|28| Kejutan Beruntun

2.8K 188 1
                                        

Selamat Membaca!
.
.
.
.
.

Zico mengkode sahabatnya untuk menyerang Adel. Hingga pertarungan pun terjadi 3 lawan 1. Tenaga yang dimiliki Adel semakin menipis. Pukulan keras di perutnya membuatnya terjatuh sampai mengeluarkan darah segar dari mulutnya.

Christy yang melihat itu, ingin sekali menolong. Tapi Adel menggeleng dengan sisa tenaganya.
"Pergi dari sini, selamatkan dirimu. Kamu lebih berharga uhuk uhuk..." ucap Adel terbatuk batuk.

"Bertahan kak, aku akan cari bantuin buat nolongin kakak," ucap Christy lalu berlari keluar dari gedung itu.

Tawa mereka pecah menyaksikan 2 orang yang tidak pernah akur satu sama lain. Adel hanya bisa menatap lemah mereka semua. Hanya untuk berdiri pun dirinya tidak mampu. Tubuhnya digotong ke ranjang. Dengan sisa tenaganya berusaha melawan meski tidak berhasil.

Cowo bernama Kevin merobek baju Adel dan menyentuh tubuhnya. Adel hanya bisa pasrah sekarang ini. Ia terus memejamkan matanya sembari menahan rasa sakit yang kian menggerogoti tubuhnya.

"Sa-sakit Rel, tolong!" batin Adel, hanya nama itu yang dia ingat.

Kini tubuh Adel sudah tidak tertutup sehelai benang pun. Mereka sedang menikmati tubuh Adel yang sudah tidak berdaya. Pintu ruangan dibuka dengan paksa oleh seseorang.

Brakk!

"Kurang ajar!" ucapnya lalu menghajarnya dengan membabi buta.

Anin segera menghampiri Adel dan menutupi tubuhnya dengan kain. Ia mencoba membangunkannya, namun responnya sangat lemah. Christy mengguncang tubuh kakaknya dengan derai air mata. Mencoba membuat kakaknya tetap sadar.

"Kakak dengar suaraku.." ucap Christy lirih.

"Kamu gak ada yang luka kan," ucap Adel kesusahan buat bicara. Disaat seperti ini, dia masih mementingkan orang lain daripada dirinya sendiri.

"Harusnya aku yang bertanya bukan kakak," balas Christy cepat sembari menyeka air matanya.

"Kakak gak papa, yang penting itu kamu," ucap Adel dengan senyum tulusnya.

"Ferrel cepat bawa Adel ke mobil, dia butuh penanganan segera," teriak Anin.

Ferrel dengan sigap membopong tubuh Adel. Membiarkan keempat orang itu tergeletak, entah bagaimana kondisinya sekarang. Tapi cowo bernama Ega kesadarannya belum sepenuhnya hilang, dia mengulurkan kakinya disaat Christy ingin berlari, hingga gadis itu terjatuh. Seketika Ega tidak sadarkan diri setelah mendapat tendangan keras di kepalanya. Perut Christy terbentur ujung ranjang sangat keras, darah keluar dari selangkangannya.

"Akhh.. Sa-sakit..."

"Sean buruan jangan ngelamun!" teriak Anin, saat melihat darah itu.

Sean segera membopong tubuh Christy yang tak sadarkan diri. Tetap terbayang darah yang mengalir dari kaki adiknya. Setelah mereka pergi, sekelompok polisi tiba untuk menangani kejadian yang terjadi.

Skip rumah sakit...

Adel dan Christy dimasukkan kedalam ruang ICU. Keduanya sedang ditangani oleh dokter. Sementara diluar, sudah ada banyak orang yang menunggu, termasuk keluarga, oma dan opa memutuskan untuk ikut Ferrel pulang ke Indonesia.

"Kenapa lama banget sih.." gerutu Ferrel dengan cemas. "Aku takut kak," ujarnya pada Anin.

"Dia udah ambil keputusan Rel," bisik Anin lirih.

Tidak lama kemudian, pintu dibuka oleh Keenan. Dia melihat ekspresi wajah yang penuh kekhawatiran di hadapannya.

"Bagaimana keadaan Christy dan Adel dok?" tanya Kenzie menghampiri dokter itu.

"Ada kabar baik dan buruk untuk Christy," ucap Keenan menghela nafas sejenak. "Kabar buruknya, bayi yang ada dikandungnya mengalami keguguran akibat perutnya terbentur benda keras.."

"Ba-bayi..?" kaget mereka, kecuali Anin.

"Iya. Kabar baiknya, Christy telah selesai menjalankan operasi transplantasi tulang sumsum belakang. Apa kalian tidak tau jika dia mengidap penyakit leukemia stadium awal?" tanya Keenan.

Deg

Mereka kembali terkejut dengan fakta yang baru saja terungkap, Christy mengidap penyakit mematikan dan telah menyembunyikan kondisinya selama ini. Mereka merasa tidak pantas disebut sebagai keluarga, kecuali Anin dan Ferrel yang sudah tau karena diberitahu oleh Adel.

"Si-siapa yang donorin?" tanya Sean, jantungnya berdegup kencang.

"Adel"

Lagi-lagi mereka terkejut. Dari kejauhan terdengar suara roda brankar berputar, didorong dengan tergesa-gesa.

"Dokter pasien jantungnya kambuh," ucap Suster.

"Flo lo harus bertahan, kita mau main bareng nanti," ujar Ferrel, saat tau itu temannya.

"Ti-titip s-sa-lam bu-at A-adel.." ucap Floran kesusahan saat ngomong.

Suasana kembali tegang. Mereka merasa cemas dan khawatir di sana. Bahkan kondisi Adel masih belum diketahui dengan pasti.

Mereka menunggu di depan ruangan ICU selama sekitar 3 jam. Perasaan cemas, khawatir, dan takut bercampur aduk di dalam hati mereka. Pintu kembali terbuka, dan seorang dokter lain keluar dari dalamnya.

"Dengan keluarga Floran.."

"Iya dok, saya orang tuanya. Gimana keadaannya, anak saya baik-baik aja kan dok?" tanya papanya Floran.

"Alhamdulillah pasien telah melewati masa kritisnya. Kabar baiknya ada seseorang yang mendonorkan jantungnya untuk putra bapak," ucap dokter tersebut.

"Siapa orangnya, saya ingin bertemu dan mengucapkan terimakasih," ucap papa Floran.

"Mohon maaf, saya tidak bisa memberitahu identitas orang tersebut karena beliau tidak mengizinkan," balas dokter itu.

"Tolong sampaikan ucapan terimakasih padanya," pinta mama Floran dengan raut wajah bahagia.

"Tentu nanti saya sampaikan, ada lagi yang mau ditanyakan," ucap sang dokter.

"Pasien bernama Adel gimana keadaannya dok?" tanya Cio khawatir.

"Mohon maaf itu buka wewenang saya untuk menjelaskan, tunggu saja dokter Keenan beliau yang lebih paham. Kalau begitu saya permisi kedalam lagi," ucap si dokter kembali masuk ke ruangan, memantau perkembangan pasiennya.

Beberapa menit kemudian...

Keenan keluar dengan raut yang sulit diartikan. "Anin kamu dipanggil Adel," ucapnya.

"Kak aku ikut.." rengek Ferrel.

"Cukup Anin saja, kamu bisa nanti gantian," sahut Keenan. Mendapat penolakan Ferrel menjadi murung.

Anin merasa kasihan terhadap Ferrel, namun merasa tidak bisa berbuat banyak. Ia mengusap punggung Ferrel perlahan, kemudian bertatapan dengan Sean yang mengangguk. Setelah itu, Anin masuk ke dalam ruangan tersebut.

Saat pertama kali melihatnya, tubuh Adel dipenuhi dengan alat penopang hidup. Air matanya mengalir tanpa terkendali. Anin mendekat perlahan karena Adel sedang tertidur dengan mata terpejam.

Anin duduk disamping brankarnya, "Dek.." Adel membuka matanya dan menatap sayu ke arah kakaknya.

"Kamu hebat kamu kuat dek, hiks.." ucap Anin menangis sesegukan.

"Ja-jangan na-nangis kak.." Tangannya terulur untuk menghapus air mata Anin yang sedang menatapnya.

"Boleh Adel minta permintaan terakhir," ucapnya terbata-bata dan Anin langsung mengangguk meski air matanya tetap saja terus mengalir.

Tbc.

Jangan lupa vote dan komen
See you next chapter!

TAKDIR?! | END✅Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang