Untung Chika dengan sigap menahannya. Ferrel yang diluar toilet langsung membantu memapah tubuhnya. Menuntunnya duduk di meja makan. Lalu Ferrel mengambilkan minum untuknya.
"Kita periksa aja ya, sumpah gue takut lo kenapa-napa," ucapnya memperhatikan Adel yang sedang memijat pelipisnya sendiri.
"Gue beneran gak papa, lo gak usah se-khawatir itulah," ucap Adel menggenggam tangannya.
"Wajar kalo gue se-khawatir itu, lo sahabat gue Del," ucap Ferrel sedikit menaikan nada bicaranya.
Adel menghela nafas panjang. "Gue baik-baik aja. Emm gue pulang ya, kita lanjut besok aja belajarnya"
"Maaf gue gak bermaksud bentak lo," ucap Ferrel merutuki kebodohannya.
"Iyaa..." katanya singkat. Berjalan keluar rumah tanpa menatap sahabatnya yang juga menatap dirinya dari belakang.
Ferrel menatap sendu punggung yang berjalan menjauh dan akan menghilang sebentar lagi. Ia berjalan gontai ke meja makan. Merutuki dirinya sendiri yang tadi sempat kelepasan. Tanpa ia sadari buliran air matanya jatuh.
"Sayang kamu kenapa nangis?" tanya Chika menghampiri putra semata wayangnya. Tadi samar-samar mendengar pembicaraan keduanya.
"Ferrel benar-benar gak sengaja ma," ucapnya menangis terisak didalam dekapan mamanya.
"Loh ini kenapa malah nangis, Adel mana?" ujar Aran celingak celinguk.
"Udah pulang barusan," balas Chika.
"Adel kan cuma pulang, besok juga kalian ketemu lagi. Rumah kita dekat loh," ucap Aran yang tidak tau pertengkaran kecil yang baru saja terjadi.
"B-bukan itu, Ferrel merasa bersalah karna tadi gak sengaja bentak Adel pa," ujarnya udah mulai tenang.
"Mama tadi sedikit mendengar pembicaraan kalian, kamu kan tau Adel itu keras kepala sama seperti bokapnya. Kalian kan kenal udah lama, harusnya kamu lebih ngerti," ucap Chika.
"Tapi ma, barusan Adel muntah-muntah. Ferrel takutnya Adel kenapa-napa nantinya. Apalagi kalo pulang, siapa yang akan ngurusin dia," ucap Ferrel mengungkapkan ketakutannya.
Aran dan Chika malah tersenyum. "Kamu suka ya sama Adel," ujarnya.
"Jujur iya, malah udah dari lama. Cuma gak mau bilang aja, takutnya nanti Adelnya risih dan menjauh. Aku gak mau itu sampai terjadi. Bisa terus bersamanya dan menemani setiap harinya, udah cukup bagi aku," jelas Ferrel tersenyum.
"Sekali-kali bilang ke Adel tentang perasaanmu," ucap Aran.
Ferrel menggeleng cepat. "Enggak, biar aku simpan sendiri. Adel sangat menutup hatinya, dia pernah bilang kalo dia gak pantes buat dicintai. Lagian aku cuma dianggap sahabat gak lebih. Ferrel juga gak mempermasalahkan itu meski cintanya gak terbalas. Asal dia bahagia aku juga ikut bahagia," ucapnya tersenyum saat mengingat senyum manisnya.
TBC.
Maaf kalo jadi jarang update, aku kerja dari pagi pulang malam. Semisal ada waktu senggang aku bakalan update lagi. Semangat buat kalian! Oh ya, jaga kesehatan...
Jangan lupa vote dan komen
See you next chapter!
KAMU SEDANG MEMBACA
TAKDIR?! | END✅
Teen Fiction"Suatu saat nanti jika aku udah gak bisa bertahan lebih lama, bunda tolong jemput aku ya" Natasha Adelia Hapsari. Start: 25 Mei 2024 End: 04 September 2024 *** #1 in adeljkt48 (12-09-2024) #3 in ferrel (12-02-2025) #2 in kenzie (15-02-2025) #1 in se...
