|18| Mereka Kenapa?

3.2K 266 17
                                        

Selamat Membaca!
|
|

|
|

"Ada yang ribut dibawah, gue mau lihat siapa orangnya," ucap Adel yang udah bangun dan duduk ditepi ranjang.

"Kok lo udah duduk aja sih, siapa yang bantuin?" tanya Ferrel yang kaget.

"Nggak ada, kaki gue udah mendingan. Udah kenapa jadi bahas kaki sih, ayo buruan turun," ajak Adel yang mulai berdiri meski harus pegangan sesuatu.

"Pake kursi roda aja Del," ucap Ferrel.

"Ngapain nanti kaku lagi Rel, lo mah memperlambat penyembuhan kaki gue," ujar Adel menatapnya sinis.

"Nggak gitu maksudnya, katanya mau turun jan ngajakin ribut deh," ucap Ferrel kesal.

"Lo duluan yak," balas Adel.

"Iya iya gue yang salah, minta maaf ya tuan putri," ujar Ferrel yang akhirnya mengalah.

Adel dan Ferrel turun lewat tangga. Tinggal beberapa langkah lagi mereka bisa tau siapa yang buat keributan. Tapi keduanya harus berhenti, karena Adel mengeluh kakinya sakit.

"Kan udah gue bilangin, makanya dengerin jan keras kepala deh. Keras kepala kok dipelihara," omel Ferrel. Dia sedikit berjongkok untuk mengusap usap kakinya agar lebih mendingan.

"Udah mendingan?" Adel mengangguk lalu menatap kedepan.

"Itu siapa ya kok kayak kenal," kata Adel merasa tidak asing.

"Bentar deh, i-itu yang dipeluk bang Sean oma Ve dan ayah kamu Del yang dibawah," ujar Ferrel.

Adel langsung melepaskan genggaman tangan Ferrel dan berlari menuju ayahnya. Dia melupakan kakinya yang belum sembuh total.

"AYAH..!"

"ADEL JANGAN LARII"

Mereka semua menoleh ke belakang. Terlihat Adel yang tengah berlari mendekat dan dibelakangnya ada Ferrel yang mengejar Adel dengan raut wajah khawatir. Adel langsung bersimpuh disamping ayahnya. Menangkup pipinya dan menghapus jejak air matanya.

"Kenapa ayah menangis, ayah lebih cocok tersenyum seperti ini," ucap Adel menarik sudut bibir Kenzie dengan kedua telunjuknya.

"Ayah kenapa diam aja, Adel ada salah ya sama ayah, ayah boleh kok hukum Adel sekarang," ucapnya dengan senyum manisnya.

"Oma.. Ayah kenapa diam aja, suruh ayah ngomong oma.. Atau ayah sakit? Ayo kita ke rumah sakit kita periksa ya," ucapnya khawatir sekaligus bingung dengan sikap mereka semua.

"Sebenarnya ada apa dengan kalian semua, jangan buat aku semakin bingung," ucapnya namun tidak ada yang menjawab semuanya masih diam membisu.

Adel kembali fokus pada ayahnya yang kembali menangis sampai terisak. Dia juga melihat bang Cio, Zean dan Christy yang juga menangis. Tapi apa yang membuatnya menangis berjamaah seperti ini. Karena bingung dia pun memeluk ayahnya dengan erat meski tidak mendapat balasan.

"Akhirnya aku bisa peluk ayah lagi. Semoga ini bukanlah mimpi," ucapnya dalam hati.

Setelah puas memeluk ayahnya, lalu melepasnya. Adel semakin panik saat wajah Kenzie mulai memucat. Adel menempelkan punggung tangannya dikening ayahnya.

"Ayah demam, ayo kita masuk. Ayah masih kuat jalankan?" tanya Adel tapi Kenzie masih saja diam dan terus menatap wajahnya.

"Rel bantuin gue bawa ke kamar," pinta Adel.

"Tapi..."

"Gue marah sama lo," ancamnya.

Ferrel yang diancam pun mau tidak mau akhirnya membantu Kenzie ke kamar Adel. Di kamar itu tidak hanya mereka bertiga tapi ada yang lain juga. Setelah merebahkannya di kasur, Adel turun untuk mengambil air buat mengkompres ayahnya. Sepeninggalnya Adel, Veranda yang dari tadi hanya diam kemudian bersuara.

"Lihatlah, bahkan disaat dia sedang sakit masih peduli sama kamu. Apakah kamu pantas diperlakukan sebaik ini tapi kamu malah memperlakukannya sebaliknya?" ujar Veranda.

"Dimana otak kamu Kenzie!" bentaknya.

"Eh oma kenapa marah-marah?" tanya Adel yang baru datang. Tetapi dia tidak mendengar apa yang dibilang oleh Veranda.

"Nggak papa sayang, kamu slaah denger aja," ucapnya lalu duduk disofa.

"Oh yaudah, jangan keseringan marah-marah oma  nanti cepet tua loh. Makin keriput dah tu kulitnya," ucap Adel mencairkan suasana. Dia merasakan ketegangan diruangan ini. "Btw, kalian nggak mau duduk? Nggak pegel tuh kaki berdiri terus atau mau ditebas biar gak bisa berdiri sekalian," lanjutnya sambil nyengir.

"Dek ngomongnya ihh serem banget," ujar Anin geleng-geleng.

"Bercanda kok kak maaf ya semuanya," ucapnya.

Mereka hanya mengangguk. Adel duduk disamping ayahnya, dia dengan telaten membasahi kain yang dibawanya tadi. Setelah memerasnya lalu menempelkan ke kening Kenzie. Entah kenapa sedari tadi ayahnya tak mau melepas tatapannya kepada dirinya. Apakah ada yang salah dengan wajahnya? Pertanyaan itu yang bersarang dibenaknya dari tadi.

"Kenapa ayah lihatin Adel gitu banget?" tanyanya yang ngeri-ngeri sedep ditatap seperti itu.

"Huft, kalo ayah nggak mau jawab gak papa. Ayah jangan sakit-sakit, nanti siapa yang jagain bang Cio, Zean dan dedek Christy..(Adel melihat mereka bertiga yang juga tengah menatapnya)..kalo Adel mah nggak usah dijagain, soalnya ada bunda yang selalu nemenin Adel. Karena bunda akan selalu ada dihati Adel dan kalian semua," ucapnya dengan tersenyum.

"Mending ayah tidur deh kan lagi sakit atau ayah mau sesuatu? Biar Adel ambilin," ujarnya yang bersiap untuk pergi.

Tangannya ditahan oleh Kenzie dan menyuruhnya agar duduk kembali. Dia menggeleng tanda tidak ingin apapun itu. Adel menurut lalu membelai pipi ayahnya dengan lembut. Kenzie yang mendapatkan sentuhan itu memejamkan matanya, menikmati setiap belaiannya.

"Ayah kok kurusan sih, nggak dikasih makan ya sama bibi.. Jangan keseringan telat makan yah, nanti ayah sakit nggak ada yang ngurusin. Ya kalo Adel masih ada kalo nggak ada gimana? Mending ayah cari istri baru deh biar ada yang ngurusin. Ayah tuh keseringan dikantor makanya pulang-pulang marah mulu, kalo punya istrikan enak tuh, capek di kantor pulang kerja ada yang nyambut kan adem jadinya," ucap Adel.

"Bunda kamu nggak tergantikan," ucap Kenzie yang akhirnya bersuara juga.

"Dari tadi kek yah ngomongnya biar aku nggak ngomong sama angin," ucap Adel mendadak kesal. "Tapi bener sih bunda tuh paling the best pokoknya mah, iya kan oma," ucapnya yang kembali sumringah.

"Betul banget, jadi kapan kamu siap buat tinggal diluar negeri sama oma dan opa," ucap Veranda.

Deg

Mereka semua terkejut dengan kalimat yang barusan Veranda ucapkan tanpa terkecuali.

"Maksud oma apa?" tanya Adel yang bingung.

"Hari ini juga kamu harus ikut oma tinggal diluar negeri, tidak ada bantahan lagi Adel," ucap Veranda lalu berdiri dan menariknya.

"Oma apa-apaan sih lepasin tangan Adel, dia sampai kesakitan gitu," ucap Sean melepaskan cengraman Veranda dari tangan adiknya. "Kalo cara oma seperti ini, oma dan ayah itu nggak ada bedanya," lanjutnya.

"Sayang maaf, oma nggak bermaksud gitu," uucap Veranda menyesali tindakannya yang sedikit gegabah.

Adel hanya menunduk menangis dalam diam. Sean yang mengerti perasaan adiknya lalu memeluknya. Usapan di punggungnya membuat hatinya sedikit lebih tenang. Kemudian menatap Veranda dengan mata yang berair.

"Mau oma memaksa segimanapun, Adel tetap akan memilih ayah. Aku nggak peduli kalo ayah masih mau menyiksaku, yang terpenting Adel masih bisa lihat ayah dan bareng-bareng sama ayah," ucap Adel marah. Entah kenapa moodnya berubah drastis.

Keheningan menyelimuti kamar ini hingga beberapa saat. Kenzie menatap sendu ke arah Adel yang masih menunduk.

"Ayah minta maaf"

Tbc.

Yeayy double up akhirnya selesai jugaa...
Lusa kayaknya bakalan update lagi deh, info lebih lanjut di saluran ya...
https://whatsapp.com/channel/0029VaiSFs8CMY0J9vGMG70z

Jangan lupa vote dan komen
See you next chapter!

TAKDIR?! | END✅Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang