|8| Kamu Mati, Hidup Saya Tenang

3.9K 290 6
                                        

Lanjut lagi nih. Selamat Membaca!
|

|

|

|

Perjalanan pulang ke rumah diselimuti oleh keheningan. Di dalam mobil itu ada Sean, sekertarisnya, Adel dan Ferrel. Sementara di mobil satunya ada Aran dan Chika yang mengikuti dari belakang. Adel dan Ferrel yang biasanya ngobrol, kini keduanya sama-sama saling diam.

"Rel lo marah dengan ucapan gue tadi?" tanya Adel yang gak suka didiemin oleh sahabatnya.

"Enggak, kenapa gue harus marah. Kan bener kita cuma sahabat, lagian gue lagi ngincer seseorang," ucap Ferrel berbohong.

Adel langsung menengok kearahnya. "Kok lo gak pernah bilang ke gue sih Rel? Btw, kalo udah punya gebetan kok lo masih memperlakukan gue seolah-olah orangnya itu adalah gue," ucapnya.

"Emang lo orangnya," batin Ferrel menatapnya.

"Pasti dia beruntung banget bisa dapetin lo," lirih Adel langsung menghadap ke luar. Samar-samar mereka masih mendengar kalimat tersebut.

"Rel.."

"Hmm, kenapa?"

"Nanti kalo udah sama dia jangan lupain gue ya, setelah ini pasti lebih prioritasin dia dan ninggalin gue sendiri," ucapnya sendu seakan tidak ingin jauh dari sahabatnya.

"Ngomong apa sih Del, gue gak akan pernah ninggalin lo sendirian. Jadi gak usah berpikiran kayak gitu, udah ya. Daripada sedih-sedih mending lo deketan sini, gue punya sesuatu"

"Apaan tuh," ucap Adel dengan mode tengil. Ferrel yang melihat memutar bola matanya malas. Harus banget gitu berubah kepribadian. "Buruan Rel mau kasih apa?" ucapnya menggoyang goyangkan tubuh sahabatnya.

"Tutup mata dulu lah," pinta Ferrel.

"Ishh kenapa harus tutup mata dulu sih, gue udah penasaran banget sumpah.." omelnya tapi tetap menurut.

"Bentar doang, hitungan ketiga buka matanya," ucap Ferrel memberi pengarahan.

1

2

3

"Taraaa..." Ferrel memberi sebuah kalung dan buku tulis.

(Pinterest)

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

(Pinterest)

"Wahh ini bagus bangett, eh ini buat apa?" ujar Adel mengangkat buku kosong itu.

"Ini kalungnya gue pasangin dulu," ucap Ferrel lalu sedikit menyingkirkan rambutnya kesamping. Setelah terpasang sempurna, barulah Adel kembali menghadap ke Ferrel sembari memperlihatkan kalungnya yang telah melingkar di lehernya.

"Gimana?" tanya Adel.

"Lo mau pake apapun tetap cantik," puji Ferrel menatap kagum sahabatnya yang selalu bisa memikat hatinya.

"Makasih atas pujiannya," ucap Adel tersenyum. "Btw, ini buku buat apaan?" tanyanya.

Ferrel menghela nafas sejenak, "nanti kalo semisal gue lagi jauh dari lo, ini ada buku, lo bisa tulis semua apa yang lo rasain didalam buku ini," jelasnya menatap dalam mata sahabatnya.

TAKDIR?! | END✅Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang