|24| Permasalahan Christy

2.5K 187 7
                                        

Selamat Membaca!
.
.
.
.
.

Tin tin tin...

Christy yang semula masih bergulat dengan alat make-upnya di depan cermin, mendadak tersentak mendengar suara klakson mobil yang nyaring dari luar. Segera ia meletakkan alat make-upnya dan beranjak turun ke bawah. Sebelum melangkah keluar rumah, ia pamit kepada abang dan kakaknya yang sedang asyik menonton televisi di ruang tamu.

"Bang kak, Kitty berangkat ya. Itu dokter Keenan udah di depan," ujarnya menyalami punggung tangan mereka.

"Iya, kalian hati-hati. Nanti pulangnya jangan sampai malam," ucap Zean dan diangguki oleh Christy.

Christy pun berjalan keluar, matanya langsung tertuju pada sosok Dokter Keenan yang sedang bersandar di mobilnya. Ia sempat terpesona melihat penampilan Keenan yang berbeda. Biasanya ia hanya melihat Keenan mengenakan jas putih dokternya, namun kali ini Keenan terlihat lebih santai dengan pakaian kasualnya. Meskipun begitu, ketampanan Keenan tetap terpancar. Tapi kali ini, aura yang terpancar darinya lebih dari sekedar kata tampan.

"Hei kok malah ngelamun disitu, ayo buruan"

"Apa sih yang gua pikirin, ingat Christy kamu udah punya Zico," ucapnya dalam hati, menepis semua yang ada dipikirannya tentang dokter Keenan.

Christy melangkah mendekati mobil. Keenan, yang sudah menunggu di samping mobil, dengan sigap membukakan pintu mobil untuknya. Setelah Christy masuk ke dalam mobil. Keenan pun bergegas masuk ke kursi pengemudi, senyumnya tak kunjung luntur. Mesin mobil menyala, dan dengan perlahan, mobil meninggalkan pekarangan rumah tersebut.

Beberapa kali Keenan melirik ke sebelah. Ia tak bisa memungkiri bahwa Christy memang sangat menawan. Rambut panjangnya yang terurai, kulitnya yang putih bersih, dan senyumnya yang manis membuat Keenan terpesona. Namun, ia sedikit risih dengan pakaian Christy yang terbuka, memperlihatkan paha putih dan mulusnya. 

"Kita langsung kesana atau ketempat lain dulu?" tanya Keenan memecah keheningan.

"Langsung aja biar cepat selesai"

"Kamu udah mikirin konsekuensinya kan?"

"Udah tapi gak tau harus gimana nantinya. Pasti mereka bakal kecewa banget sama aku, apalagi kakak," ucapnya menunduk, air matanya jatuh.

Keenan yang tak tega melihat gadis itu menangis pun menepikan mobilnya sejenak. Ia menarik tubuh mungilnya ke dalam pelukan hangat. Usapan lembut di punggungnya perlahan-lahan menenangkan tangisnya, membuat air mata yang semula mengalir deras itu sedikit demi sedikit mulai mereda.

"Udah tenang?" Christy mengangguk. "Ini kamu minum dulu," ucap Keenan memberikan sebotol air mineral yang sudah dibuka. "Kita lanjut lagi ya," ucapnya kembali.

Mobil pun kembali melaju membelah padatnya jalanan kota. Jarak tempuh ke tempat tujuan sekitar 45 menitan, perjalanan yang cukup singkat. Hingga akhirnya, mereka telah sampai di basement hotel tersebut. Hotel yang sama dengan yang Christy kunjungi waktu lalu, sebuah bangunan megah yang menjulang tinggi di tengah hiruk pikuk kota.

Christy menghirup udara dengan rakus, nafasnya tercekat. Ia takut dengan semua jawaban yang akan ia dengar nantinya. Disaat sedang cemas memikirkan banyak hal dan bagaimana kedepannya, sebuah tangan besar dan kekar menggenggam tangannya.

Christy menoleh ke samping dan ternyata itu tangan Keenan yang telah membukakan pintu untuknya. Sebuah sentuhan yang menenangkan, seolah memberi tahu bahwa ia tidak sendirian dalam menghadapi semua ini.

"Saya ada bersamamu jangan takut," ucap Keenan lembut dengan senyuman.

Mereka berjalan beriringan menuju lift dengan tangan masih saling bertautan. Sebuah kehangatan di tengah rasa cemas yang menyelimuti. Sesampainya di dalam lift, mereka hanya berdua. Christy menekan angka 10 dan lift pun tertutup, bergerak ke atas sesuai angka yang dituju. Tak berselang lama, pintu terbuka dan keduanya keluar bersamaan.

"Kamar nomor berapa?" tanya Keenan.

"109"

Saat telah sampai di depan kamar tersebut, Keenan yang ingin mengetuk pintunya terhenti. Tangannya yang sudah terangkat di udara, ditarik oleh Christy dan gadis itu menggeleng.

"Aku punya kartu aksesnya," ucap Christy lalu membuka pintu tersebut.

Pada saat ingin masuk langkahnya terhenti. "Saya tunggu diluar, kalian ngobrol aja berdua. Kalo ada apa-apa panggil ya."

"Kakak harus ikut, aku nggak mau masuk sendiri," ucap Christy menghentakkan kakinya.

Tangan Keenan yang sudah ditarik duluan pun hanya bisa pasrah. Ia berjalan di belakang gadis itu. Pada saat tiba di ruang santai, keduanya samar-samar mendengar suara aneh di dalam kamar yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri.

Christy, yang sudah sangat hafal dengan cepat kakinya melangkah ke asal suara dan membuka pintu kamar tersebut. Dilihatnya sebuah pemandangan yang seharusnya tidak ia lihat. Sosok pacarnya yang sedang berhubungan intim dengan wanita lain. Kedua orang itu tidak menyadari keberadaannya dan masih melanjutkan kegiatan panas yang tercipta di kamar itu.

Air matanya jatuh seketika, ia berbalik badan dan menubruk dada bidang Keenan. Dengan sigap Keenan memeluk tubuhnya dan membawanya ke ruang santai, membiarkan dua orang itu yang masih beradu di dalam sana.

1 jam kemudian...

Pintu kamar terbuka, dua orang yang tadinya bergulat sudah keluar dan kaget melihat ada orang lain. Perempuan dan laki-laki itu menoleh kearah keduanya bersamaan.

"Christy... Dari kapan kamu disini?" ucap Zico terbata dan gugup karena kepergok.

"Sejam yang lalu, gue mau ngomong sama lo," ucap Christy tanpa menatap Zico dan wanita itu.

Keduanya duduk dan berhadapan dengannya. Christy menatap jijik pada mereka berdua, bekas kissmark dimana-mana. Sebenarnya ia ingin marah pada pacarnya itu, tapi tubuhnya lemas setelah melihat kelakuannya. Ia tidak mau mengeluarkan banyak energi untuk cowok di depannya ini. Rasa sakit dan kecewa lebih mendominasi dirinya saat ini.

Christy mengeluarkan sebuah surat dari dalam tasnya dan menaruhnya diatas meja. "Lihat dan baca dengan teliti," titahnya.

Zico menatap Christy dengan tatapan bingung lalu mengambil kertas itu dan membaca isi di dalamnya. Matanya melotot sempurna dan menatap Christy tidak percaya. Raut wajahnya berubah drastis, dari bingung menjadi terkejut dan sedikit takut.

"Lo harus tanggung jawab," ucap Christy.

"Nggak, ini pasti cuma akal-akalan kamu kan! Oh atau jangan jangan kamu ngelakuin itu juga sama DIA," ucap Zico sinis menunjuk laki-laki disamping Christy yang tak lain ialah Keenan.

"ZICO CUKUP! DIA GAK ADA SANGKUT PAUTNYA DENGAN MASALAH KITA!!" teriak Christy menatap tajam Zico dan wanita itu yang diam saja.

"POKOKNYA GUE NGGAK MAU TANGGUNG JAWAB, LO HARUS GUGURIN KANDUNGAN ITU. DAN GUE LEBIH MILIH DIA DARIPADA LO!" balas Zico, dia yang dimaksud ialah wanita yang sedari tadi bersamanya.

"DASAR COWOK BRENGSEK!" ucap Christy yang berlari keluar dari sana.

"Saya peringatan sama kamu, jangan pernah dekati Christy lagi atau menampakkan wajah kamu didepannya atau kamu akan mati saat itu juga," ancam Keenan lalu berlari menyusul Christy yang udah lebih dulu keluar.

TBC.

Jangan lupa vote dan komen
See you next chapter!

TAKDIR?! | END✅Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang