|23| Kado Buat Ayah

2.8K 172 2
                                        

Selamat Membaca!
.
.
.

"Ngobrol apa? Aku gak mau kalo bahas itu"

"Bukan, yang penting kamu makan dulu aja"

Keenan kembali menyuapi Christy dengan telaten hingga makanan itu habis tak tersisa. Christy pun meminum obatnya dengan patuh. Setelah itu, ia menatap Keenan dengan tatapan bingung, seakan menerka-nerka apa yang ingin disampaikan. Keenan hanya terkekeh kecil lalu mengacak-acak rambut gadis itu dengan senyuman hangat.

"Ishh jadi berantakan," ucap Christy ngambek lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain.

"Hadap sini biar saya benerin"

Keenan menangkup pipi Christy dengan lembut, membuat gadis itu menghadap ke arahnya. Dia merapikan kembali rambut Christy yang sedikit berantakan, hingga tatapan keduanya saling bertemu. Keduanya saling menatap dalam jarak yang dekat, tatapan mereka saling beradu, menciptakan percikan yang tak terlukiskan.

Christy yang sadar akan tatapan intens Keenan pun langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain, pipinya memerah. Jantung mereka berdebar sangat kencang, seakan berlomba untuk keluar.

Setelah terjadinya saling tatap satu sama lain, yang terasa begitu lama dan intens, keadaan ruangan menjadi hening. Suasana canggung menyelimuti mereka berdua, seolah-olah udara di ruangan itu pun ikut terdiam. Tak ada yang berani memulai pembicaraan, keduanya terjebak dalam keheningan yang penuh makna.

"Ekhmm.."

"Kita bisa bicara serius sekarang," ujar Keenan terbata dan sedikit gugup. Christy hanya mengangguk saja.

Keenan menghela nafas sejenak, "Kamu sudah tau kondisimu tapi kenapa?"

"Buat apa kak, seakan semuanya juga percuma. Mereka gak peduli sama aku, lagian kalo sembuh yang ada hari hari bakalan makan hati," balas Christy yang telah tau kemana arah pembicaraan.

"Kakak adek pemikirannya sama, sama-sama pendek," batin Keenan tak habis pikir.

"Mereka sudah menyesal, kamu nggak kasihan sama mereka? Jangan membuat mereka tambah merasa bersalah dengan kamu yang seperti ini," ucap Keenan menatap lekat.

Christy terdiam memikirkan perkataan dokter tersebut. Apa yang dibilang olehnya ada benarnya juga, harusnya dia semangat untuk sembuh.  Christy menatap kearahnya, raut wajahnya masih dipenuhi keraguan. Keenan pun mengangguk disertai senyuman yang menghiasi bibirnya, seolah ingin mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

"Kapan kamu akan bicarain hal itu dengan dia?"

"Setelah keluar dari sini"

"Nanti biar saya yang akan nemenin kamu. Tidak ada penolakan, mau dibawain apa buat makan siang?"

"Mau yang seger seger"

"Okey, diluar udah ada abang dan kakakmu, saya keluar dulu," ujar Keenan lalu memajukan wajahnya dan berbisik, "Jangan kangen ya.." ucapnya tersenyum jail lalu pergi.

Christy merasa pipinya memanas seperti kepiting rebus. Perlakuan yang diterimanya saat ini terasa asing baginya, tapi dia menyukainya. Biasanya, saat bersama pacarnya, dia tidak pernah mendapatkan perlakuan seperti ini. Entah kenapa, jantungnya berdegup kencang, seakan-akan ada sesuatu yang berbeda sedang terjadi.

Pintu ruangan terbuka, memperlihatkan Sean dan Anin yang baru saja masuk. Di belakang mereka, Zean menyusul dengan langkah pasti. Ya, Zean, dia memutuskan untuk pergi ke rumah sakit untuk menjenguk adik bungsunya. Saat Zean masuk dan tatapannya bertemu dengan Christy, dia dengan cepat berlari mendekat dan memeluk tubuhnya erat-erat.

"Maafin abang dek," ujarnya.

Christy hanya mengangguk saja, bibirnya kelu untuk menjawab. Tidak ada benci di hatinya, karena rasa sayangnya pada Zean sangatlah besar. Meski abangnya ini sering kali bersikap acuh, tapi di sisi lain, dia juga peduli terhadapnya.

"Apanya yang sakit?" Christy menggelengkan kepalanya.

Zean hanya mengangguk. Mungkin adiknya masih marah, itulah yang dia pikirkan. Rasa bersalah dan kekhawatiran memenuhi hatinya. Zean pun berbalik badan, menatap wajah datar Sean sejenak lalu menunduk.

"Zean minta maaf bang," ucapnya lirih.

Sean menghela nafas dan Anin senantiasa mengusap lengannya. "Iya, nanti minta maaf juga ke Adelnya langsung ya."

Sean mendekat dan memeluk tubuh Zean, adik keduanya, dengan erat. Tangannya mengusap punggung Zean dengan lembut, seolah ingin menenangkan adiknya yang terlihat takut padanya. Setelah beberapa saat pelukan mereka mengendur. Keduanya saling berbalas senyuman. Anin dan Christy yang menyaksikan ikut tersenyum dan sedikit kelegaan dihatinya .

"Kamu tadi kesini sendiri? Cio dimana?" tanya Anin yang ingin akrab dengan calon adik-adiknya.

"Iya kak, tadi aku lihat bang Cio lagi ngelamun di taman belakang," jawab Zean sendu.

"Gak papa, biarin abangmu nenangin diri dulu," balas Anin dengan senyuman.

"Ayah?" tanya Sean.

"Kalo ayah, habis sarapan tadi langsung ke kamar," jawabnya.
.
.
.
Setelah dirawat selama dua hari, pagi ini Christy akhirnya diperbolehkan pulang. Anin dengan sigap membereskan semua keperluan Christy, mulai dari pakaian hingga obat-obatan. Sementara Sean sedang menguras semua administrasi. Zean sendiri hanya duduk leha-leha di sofa. Selang beberapa menit, pintu ruangan terbuka dan menampilkan sosok dokter Keenan yang tersenyum ramah.

Aran dan Chika yang kemarin sempat ikut mengantar ke rumah sakit, kini tidak bisa ikut menjemput karena sedang berada di luar kota untuk urusan bisnis yang tidak bisa ditinggal. Keduanya berjanji akan menjenguk Christy begitu kembali dari luar kota.

"Saya lepas dulu infusnya. Nanti siang saya akan jemput kamu, tadi saya sudah izin sama Sean," ujarnya.

"Mau kemana?" tanya Anin dan Zean bersamaan.

"Nemenin saya keluar sebentar, cari kado buat pak Kenzie," ucap dokter Keenan membuat alasan yang masuk akal.

"Kenapa harus Christy dia kan baru sembuh," cegah Zean.

"Udah lah bang aku udah sehat kok dan cuma aku yang tau biasanya kak Adel beliin kado apa," sahut Christy menimpali.

"Huft, tapi jangan lama-lama kamu masih harus istirahat," balas Zean yang akhirnya mengizinkan.

Setelah infus terlepas dan Sean juga telah kembali, mereka pun memutuskan untuk pulang. Sekitar 45 menit kemudian, mereka sampai di rumah. Namun yang menyambut mereka malah bibi.

"Ayah dan bang Cio mana, bi?" tanya Christy heran.

"Bibi juga gak tau non, bapak dan den Cio dari kemarin belum pulang," jawabnya bingung dan juga khawatir dengan majikannya.

"Kok Christy jadi khawatir sama mereka ya," ucapnya cemas dan memikirkan kemana perginya.

"Jangan banyak pikiran dek, kamu baru sembuh. Kalo hari ini mereka belum pulang juga biar abang yang cari," ucap Zean mengusap lembut bahu adiknya.
.
.
.
Siangnya, Christy tengah bersiap untuk pergi bersama dengan dokter Keenan. Dia sangat kebingungan saat memilih outfit yang ingin dia kenakan.  Berbagai pilihan baju di lemari dijajalnya, namun tak satupun yang terasa pas.  Hingga akhirnya pilihannya pada celana pendek dan kemeja panjang warna putih. Senyum mengembang di wajahnya, Christy merasa outfit ini cocok untuk pergi dengan dokter Keenan.

 Senyum mengembang di wajahnya, Christy merasa outfit ini cocok untuk pergi dengan dokter Keenan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Outfit Christy

TBC.

Jangan lupa vote dan komen
See you next chapter!

TAKDIR?! | END✅Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang