|3| Ketemu Bunda

4.1K 351 9
                                        

Lanjut lagi. Selamat Membaca!
|

|

|

|

Selang 5 menit berlalu, Adel keluar dan duduk di tepi kasur. Ferrel memberikan sepiring nasi dan lele goreng kesukaannya. Kemudian meraih kotak p3k untuk mengobati lukanya.

"Dimakan Del, jangan diam aja"

"Lo gak mau ikutan sekalian gitu?"

"Gue udah tadi di rumah," ucapnya bohong.

"ADELL!"

Itu suara ayahnya, dia sangat ketakutan. Tubuhnya aja belum mendingan, itu yang ada dia pikirkan. "Tenang, tadi gue udah bilang mama buat bawa lo sampai besok," ucap Ferrel, seenggaknya bisa bikin Adel gak setakut tadi.

"Udah sana turun, gue balik ya lewat balkon lagi," sambungnya, diangguki oleh Adel.

Adel pun turun perlahan, tenaganya masih belum pulih sepenuhnya. Ia menghampiri sang ayah di ruang tamu. Yang dikatakan Ferrel benar, disana ada tante Chika yang tengah tersenyum kearahnya. Adel langsung menyalaminya dan duduk di sebelahnya.

"K-kenapa yah?" tanya Adel menunduk takut.

"Kamu mau diajak tante Chika sekarang, ingat lusa harus udah di rumah," ucap Kenzie enggan melihat ke arah anaknya. Saat melihat Adel dia akan teringat dengan istrinya, wajah mereka sangatlah mirip. Kenzie langsung pergi meninggalkan mereka berdua disana.

Adel beralih menatap Chika, "makasih udah menyelamatkan Adel hari ini."

"Sama-sama. Baju kamu masih banyak di rumah tante, kalo mau ambil sesuatu tante tunggu disini," ucap Chika senyum seraya mengusap rambutnya.

"Adel ke atas bentar ya," ucapnya lalu berlari ke kamarnya.

Mengambil HP dan foto bundanya, kemanapun Adel pergi foto itu selalu dia bawa. Ia seperti melihat sekelebat orang yang baru saja keluar dari kamarnya. Namun dirinya gak ingin ambil pusing. Dirinya pun turun menemui Chika lagi.

"Udah cuma itu aja?" tanyanya, Adel hanya mengangguk.

Chika menggandeng tangan Adel lalu keluar dari rumah itu. Saat sampai di pekarangan rumahnya, di depan pintu utama sudah ditunggu Ferrel dengan senyum khas miliknya.

"Ayok lo tadi belum selesai makan," ucapnya menggendong Adel ala koala ke meja makan. Sang empu hanya bisa pasrah aja. Chika yang melihat hanya tersenyum dan geleng-geleng.

"Cuma ini yang bisa gue lakuin kak, semoga lo tenang disana. Gue sekeluarga akan jagain Adel," batinnya.

Di meja makan, Adel melanjutkan makan yang tertunda tadi. Ferrel sendiri hanya melamun memperhatikan sahabatnya. Makanannya hanya diaduk-aduk doang. Sebenarnya ia belum lapar tapi dipaksa. Dirinya merasa bahagia bisa melihat Adel setenang ini, jika di rumahnya dia akan terlihat sangat tertekan.

"Rel kebiasaan banget sih lo, kenapa sih suka banget ngelihatin gue sambil ngelamun gitu.." ucap Adel menyentuh lengannya.

"H-hah s-suka aja..." balas Ferrel gugup lalu menyantap makanannya.

Usai makan, keduanya dipanggil Chika ke ruang santai. Nonton bareng, hal yang sangat ingin Adel lakukan bersama keluarganya. Sayangnya yang punya kuasa itu hanyalah Christy, adiknya.

Christy sangatlah dimanjakan oleh ayah dan abangnya. Dulu dirinya juga mendapatkan perhatian yang serupa. Setelah bunda pergi, semuanya berubah. Bersyukur dirinya masih ditampung di rumah itu. Meski ia gak menjamin keselamatan dirinya sendiri.

Back to topik...

"Tante.."

"Kenapa sayang kamu perlu sesuatu, hm?" tanya Chika mengusap surai rambutnya.

"Ngomong aja Del selagi kita bisa, gue akan kabulin apapun yang lo mau," ucap Ferrel menggenggam kedua tangannya.

"Jangan nunduk ratu gak pantas menjatuhkan mahkotanya," sambungnya menarik dagunya agar bisa menatap dirinya. Chika dan Ferrel dikejutkan deraian air mata yang bercucuran, Adel menangis dalam diam.

"Del gue salah ngomong ya, gue minta maaf," katanya sendu sembari mengusap air matanya.

"A-adel boleh peluk tante, kangen bunda.."

Chika langsung menariknya kedalam dekapannya. Seketika tangis Adel semakin pecah. Gumaman pelan itu masih bisa didengar ibu dan anak itu.

"Bunda kenapa ninggalin Adel dengan beban sebesar ini, hiks.."

"Bunda udah gak sayang lagi ya.."

"Bunda jemput Adel biar bisa sama-sama terus, hiks.."

Suara itu senyap, pelukannya juga mengendur. Chika melihat ke Adel, dia ketiduran pasti karena kecapean terlalu lama menangis. Terkadang masih terdengar isakan isakan kecil dari bibirnya.

"Pindahin dia ke kamarnya biar istirahat," titahnya.

Ferrel menggendong Adel ala bridal style. Sahabatnya ini punya kamar sendiri di rumah ini. Menidurkan Adel dengan pelan lalu menyelimutinya. Ia mengusap pipinya lembut dan mengecup keningnya menyalurkan kehangatan.

"Jangan ikut bunda dulu ya, gue pasti kesepian gak ada lo, istirahat aja gue mau ke kamar. Selamat tidur tuan putri," ucapnya membuat dirinya tersenyum malu sendiri.

Langit jingga telah digantikan dengan gelapnya malam. Di rumah ini semua orang tengah berkumpul di meja makan. Menyantap masakan yang dimasak Chika dengan sangat nikmat tiada tara.

"Lo harus makan yang banyak," ucap Ferrel, menambahkan nasi dan lauk ke piring sahabatnya.

"Rel gue udah kenyang," rengeknya.

"Lo makan dulu kalo gak habis biar gue yang habisin," ujar Ferrel.

"Bener ya. Btw, besok lo mau nemenin gue gak?"

"Kemana?"

"Ketemu bunda.."

"Siap tuan putri, pagi aja ya. Soalnya kita kan mau belajar buat olim," ujar Ferrel mengingatkan dibalas anggukan olehnya.

"Kapan? Kita mau ikut nonton dong," ujar Aran antusias.

"Minggu depan pa," jawab Ferrel.

Sementara di rumah sebelah, mereka semua juga sedang melaksanakan makan malam bersama.

"Dimana si pembunuh itu?" tanya Zean.

"Ngapain juga nyariin si anak pembawa sial itu sih," ucap Cio seakan tidak suka, bahkan dia sangat membencinya.

"Mending kalian lanjut makan gak usah bahas dia," lerai Sean, entah kenapa hatinya seakan tidak suka dengan perkataan adik-adiknya.

"Yah, uang jajanku tinggal sedikit bisa gak transfer lagi. Sekalian malam ini aku mau izin keluar sama teman-teman," ujar Christy.

"Apapun untuk putri kecil ayah yang penting kamu bahagia. Emang mau pergi kemana sih dek?" ucap Kenzie diakhir pertanyaan.

"Cuma mau kumpul sama teman aja kok, bolehkan yah?" jawabnya sembari mengeluarkan puppy eyes andalannya.

"Huh iyaa," balas Kenzie mengalah.

Sean yang udah selesai makan langsung berlalu dari sana. Dia jengah melihat drama yang diciptakan oleh si bungsu. Terkadang ia juga menaruh curiga pada gadis itu. Dirinya cukup penasaran dengannya yang keluar di malam minggu seperti ini. Ia pernah memergoki dirinya pulang larut malam. Sebenarnya apa yang dia lakukan?

TBC.

Huhuhu...
Gapapa kok udah biasa ditinggalin...
Sedih banget tiba-tiba ngumumin grad😭
Habis ini siapa lagi yang mau ninggalin aku?...

100 vote bakalan ku lanjutin
See you next chapter!

TAKDIR?! | END✅Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang