06. Bertemu Sadewa
**
Setelah pertandingan yang cukup menegangkan selesai. Dan juga setelah Isvana mengklaim bahwasanya Ester sekarang menjadi temannya, kini—mereka sudah kembali ke rutinitas masing-masing.
Sama halnya dengan Ester—saat ini ia tengah berjalan, lengannya tiba-tiba diapit erat oleh tangan lentik Isvana. Membawanya ke hadapan seorang pria paruh baya yah berdiri di ujung koridor kelas 11.
Ester hanya bisa pasrah. Mulutnya berdecak ringan. Tapi dalam hati ia bersorak gembira. Ini kebahagiaan yang tiada tara. Kapan lagi coba lengannya diapit sebegitu eratnya oleh seseorang yang begitu ia rindukan.
Ibaratkan lain di mulut lain di hati.
"Papa," panggil Isvana menghampiri seorang laki-laki paruh baya yang sedang berdiri sambil tersenyum menatap Isvana.
Ester tertegun. Jadi dia orang yang sudah mengadopsi saudari perempuannya ini.
"Kenalin, ini teman baru Vana, namanya Ester," ucap Isvana yang membuat Sadewa tersenyum tipis.
"Saya Sadewa, papanya Isvana," ucap laki-laki paruh baya itu mengulurkan tangan.
"Ester," jawab Ester dengan santai—membalas uluran tangan Sadewa.
Belum ada lima menit, Ester langsung bersiap untuk pergi. "Gue ke kelas," ucap Ester yang ditujukan kepada Isvana.
"Nggak. Pokonya lo harus sama gue terus," ucap Isvana yang membuat Ester menatap tajam Isvana.
"Gue emang mau jadi temen lo. Tapi jangan seenaknya," ketus Ester yang membuat Isvana tertegun. Begitu pun dengan Sadewa.
Ester terdiam setelah berucap itu. Dia kelepasan. "Maaf, gue nggak maksud," ucap Ester yang langsung berlalu dari tempatnya berdiri menuju kelas.
Isvana terdiam di tempatnya.
Sadewa tersenyum tipis, mengelus kepala sang putri. "Nggak papa?" tanya Sadewa memastikan.
Isvana tersenyum. "Nggak papa. Ester orangnya emang kayak gitu, Pa."
Sadewa tersenyum tipis, dia berencana menemui Ester secara langsung. Ada sesuatu yang ingin ia tanyakan.
**
Jam istirahat kedua telah tiba, namun Ester tidak datang ke kantin, dia lebih memilih duduk di bawah pohon yang letaknya tepat di samping sekolah.
Ia cukup merasa bersalah atas perkataannya terhadap Isvana.
Di tengah lamunannya, Ester dikejutkan oleh keberadaan Sadewa yang tiba-tiba datang lalu duduk tepat di sebelahnya.
"Ester, kan?" tanya Sadewa yang membuat Ester mengangguk.
"Saya tau kamu siapa. Kamu kembaran Isvana, bukan?" ucap Sadewa yang membuat Ester menatap Sadewa dengan diam.
"Kamu mau saya adopsi seperti Isvana? Agar kamu bisa terus sama Isvana?" pertanyaan yang diajukan Sadewa membuat Ester terdiam.
Tak lama Ester menggelengkan kepalanya. "Om cukup sayangi Isvana dengan baik," ucap Ester.
"Tapi kamu tidak ingin terus bersama Isvana?"
Sadewa memutuskan untuk mengadopsi Ester jika gadis itu mau. Dia ingin mempersatukan Ester dan Isvana setelah melihat kejadian tadi pagi. Di mana Isvana yang bersikeras ingin Ester menjadi temannya.
"Cukup saya melihatnya bahagia."
"Kamu bisa cerita," ucap Sadewa yang seolah mengerti dengan perasaan Ester.
Ester terdiam, apa dia ingin bercerita?
"Saya sebagai saudara Isvana ngucapin banyak terima kasih sama Om Sadewa dan keluarga, karena sudah menyayangi Isvana dengan baik dan penuh kasih sayang. Dulu, saya begitu menginginkan untuk bertemu dengan Isvana. Setiap hari saya selalu memikirkannya. Mungkinkah saya bisa bertemu dengan Isvana.
Saya belajar dengan giat dan ikut kegiatan ini dan itu agar bisa ikut pertukaran pelajar. Mengetahui jika Isvana sekolah di sini, saya melakukan semuanya karena hanya ingin tau bagaimana kabar Isvana dan seperti apa dia. Ternyata, dia begitu bahagia tinggal sama Om dan keluarga. Melihat Isvana bahagia—itu udah cukup buat saya." Ester terkekeh.
"Saya lihat jelas bagaimana bahagianya Isvana tinggal di sini. Dan saya lega. Setidaknya rasa rindu saya selama ini sudah terobati. Saya memang ingin bersama dengan Isvana, tapi tidak dengan diadopsi oleh Om. Saya lebih suka tinggal di panti bersama ibu Nadia dan anak-anak. Saya sudah nyaman tinggal di sana. Setelah dua bulan ini saya akan kembali ke Bandung dan hidup di sana.
Saya ingin Om selalu menyayangi Isvana layaknya anak Om sendiri. Kalau om sudah tidak menyayanginya lagi, Om bisa kembalikan Isvana ke Bandung, tempat saya berada. Dan saya minta tolong sama Om, jangan bilang Isvana jika saya kembarannya," ucap Ester yang berdiri dari duduknya dan pergi dari sana meninggalkan Sadewa yang terdiam sambil menatap sendu Ester.
Seandainya dulu ia dan istrinya mengadopsi dua-duanya, mungkin mereka tidak akan terpisah seperti ini. Dulu, dia salah.
Tanpa ia sadari, seseorang yang tengah berdiri di balik pohon tak jauh dari tempat Sadewa dan Ester tadi berada, terdiam—mendengar sebuah kebenaran yang ada.
Jadi, Ester itu kembaran Isvana?
Bersambung....
KAMU SEDANG MEMBACA
Separated Twins : ESVANA
General Fiction©Hak cipta dilindungi undang-undang Kembar dengan dua kepribadian yang berbeda. Hidup yang berbeda. Orang tua yang berbeda. Ini tentang dua gadis kembar. Estrella Ghannieze dan Isvana Ghitara. Mungkinkah mereka dapat dipertemukan oleh takdir? Note...
