|13| FreFlo Tertolak

3.2K 268 16
                                        

"Kapan pulang?" tanya Adel.

"Gak tau, kayaknya masih lama sih"

Seketika keheningan memenuhi seisi ruangan itu. Mereka memandang lurus kearah langit-langit.

"Del.." ucap Floran memecahkan keheningan.

"Emmm..."

"Kamu pernah mikir nggak sih, kenapa kita dikasih penyakit kayak gini, apa dosa kita terlalu besar ya dimasa lalu," ucap Floran tanpa mengalihkan pandangannya.

"Kamu pernah nyalahin Tuhan nggak kenapa kita diberi cobaan ini?" ucapnya kembali.

"Del, aku pernah berfikir dunia nggak adil. Aku mikir Tuhan itu jahat, kadang aku pengen nyerah waktu rasa sakit ini nyerang, nggak usah ngomong narik nafas aja aku kesusahan, kadang aku mikir kenapa nggak Tuhan langsung cabut nyawa aku aja,"

"Aku kasihan lihat mami kalau aku lagi kambuh, mami histeris banget, kadang sampe lemas nggak bisa berdiri, pernah waktu itu mami sampe pingsan lihat aku kambuh, kakakku sampe bingung mau nolongin siapa, karena cuman ada kami bertiga, papi sama abangku lagi kerja,"

"Del.. Kalau aku pergi duluan kamu ikhlas kan?"

Setitik air mata jatuh disudut mata Floran sedangkan pandangannya tetap memandang lurus kearah langit-langit. Bisa saja sewaktu-waktu dia harus eninggalkan cinta pertamanya, siapa lagi kalau bukan Adel. Dia pernah beberapa kali menyatakan perasaannya tapi selalu ditolak dengan alasan yang tidak tau pastinya. Mungkin karena Ferrel itu yang ada dipikirannya. Berbeda dengan Adel yang memandang Floran dalam diam.

Disisi lain, Anin yang dari tadi mendengar pembicaraan Floran dan Adel. Hanya menutup mulutnya dengan tangan, takut suara tangis keluar begitu saja dari mulutnya. Air matanya pun sudah membanjiri pipinya. Anin yang baru mengenal Floran tidak menyangka memiliki nasib yang sama tetapi sedikit berbeda.

"Ada jaminan kamu pergi duluan?" ucap Adel yang membuat Floran seketika menoleh kearahnya.

"Emang kamu tau apa yang ada dipikiranku," ucapnya lagi dan Floran masih menatapnya sambil menggeleng.

"Kamu pikir aku nerima nerima aja nasibku seperti ini. Kamu pikir aku nggak ngeluh dengan takdirku yang kayak gini,"

"Enggak Flo! Terus aku harus teriak-teriak ke semua dokter buat nyembuhin aku, atau duduk dipinggir jalan sambil nangis-nangis biar penyakitku hilang, enggak juga!"

"Harusnya kamu bersyukur masih punya orang tua, abang dan kakak yang sangat amat menyayangimu. Sedangkan aku, keluargaku hancur Flo itu karna siapa? Itu karena ulahku, seandainya bunda gak ngelahirin anak pembawa sial sepertiku semua ini gak akan pernah terjadi,"

"Aku nggak akan ngerasain sesakit ini. Kamu nggak ngerasain jadi aku Flo, nggak hanya fisik, batin aku juga sakit. Tiap hari harus dengerin hinaan dan caci maki mereka, aku juga bisa capek. Setiap kali aku ingin menyerah, wajah mereka terlintas, aku masih ingin bisa makan bareng sama ayah, mau dimanja abang-abangku, main sama adekku. Aku masih ingin mendapatkan hal itu sebelum pergi," ucap Adel tak terasa air matanya seketika jatuh. Floran yang mendengar hanya mampu diam.

Keheningan seketika menyelimuti Adel dan Floran kembali. Pandangan mereka tetap pada langit-langit. Adel membuka suara...

"Flo aku ada permintaan, kamu mau turuti nggak," ucap Adel ragu. Floran langsung menoleh kearahnya dan mengerutkan dahinya.

"Nanti kalau kita udah boleh pulang. Sekali-kali main yuk bertiga sama Ferrel juga."

"Ckk, Ferrel aja diingat giliran aku dilupain. Kenapa sih gak pernah mau nerima perasaanku. Apa karena aku penyakitan?" ucap Floran kesel.

"Ferrel kan temanku dari kecil. Bukan karena itu, tapi maaf aku cuma anggap kalian berdua nggak lebih dari seorang teman."

"Emm Flo, sebenernya itu bukan permintaan tapi keingian. Permintaanku, jika suatu saat waktu aku habis, kamu maukan terima jantungku"

Floran langsung terbelalak mendengar ucapan Adel, dia langsung duduk dari brankar dan membelakanginya.

"Mau jantung siapapun nggak bakal aku terima, apalagi jantung kamu," suara berat Floran sambil menunduk.

"Kalau enggak kayak gitu kamu nggak bakalan dapat donor jantung," ucap Adel dengan nada sedikit keras.

"Aku udah pernah coba Del tapi gagal. Sekarang aku nggak bakalan terima jantung siapapun lagi," jawab Floran dengan nada yang sedikit keras juga sambil memengang dada sebelah kirinya.

"Flo.."

"Enggak Del! Aku udah janji, apapun kondisinya nanti aku akan selalu ada buat kamu, kita berjuang bersama. Jika suatu saat nanti kamu yang lebih dulu ninggalin aku, aku tetap nggak akan terima jantung dari kamu. Jika aku dulu yang ninggalin kamu, aku akan bahagia karena detik-detik terakhir itu bersama kamu,"

"Del, aku mohon sama kamu jangan pernah berfikiran seperti itu lagi," ucap Floran yang kembali berbaring disisi Adel dan memiringkan tubuhnya agar bisa menatapnya.

"Tapi Flo, aku ngerasa umurku nggak akan panjang"

"Aku pun ngerasa hal yang sama karena jantungku udah bocor, aku tau terapi kemarin nggak ngaruh sedikitpun ke jantungku"

"Ahhhh Bocor.. Bocor... Mau aku tambal pake proof-proof itu nggak.. Hahahaha..."

"Yaelahh kamu kira jantungku genteng apa.. Hahahhaa..."

Tanpa mereka ketahui Anin yang sejak tadi mendengar obrolan Adel dan Floran dari balik pintu kamar mandi menangis sesegukkan sambil terduduk dilantai yang basah seraya memukul-mukul pelan dadanya.

Tak jauh berbeda, pembicaraan Adel dan Flora ternyata didengar oleh Chika, Ferrel, Sean dan Aran dibalik pintu yang sedikit terbuka. Ferrel yang telah menangis di pelukan sang mama sedangkan Sean menangis di pelukan Aran.

Obrolan yang mengiris hati dan perasaan mereka, obrol yang mereka pun tak tau harus berbuat apa. Begitu miris nasib mereka yang harus menerima takdir dan kenyataan pahit di hidup mereka.
.
.
.
Malam pun tiba, tadi setelah Floran keluar barulah mereka yang tadinya menguping pembicaraan dari keduanya datang secara bersamaan. Mereka seolah-olah biasa saja seakan tidak tau.

"Dek, abang mau tanya sesuatu sama kamu tapi jangan marah ya," ucap Sean menggenggam tangan adeknya yang diinfus.

"Soal apa bang?" tanya Adel penasaran.

Sean menatap Aran dan Chika bergantian lalu menarik nafas sejenak kemudian dihembuskan lagi. "Om Aran dan tante Chika mau meminta hak asuh kamu agar jatuh ke tangan mereka."

"Hah maksudnya?" tanya Adel tidak paham.

"Kamu jadi anaknya mereka berdua," jawab Sean memejamkan matanya.

"Apaan sih, Adel gak mau ninggalin ayah sendirian. Atau abang mau pisahin Adel sama ayah ya, itu kan tujuan abang pura-pura sok baik sekarang," ucap Adel menghempaskan tangan Sean yang menggenggam tangannya.

"Bukan gitu maksud abang, dek dengerin dulu. Abang ngelakuin itu agar kamu gak diperlakukan semena-mena oleh mereka. Abang gak bisa nemenin kamu setiap saat, karena kantor juga butuh Abang dan kak Anin. Abang sayang sama kamu, nurut ya kali ini aja," ucapnya memeluk tubuh mungil itu.

"Del yang dibilang bang Sean itu ada benarnya. Seenggaknya untuk beberapa waktu kedepan, biar om Kenzie juga mikir kalau yang dia lakukan selama ini salah," ucap Ferrel menimpali perkataan Sean.

"Tapi..."

TBC.

Gimana happy nggak triple up nih..

Jangan lupa vote dan komen
See you next chapter!

TAKDIR?! | END✅Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang