|6| Dirawat

3.7K 294 9
                                        

Lanjut lagi nich. Selamat Membaca!
|

|

|

|

"Jangan menyalahkan takdir atas perginya seseorang dalam hidupmu. Walau bagaimana pun juga semuanya telah terjadi. Sudah saatnya kamu berdamai akan takdir yang telah ditentukan."
~Naufal Argasean Hendra~

"Apa yang terjadi dengan adik saya dok?"

"Jadi pasien terkena tumor otak. Mohon maaf sebelumnya, apa keluarga kalian ada yang mengidap penyakit tersebut?"

"A-ada tapi b-beliau sudah meninggal," ucap Sean menghela nafas. Chika yang memang duduk di sampingnya mengusap lengannya.

"Bisa jadi ini keturunan, apa adik anda yang lain terkena juga?"

"Kemungkinan tidak, bunda waktu itu sudah ada penanganan atas konsultasi dari dokter saat mengandung anak yang terakhir. Apa masih bisa disembuhkan dok?" tanya Sean, ia gak mau kehilangan adiknya. Mendengar pernyataan dari dokter tadi membuat hatinya remuk. Kenapa dirinya harus mengabaikan adiknya selama itu.

"Masih sangat besar untuk bisa disembuhkan. Ini baru masuk stadium 2, presentase sembuh sekitar 80%. Tergantung perkembangan pasien juga perlu diperhatikan,"

"Pada kondisi ini, kanker mulai menyebar ke kelenjar getah bening yang berada di sekitar sel kanker primer, serta ukuran sel kanker sudah semakin besar. Maka dari itu, tetap diperlukan pengobatan sesegera mungkin agar kanker tidak berkembang ke stadium lanjut,"

"Kamu sebagai kakaknya harus banyak bersabar. Pasien nantinya akan sangat membutuhkan orang disekitarnya. Pasien akan mengalami gangguan penglihatan, pendengaran dan keseimbangan dalam tubuh. Support kalian sangat dibutuhkan, supaya pasien semangat menjalani proses pengobatan," jelas dokter panjang lebar.

"Berapa hari pasien akan dirawat?" tanya Aran.

"Jika 2 hari sudah lebih baik, saya akan izinkan pulang," ucap dokter.

"Saya mohon buat bantu penyembuhannya, berapa pun biayanya akan saya bayar," ujar Sean.

"Baiklah silakan anda urus administrasinya terlebih dahulu. Besok pagi, saya akan cek keadaan pasien sekaligus memberikan jadwal kemo pertamanya," ucap dokter.

Perbincangan dengan dokter pun selesai, mereka keluar dan kembali. Bertepatan dengan ranjang Adel yang didorong ke ruang rawat VVIP atas permintaan dari Sean tadi. Sekretarisnya lah yang mengurus administrasi tersebut.

"Pak bu terimakasih telah mengantar adik saya sampai kesini. Dan maaf telah merepotkan kalian, bahkan sampai menunggunya," ucap Sean sedikit tidak enak hati.

"Seharusnya kami yang berterimakasih, berkat Adel dan juga Ferrel sekolah kami jadi semakin dikenal orang luar. Karna mereka berdualah, SMA Lentera Bangsa dijuluki dengan sekolah yang memiliki segudang prestasi yang telah diraih. Jika kamu berkenan, datanglah ke sekolah untuk mengambil piala dan medali yang didapatnya," ucap kepsek tersenyum bangga terhadap kedua anak muridnya.

"Baiklah, kalo ada waktu luang akan saya ambil. Saya mohon doanya untuk kesembuhan adik saya," ujar Sean sedikit membungkuk.

"Besok kami akan mengadakan doa bersama di sekolah untuk kesembuhan Adel. Kalo gitu kami harus kembali, maaf tidak bisa menemani sampai dia sadar," ucap kepsek senyum sembari menepuk bahu lelaki dihadapannya.

"Tak apa, sekali lagi terimakasih," ucapnya.

Setelah itu, Sean masuk ke dalam ruang rawat inap. Mendekat ke ranjang adiknya di sebelah kanan. Dia tidak ingin mengganggu Ferrel yang tengah tertidur sembari menggenggam tangan adiknya. Mengusap puncak kepalanya lembut serta kecupan singkat di keningnya.

