|17| Kenzie dan Aran Ribut

2.8K 254 14
                                        

Selamat Membaca!
|
|

|
|

"Ada keperluan apa datang menemui saya malam-malam begini?"

"Saya hanya ingin menyerahkan berkas ini. Tolong anda terima dengan lapang dada."

Aran meletakkan berkas itu di meja. Tanpa menyampaikan keinginannya. Biarkan Kenzie membacanya sendiri. Kenzie mengambil dan membaca isinya, matanya membulat sempurna.

"Maksud anda apa ini?" ujar Kenzie melempar berkas itu di meja. Membuat anak-anaknya yang tidak tau isi dalam berkas itu terkejut.

"Adel akan saya ambil dan menjadi anak saya," ucap Aran dengan tenang.

"Jika kalian kesini hanya untuk meminta tanda tangan jangan harap, sampai kapanpun saya tidak akan menandatangani surat ini!" ucap Kenzie penuh dengan tekanan.

"Sebetulnya kami sudah tidak memerlukan tanda tanganmu, surat ini sudah resmi di pengadilan. Oma Ve yang telah menggantikan posisi anda tuan," ucap Aran membuka lembaran itu dan menunjukkan bahwa sudah ada goresan pena atas nama Veranda selaku ibu kandung dari istrinya.

"Kedatangan saya kesini hanya ingin menyampaikan bahwasanya Adel telah resmi menjadi anak saya. Jadi tolong bermurah hati untuk melepaskannya. Saya jamin kasih sayang, kebahagiaan dan kesuksesannya akan saya penuhi," ucap Aran menatap Kenzie dengan raut wajah santainya.

Kenzie meraih berkas itu lalu merobeknya dan tersenyum remeh. "Tanpa surat ini kalian tidak akan pernah punya hak atas anakku."

"Sayangnya itu hanya surat yang kami duplikat, sementara yang asli sudah ada dipengadilan. Kamu kalah telak tuan Kenzie," ucap Aran yang masih bisa menahan emosinya.

Kenzie berdiri dan menarik kerah baju Aran. Menatap pria itu dengan tajam. Kenzie yang tidak terima jika anaknya direbut pun langsung memberi bogeman mentah sampai sudut bibirnya sobek.

"JANGAN BERANI-BERANINYA KAMU AMBIL ANAKKU!" teriak Kenzie tepat dihadapannya.

Aran hanya terkekeh mendengar kalimat yang keluar dari mulutnya. "Benarkah dia anakmu? Kalau begitu kenapa kau memperlakukan sesuka hatimu. Dimana rasa empatimu hah!" balasnya sembari menghempaskan tangan Kenzie dari kerah bajunya.

"Yah biarin aja kalau memang mau dibawa sama om Aran dan tante Chika. Hidup kita akan jauh lebih tenang tanpa adanya parasit seperti dia," ucap Zean menimpali.

"KAMU DIAM!" bentaknya.

Cio, Zean dan Christy terkejut. Pertama kalinya mereka dibentak oleh sang ayah. Mereka bingung kenapa Kenzie seolah melarang dan mempertahankannya. Bukankah itu yang mereka inginkan. Sebenarnya apa yang direncanakan Kenzie?

"ADEL PASTI ADA DIRUMAHMU KAN! BIAR SAYA SAJA YANG BAWA DIA PULANG!!" ujar Kenzie yang emosinya masih belum reda dan berlari keluar menuju rumah sebelah.

"TIDAK AKAN KUIZINKAN KAU MASUK RUMAHKU!!" ucap Aran. Dia sudah tidak bisa membendung emosinya, kemudian menyusul orang itu.

Mereka mengejar keduanya, hingga sampai diteras rumah. Ada seorang wanita tua tapi masih terlihat awet muda yang baru saja menampar Kenzie dengan begitu kencangnya.

"Mama.."

"Aran Chika kalian pulanglah. Kenzie biar jadi urusan saya," ucap Ve menatap teduh keduanya.

"Terimakasih sudah datang oma," ucap Chika lalu memeluk wanita itu.

Veranda mengangguk, setelah keduanya pergi lantas menatap tajam Kenzie yang menunduk.

"MASUK!!"

Mereka semua masuk ke dalam, Zean segera berlari kedapur untuk membuatkan minum untuk omanya. Bisa dibilang oma dan opa dari bunda ini jarang berkunjung ke rumah. Keduanya sibuk di luar negeri, dulu waktu Cindy masih ada mereka sering main bahkan bermalam disini. Tetapi setelah beliau meninggal, rutinitas itu seakan lenyap begitu saja.

Meskipun begitu, peran mereka masih ada tapi tidak terlihat dipermukaan. Selain Cindy yang mempercayakan Adel pada Aran dan Chika, ada Veranda yang selalu memantau cucunya melalui keluarga Pratama.

"Oma diminum dulu," ucap Zean.

Veranda mengangguk, kemudian menatap sekeliling rumah ini. Semuanya masih sama seperti dulu, hanya saja suasana rumah yang berubah. Yang harusnya menjadi tempat pulang kini menjadi tempat yang paling dihindari. Tidak ada lagi kenyamanan yang ada hanya penderitaan.

Tidak ada yang mau membuka obrolan terlebih dahulu. Mereka menunduk takut dan masih terkejut karena kedatangan Veranda.

"Seorang ayah harusnya memberi contoh yang baik buat anaknya, bukannya seperti ini," ucap Veranda menatap tajam mereka tanpa terkecuali.

"Jika kamu tidak bisa merubah sikapmu, mama akan bawa Adel ke luar negeri," ucapnya tenang.

Deg

"Enggak, jangan bawa Adel pergi mama. Aku mohon kasih aku kesempatan buat memperbaikinya," ucap Kenzie bersimpuh dihadapan mama mertuanya.

"Kesempatan seperti apa lagi, belasan tahun Adel kamu siksa dan kamu masih belum ada perubahan. Sekarang kamu meminta kesempatan, omonganmu udah nggak bisa mama percaya Kenzie," ucap Veranda tanpa menatap mantunya.

Dia sudah menahan keinginannya dari lama tapi masih tetap memberikannya kesempatan lagi dan lagi. Namun kali ini, dia tidak akan luluh dengan rayuannya. Adel harus ikut dengannya demi keamanan dan kebahagiaannya.

"Kenzie akan mencoba ikhlasin Cindy ma, tapi tolong jangan bawa Adel pergi jauh dariku," ucap Kenzie terisak. Entah benar atau tidak dari kesungguhan hatinya, tapi dadanya sesak saat mamanya ingin membawa Adel pergi.

"Keputusan mama sudah bulat dan mama nggak akan biarin kamu dan kalian untuk bisa bertemu dengan Adel lagi," ucapnya.

Veranda lalu pergi keluar dari rumah yang seperti neraka ini. Berjalan menuju ke rumah sebelah, dia ingin menemui Adel disana. Sudah lama sekali dia tidak bertemu dengannya. Hari ini ingin melepas rindu dan membicarakan suatu hal dengannya.

Tok tok tok...

"Eh oma, ayo masuk"

"Mama.."

Kenzie lah yang memanggilnya dan mengejarnya. Dia memegang kakinya dengan deraian air mata. "Aku mohon sama mama sekali ini aja. Kasih aku kesempatan untuk terakhir kalinya, aku janji akan jadi ayah yang lebih baik lagi. Adel salah satu peninggalan Cindy yang paling berharga buat aku, jangan bawa dia pergi ma.."

"Kamu bilang dia paling berharga, terus apa yang kamu lakukan selama ini. Jika memang berharga harusnya kamu jagain dia bukan malah menggoreskan luka yang paling dalam. Kamu gagal Kenzie kamu gagal! Hiks..hiks.." ucap Veranda yang tak kuat membendung air matanya.

"Oma sabar," ucap Sean yang langsung memeluknya.

Tadi Sean sudah diberitahu bahwa omanya akan datang. Karena mendengar keributan di depan pintu. Akhirnya Sean, Anin dan Aran melihat ada keributan apa disana.
.
.
.
Adel yang sedang dikamar pun terusik karena mendengar keributan dibawah. Dia pun membangunkan Ferrel yang juga tertidur disampingnya.

"Rel bangun buruan elah.. Kalo lo lama gue jalan sendiri aja ke bawah," ucap Adel.

"Iya iya gue udah bangun nih, huaammm.." balasnya sambil menguap.

Sebenarnya dia masih sangat ngantuk tapi mendengar Adel bakalan turun sendiri pun akhirnya memutuskan untuk bangun. Daripada Adel kenapa-kenapa kan bahaya.

Tbc.

Kalau selesai bakalan double up tapi kalo enggak gua upload besoknya...

Jangan lupa vote dan komen
See you next chapter!

TAKDIR?! | END✅Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang