|16| Kematian Selalu Mengiringiku

3.1K 255 8
                                        

Setelah dibaringkan di kasur, Chika dan Anin dengan sigap mengganti pakaian Adel dengan yang kering. Kemudian menyelimutinya sebatas dada. Lalu keduanya keluar buat ganti baju. Sean dan Ferrel masuk kamar untuk menjaga Adel. Mereka berdua sudah ganti dengan Sean yang meminjam baju Aran, karena jika pakai baju Ferrel sudah pasti tidak akan muat. Mengingat badannya jauh lebih besar.

"Abang nggak khawatir dengan Christy tadi kan dia juga pingsan?" tanya Ferrel mengutarakan perasaan mengganjalnya.

"Engga, lagipula udah ada ayah di rumah," balas Sean seakan tidak peduli. "Abang gak yakin kalo dia beneran pingsan."

"Maksudnya?" Sean mengangkat bahunya acuh.

Aran berdiri diambang pintu kamar. "Sean kamu turun, saya mau bicara ini penting," ujarnya lalu pergi.

"Titip Adel ya, abang ke bawah dulu," ucap Sean sembari menatap Ferrel.

"Jangan khawatir aku pasti jagain kok," balas Ferrel yang menangkap kekhawatiran darinya.

Sebelum turun dia sempat mengecup kening Adel terlebih dahulu habis itu baru dia turun. Saat di sofa ruang tamu sudah ada Chika dan Anin di sana. Seakan paham apa yang ingin disampaikan oleh Aran yang sedari tadi tengah menatapnya.

"Om cuma mau memastikan kalau berkas ini jadi diberikan pada pak Kenzie," ujar Aran sembari meletakkan berkas itu di atas meja.

"Silahkan, hujan juga sudah reda dan ayah juga sudah ada di rumah. Kalau om dan tante mau menyerahkan berkas ini sekarang juga gak papa. Sean percaya sama om dan tante bakal rawat Adel dengan baik. Sean boleh minta satu hal?" ujarnya menatap keduanya bergantian.

"Kamu mau minta apa?" tanya Chika.

"Boleh nggak kalau Sean datang kesini buat ketemu sama Adel," ucapnya.

Aran dan Chika tersenyum senang. "Tentu boleh, dia kan adik kamu. Kami tak akan membatasi kalian buat bertemu. Anggap saja ini juga rumah kamu, kalau mau anggap kami orang tua juga boleh kok. Jadi jangan sungkan sungkan ya," ucap Aran langsung membawa Sean kedalam dekapannya.

"Makasih om," lirihnya.

Anin hanya memperhatikan sambil tersenyum. Seenggaknya masih banyak yang sayang pada Adel meskipun diluar dari keluarga. Chika melihat perempuan disampingnya tersenyum ikut memeluknya dengan erat. Sampai sang empu terkejut dibuatnya.

"Eh tan.."

"Daripada lihatin mereka, jadinya tante peluk kamu juga," ucap Chika membelai rambutnya.

Setelah puas berpelukan, mereka mengobrol banyak hal. Mengenai perusahaan dan kemungkinan besar antara Sean dan Aran akan menjalin kerjasama. Untuk mengembangkan perusahaan agar semakin naik. Hingga sore pun tiba, Chika dan Anin menyiapkan makan malam.

Dikamar Adel, setelah sadar dari pingsannya. Mereka berdua saling bertukar cerita. Adel juga meminta Ferrel membantunya buat belajar berjalan. Dia memaksa agar bisa jalan secepat. Dia merasa sudah cukup merepotkan yang lain hanya karna mengurus dirinya.

"Pelan-pelan aja Del kamu pasti bisa," ucap Ferrel menuntunnya perlahan.

Langkah demi langkah kakinya mulai terbiasa. Meskipun masih sering terjatuh tapi Adel tetap semangat. Dia yakin pasti bisa seperti sediakala. Tinggal prosesnya saja, berdoa sudah pasti.

Ceklek

"Sayang makan malam dulu yuk, besok lagi latihannya," ujar Chika pada Ferrel dan Adel yang sedang menatap kearahnya.

"Mama duluan aja nanti kita nyusul," ucap Ferrel.

"Yaudah jangan lama-lama," balas Chika lalu pergi meninggalkan kamar itu.

"Ayo gua bantu dikursi roda lagi," ujar Ferrel.

Adel menolak, "Gua mau jalan aja, bantuin ya pleaseeee Rel.."

"Huft, oke tapi harus lewat lift ya. Tapi kalo udah gak kuat jangan dipaksain," kata Ferrel mengalah dan menuruti keinginannya.

"Makasih lo selalu bantu gue dalam keadaan apapun. Maaf belum bisa bales semua yang pernah lo lakuin buat gue," ucap Adel menunduk.

Ferrel langsung menangkup pipinya agar menatap dirinya. "Ssttt mending sekarang kita turun, kasian yang lain udah pada nungguin," ucapnya sembari membantu Adel berjalan pelan. "Cukup lo bales perasaan gue, tapi kayaknya itu nggak mungkin," lanjutnya dalam hati.

Mereka berdua masuk ke dalam lift dan menekan angka 1. Hanya dengan hitungan detik pintu kembali terbuka. Berjalan pelan ke arah meja makan.

"Dek kok nggak pake kursi rodanya," ujar Sean menatap khawatir pada adiknya. Dia pun mendekat dan membantu memapahnya dengan pelan.

"Adel nggak papa kok, kalo engga dicoba takutnya nanti makin kaku," balasnya lalu duduk di samping calon kakak iparnya.

Mereka pun mulai melahap makanannya kecuali Adel yang masih diam saja. Anin yang menyadari lantas menoleh ke samping.

"Kok nggak dimakan?" tanya Anin menyudahi sesi makanannya.

"Suapiinnn.."

"Gemesin banget deh, yaudah kakak aja yang suapin kamu," ujar Anin tersenyum senang. Hal yang ingin dia dapetin kalau punya adik. Karena dia anak tunggal jadi sering kali kesepian kalo tinggal di rumah.

Usai makan malam mereka berkumpul di ruang tengah sambil santai. Adel bersandar di bahu Ferrel yang tak henti-hentinya mengusap kepalanya dengan lembut. Sean dan Anin yang tak lepas dari keduanya. Sementara Chika dan Aran pergi ke rumah sebelah.

"Abang dan kakak kapan nikah?" tanya Adel tanpa menatap keduanya.

Sean dan Anin matanya membulat lalu saling memandang satu sama lain. "Kenapa tiba-tiba tanya soal nikah?"

"Ya nggak papa, nanti kalo kelamaan takutnya kak Anin melipir cari yang lain karna abang nggak ngasih kejelasan," jawab Adel. "Takutnya nanti aku nggak bisa lihat abang menikah dan bahagia dengan pasangannya. Aku juga sadar kematian sudah sangat dekat denganku," lanjutnya didalam hati.

"Nanti abang pikirin lagi," balas Sean seolah menyanggupi keinginan adiknya.

"Kok matanya berkaca-kaca kenapa? Ada yang sakit?" tanya Anin.

"E-enggak a-aku ngantuk aja," balas Adel gugup. "Rel temenin gue ke kamar dong," ucapnya.

"Yaudah ayo, gue gendong aja. Jangan protes gue gak mau kaki lo makin parah," kata Ferrel lalu menggendong Adel ala bridal style ke kamar.
.
.
.
Tok tok tok..

Pintu rumah dibuka oleh anak kedua, yakni Cio. Yang kebetulan sudah ada dirumah.

"Pak Kenzienya ada?" tanya Aran.

"Ada om, silahkan masuk saya panggilkan dulu," ucap Cio lalu pergi ke kamar atas.

"Siapa bang?" tanya Zean yang baru keluar dari kamarnya.

"Om Aran sama tante Chika mau ketemu sama ayah," balas Cio. "Tolong kamu bikinin minum ya buat mereka berdua, abang mau panggil ayah dulu," lanjutnya dan diangguki Zean.

Zean pun pergi ke dapur, tanpa bertanya dulu mereka mau minum apa. Setelah selesai membuat minuman dia pun ke ruang tamu untuk menyuguhkan minuman tersebut.

"Silahkan diminum om dan tante," ucap Zean lalu duduk disana.

"Makasih jadi ngerepotin," ucap Chika tersenyum.

"Nggak ngerepotin kok tan," balas Zean.

Keheningan tercipta beberapa saat, hingga Kenzie dan kedua anaknya turun bersamaan. Mereka duduk lalu menatap tamunya.

"Ada keperluan apa datang menemui saya malam-malam begini?" tanya Kenzie pada intinya.

Tbc.

Shengg nanti kalo enggak selesai triple up berarti ikut sama part selanjutnya ya. Maksudnya douple up yang hari berikutnya.

Jangan lupa vote dan komen
See you next chapter!

TAKDIR?! | END✅Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang