|9| Mau Ikut Bunda

3.6K 311 12
                                        

Selamat Membaca!
|

|

|

|

"Kalian lihatkan! Kalau sampai Adel kenapa-napa aku gak akan maafin kalian semua," ujar Sean marah lalu pergi ke atas menuju kamar adiknya.

"Bukannya saya mau ikut campur permasalahan keluarga anda, sebaiknya bapak mengubah sikap bapak kepada Adel. Dia juga korban, jangan terus menyalahkan anak anda. Semua yang terjadi atas kehendak yang di atas. Cukup merusak anak itu dari segi mental dan fisiknya. Kasihan pak dia sudah cukup menderita kehilangan bundanya dan sekarang yang dia punya hanyalah kalian, perbaiki sebelum kalian menyesal nantinya. Jika pak Kenzie sudah tidak mau mengurusnya biarkan hak asuh Adel pindah ke tangan saya. Kalau begitu saya permisi ke atas untuk melihat anak saya," jelas Aran menepuk bahu lelaki yang umurnya jauh di atasnya.

"Jangan harap anda bisa mengambil anakku," Lirih Kenzie, Aran yang berjalan belum jauh darinya masih bisa mendengar kalimat tersebut.

Kenzie berlalu dan memilih pergi ke kamarnya. Sementara di ruang tamu hanya tersisa mereka bertiga saja yang saling tatap.

Sedangkan di kamar, Adel masih setia memejamkan matanya. Mereka dengan sabar menanti gadis itu siuman. Chika mengolesi minyak kayu putih di leher dan pelipisnya.

Ferrel yang duduk di kursi belajar Adel, setelah meletakkan buku yang tadi ia berikan. Kemudian melihat sepucuk amplop putih. Ia mengambilnya dan membacanya ternyata dari rumah sakit. "Bang Sean, berarti Adel udah tau duluan kalau dia sakit," ujarnya sembari menyerahkan amplop itu.

"Astaga pantesan dia tanya gitu waktu kemarin," balas Sean sedih, kenapa harus adek kecilnya kenapa enggak dia saja yang terkena penyakit ini.

Di alam bawah sadar, Adel sedang duduk di sebuah kursi berwarna putih sembari melihat sebuah air mancur yang sangat bagus dan indah.

"Adel!" Gadis itu langsung menoleh kearah sumber suara. Seketika senyumnya mengembang lalu memeluk sosok tersebut dengan sangat erat.

"Bunda pasti mau jemput Adel kan?" tanyanya. Sosok tersebut ialah Cindy, lalu perlahan menggelengkan kepalanya dengan senyuman yang menghiasi bibirnya. Mengajaknya untuk duduk kembali di kursi.

"Kenapa kamu bisa ada disini? Ini bukan tempatmu sayang," ucap Cindy mengelus surai rambut putri kesayangannya.

"Tapi aku mau disini sama bunda," ucap Adel melemah, tidak ingin berpisah dengan ibunya. "Buat apa Adel disana, meraka gak menginginkanku lagi bunda, lebih baik disini bisa terus sama-sama dan bunda gak akan kesepian lagi," lanjutnya.

"Belum saatnya sayang, kamu harus pulang," ujar Cindy.

"Enggak bun, aku gak mau," balas Adel menitikkan air matanya.

"Masih banyak orang yang menyayangi kamu, pulang ya sayang nanti kalau sudah saatnya bunda yang akan jemput kamu," ucap Cindy perlahan memudar dan hilang.

"BUNDA! BUNDAAA.." teriak Adel melihat sekelilingnya yang kosong. Sama sekali tidak melihat sosok bundanya lagi.

"BUNDA!!" ucapnya tersadar dari pingsannya. Nafasnya memburu, keringat mengalir dari sekujur tubuhnya lalu ia melihat sekitarnya ternyata ia ada di kamar.

"Sayang kamu minum dulu," ucap Chika membantu Adel untuk minum.

"Bunda," liriknya sembari melihat keluar balkon. Disana ada Cindy dengan berpakaian serba putih sedang tersenyum manis ke arahnya. Ia segera turun dari ranjang dan berjalan tergesa-gesa ke balkon. Namun semakin ia mendekat sosok bundanya semakin menjauh. "Bunda, Adel ikut bun. Jangan tinggalin Adel sendirian disini, bundaa!" ucapnya dengan air mata yang terus mengalir. Sean dengan cepat mendekap tubuh mungil adeknya ke dalam pelukannya. Berusaha membuatnya tenang, meskipun dia sendiri tidak sanggup melihat adeknya seperti ini.

TAKDIR?! | END✅Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang