Selamat Membaca!
|
•
|
•
|
"Tenang, dek. Kamu pasti akan baik-baik saja," ucap Sean senyum.
Christy menghela napas berat lalu mengangguk pelan. Matanya menatap Sean dengan rasa bersalah yang terpancar jelas. Pandangannya kemudian beralih ke arah lain, tak sanggup menatap mata abangnya terlalu lama.
Air matanya mengalir begitu saja tanpa bisa dia tahan. Dadanya terasa sesak menahan tangis yang tak terbendung. Christy mencengkram dan memukul-mukul perutnya sendiri. Rintihan kesakitan terlontar dari bibir mungilnya, tak henti-hentinya dia meringis.
"Stop jangan dipukul terus nanti tambah sakit," ujar Sean menghentikan tangan adiknya.
"Perut kamu sakit lagi?" tanya Anin lalu mendekat dan hanya dibalas gelengan.
"Mual lagi?" Christy kembali menggeleng.
"Udah ya jangan nangis terus, kalau kamu butuh sesuatu ngomong aja," ucap Anin mengusap air matanya perlahan.
Ceklek...
Pintu ruangan terbuka, Keenan datang sembari menenteng sebuah kantong plastik berisi makanan. Ia melangkah masuk lalu meletakkan kantong plastik itu di samping brankar. Dengan telaten ia mengeluarkan isi kantong plastik tersebut dan menata makanan ke dalam piring.
"Kamu makan dulu saya suapin." Christy menggeleng. "Sebenarnya ini bukan tugas saya tapi karena Adel yang minta jadi mau tidak mau saya harus ngelakuin." Gadis itu terdiam sejenak lalu mengangguk.
"Bisa tinggalin kami berdua sebentar, saya ingin berbicara dengannya, atas permintaan dari Adel." Keenan menyampaikan keinginan Adel. Mereka pun langsung berdiri dan berjalan keluar.
"Abang keluar sebentar," izin Sean pada adiknya lalu keluar ruangan.
"Kakak bilang apa?" tanya Christy yang akhirnya mau ngomong.
"Maaf saya hanya berbohong, Adel sama sekali tidak menghubungi saya. Bahkan dia tidak tau kalau kamu sedang dirawat," balas Keenan jujur sembari menyuapi Christy agar perutnya terisi.
"Siapa yang melakukannya?"
Bukannya menjawab, gadis itu kembali menangis. Keenan yang merasa kasihan, lalu membawanya masuk dalam dekapannya. Dengan lembut, ia mengusap punggungnya berusaha menenangkannya. Kehangatan tubuh Keenan dan sentuhan lembutnya perlahan-lahan meredakan tangis gadis itu, memberikan sedikit ketenangan di tengah kesedihan yang mendalam.
"Hanya ada saya disini, katakan dia siapa?"
.
.
.
Keesokan harinya, di rumah Kenzie, suasana pagi terasa berbeda. Bibi yang baru kembali bekerja pagi ini, tertegun menatap 3 pria yang sedang menikmati sarapan di meja makan. Aura mereka tidak seperti biasanya. Dan kedua putri dari majikannya juga tidak terlihat di mana pun. Rasa penasaran membuncah dalam hatinya. Kemana perginya mereka? Dan apa yang telah terjadi selama dirinya tidak bekerja?
Usai sarapan, Kenzie pergi ke kamar tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Kepalanya terasa berat sebelah, dipenuhi oleh pikiran yang tak kunjung berhenti. Ia rebahan di kasur, berharap rasa pusing itu berkurang. Namun, alih-alih mereda, rasa pusingnya malah semakin menjadi. Suara-suara yang sering bermunculan di kepalanya semakin banyak, membuat kepalanya semakin berputar.
"Argghhh stop pergii!"
"Jangan ganggu aku, pergi! pergi!" Kenzie berteriak histeris mengusir suara-suara itu.
"Kamu ayah yang buruk Kenzie"
"Akan kubawa Adel ke alamku hahaha"
"Jangan, jangan bawa putriku!"
"Akhhh tidak ada yang boleh membawa putriku!"
Kenzie mengamuk, amarahnya meledak dalam bentuk penyesalan. Kenapa dia bisa setega itu dengan darah dagingnya sendiri? Dia membanting barang-barang di kamarnya dengan kasar, matanya merah padam, air mata mengalir deras membasahi pipinya. Napasnya tersengal-sengal, tubuhnya gemetar hebat. Suara-suara aneh yang bergema di kepalanya semakin keras, membuatnya kewalahan hingga akhirnya dia jatuh pingsan, tak sadarkan diri.
.
.
.
Di lain sisi, Cio duduk di taman belakang, tubuhnya lemas dan pikirannya melayang. Tatapan matanya kosong, seakan terpaku pada sesuatu yang tak terlihat. Meskipun begitu, di dalam kepalanya, gambaran saat dia menyiksa Adel berputar-putar seperti rekaman yang terus diulang. Bayangan Adel yang tersiksa, jeritannya, dan raut wajahnya yang penuh keputusasaan terus menghantuinya.
Rasa bersalah itu semakin menyeruak di hatinya, menggerogoti jiwanya hingga tak tersisa. Andai waktu bisa diputar kembali, dia tak akan pernah mau menjadi seperti ini. Dia, seorang abang yang seharusnya menjadi contoh bagi adik-adiknya, malah menjelma menjadi monster yang selalu menyakiti kedua adik perempuannya.
Kecewa, sakit hati, dan amarah yang terpendam dalam diri adalah bukti nyata dari kegagalannya sebagai sosok abang. Dia ingin merubah semuanya, ingin menghapus luka yang telah dia torehkan, tapi rasa bersalah itu terus menghantuinya, membuatnya terjebak dalam lingkaran penyesalan yang tak berujung.
Tak jauh dari Cio yang termenung, Zean memperhatikan dari kejauhan. Rasa sesal memenuhi hatinya. Dia menyadari bahwa perkataannya yang pedas telah melukai Adel, membuat mental gadis itu terguncang. Zean menyesali sikapnya yang kasar dan terburu-buru, menyadari bahwa kata-kata bisa menjadi senjata yang tajam, melukai lebih dalam daripada yang dia sadari.
Berbicara tentang Christy, hubungan mereka bisa dibilang dekat, namun Zean kerap kali bersikap acuh atau mengabaikannya. Dunianya seakan hanya dipenuhi oleh kuliah dan keluyuran setiap malam. Dia lebih sering menghabiskan waktu di luar, seolah-olah Christy hanya menjadi pelengkap dalam hidupnya, bukan prioritas utama.
Kemudian, Zean meninggalkan rumah dengan mobil kesayangannya. Kemana tujuannya, tak seorang pun tahu. Dia pergi tanpa pamit, meninggalkan bibi yang sedang menyirami tanaman di depan rumah dalam kebingungan. Kenapa dengan mereka pagi ini, terlihat suram dan aneh. Seolah-olah ada awan mendung yang menyelimuti suasana rumah, membuat bibi bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi.
.
.
.
Kembali ke rumah sakit...
Pagi ini, Christy hanya ditemani oleh Sean dan Anin di rumah sakit. Keduanya memutuskan untuk membawa pekerjaan mereka ke sana daripada meninggalkan si bungsu sendirian. Beberapa menit kemudian, pintu ruangan terbuka dan Keenan muncul dengan membawa kresek berisi makanan. Sean dan Anin, yang sudah paham dengan maksud kedatangan Keenan, pun pamit pergi ke kantin, meninggalkan Christy dan Keenan berdua di ruangan itu.
"Abang sama kak Anin cari makan dulu ya. Kamu disini ditemani dokter Keenan, pasti dia mau nyampein sesuatu," ucap Sean sambil mengecup kening Christy dan Anin pun melakukan hal yang sama. Setelah itu, keduanya berpamitan dan keluar ruangan.
"Ini saya bawakan makanan yang kamu minta semalam. Makan sendiri atau mau saya suapin," ucap Keenan tersenyum jail.
"Emang boleh?" tanya Christy bingung.
"Boleh dong, makan yang banyak biar cepat sembuh. Habis itu saya mau ngobrol serius sama kamu," jawab Keenan sambil menyuapi gadis itu.
"Ngobrol apa? Aku gak mau kalo bahas itu," ucap Christy cemberut.
TBC.
Jangan lupa vote dan komen
See you next chapter!
KAMU SEDANG MEMBACA
TAKDIR?! | END✅
Ficção Adolescente"Suatu saat nanti jika aku udah gak bisa bertahan lebih lama, bunda tolong jemput aku ya" Natasha Adelia Hapsari. Start: 25 Mei 2024 End: 04 September 2024 *** #1 in adeljkt48 (12-09-2024) #3 in ferrel (12-02-2025) #2 in kenzie (15-02-2025) #1 in se...