Merasa cukup melihat wajah adiknya, ia pun duduk di sofa berhadapan dengan Aran dan Chika. Tidak lama dari itu, ada seorang perempuan yang masuk. Dibelakangnya diikuti 2 orang bodyguard yang juga masuk sembari membawakan beberapa bingkisan. Setelah meletakkan itu semua, 2 orang itu keluar untuk menjaga di depan.

"Maaf tadi langsung masuk gitu aja," ucapnya merasa bersalah.

"Gakpapa sini duduk," perintah Sean. Perempuan itu duduk tepat disampingnya.

"Tumben kamu peduli dengan adikmu?" ujar Aran sangat penasaran. "Biasanya selalu bersikap acuh," sambungnya.

Sean sendiri hanya bisa diam menunduk. Ia sadar bahwa sikapnya selama ini salah. Ia juga sudah berjanji akan memperbaiki semuanya. Mulai saat ini ia akan menjaga adiknya sebaik mungkin, tidak masalah jika harus ribut dengan anggota keluarganya yang lain.

"Maaf..." lirihnya.

"Udah lah pa, lagian Sean juga udah ada disini. Biarkan dia memperbaiki kesalahannya," ucap Chika tidak ingin menyurutkan semangatnya.

Aran menghela nafas sejenak. "Saya tegaskan, kejadian itu udah lama, salah besar kalo kalian masih terus menyalahkan Adel. Bahkan Adel sendiri pasti tidak menginginkan hal buruk itu terjadi. Apa kalian mikir bagaimana mental dia saat itu, ditinggal bundanya apalagi dia sangat dekat dengan beliau. Dia ada ditempat kejadian sedangkan kalian tidak...(Aran melihat Adel yang terbaring)...jangan pikir hanya kalian yang hancur, Adel lebih hancur. Semua yang terjadi sudah garis tangan dari Tuhan, mau sampai kapan kalian akan menyalahkan takdir?" jelas Aran tak kuasa menahannya. Dari dulu ia ingin sekali membela Adel, hanya saja dirinya takut malah membahayakan Adel nantinya. Karena ia tau betul kelakuan mereka semua.

"Tuh dengerin, dari dulu aku nasehatin kamu tapi gak pernah digubris. Giliran udah gini aja baru peduli, apalagi sampai masuk rumah sakit. Kamu tuh anak sulung di keluargamu, harusnya kamu bisa lebih dewasa dari adik adikmu yang lain," omelnya, cukup geram dengan tingkah Sean yang malah kekanak-kanakan.

"Iya iyaa.. Udah dong yang, jangan ngomel terus.. Kuping aku sampai merah gini.. Kamu gak kasihan gitu.." ucap Sean cemberut.

Perempuan itu memutar bola matanya malas. Lalu beranjak dari tempat duduknya. Mendekat ke ranjang calon adik iparnya. Mengelus lembut rambutnya, matanya menelisik tubuh Adel semakin mengurus. Ia beralih menatap Sean dengan tajam.

"Kamu kasih makan gak sih adikmu?" tanyanya berkacak pinggang sampai membuat Ferrel kebangun karna suaranya agak melengking.

"Berisik banget sih! Kasihan Adelnya, kalo mau ribut diluar aja," ketus Ferrel.

"Maaf maaf gak bermaksud. Sean..!"

"Aku kan jarang di rumah jadi gak tau," bela Sean tidak mau disalahkan.

"Jarang di rumah atau kamu memang mengabaikannya," katanya. Lagi-lagi Sean tidak bisa menjawab.

"Seminggu yang lalu waktu Adel disiksa sama bang Cio dia hanya diam aja tanpa mau nolongin. Aku tau ya abang ada dikamar itu," sahut Ferrel menimpali.

"Bener-bener ya kamu," marahnya langsung menarik telinga Sean dan dipelintir sampai memerah. "Sayang lepasin sakit tauu.." rengeknya.

"R-rel.."

TBC.

Happy banget dikasih momen meskipun cuma nyempil dikit, sesayang itu ama DelShan🤍

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Happy banget dikasih momen meskipun cuma nyempil dikit, sesayang itu ama DelShan🤍

Untuk cerita selanjutnya GxG ya, sesuai yang aku bilang kemarin...

Jangan lupa vote dan komen
See you next chapter!

TAKDIR?! | END✅Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang