🍥pitu

12.6K 479 3
                                        

07. Siomay

17.00 Wib.

Ester saat ini tengah berada di warung siomay yang berada tak jauh dari sekolah. Tiba-tiba saja, saat ia tengah duduk di asrama—ia ingat dengan siomay. Berharap bisa mendapatkannya, ia pun berjalan-jalan santai sambil sesekali menoleh ke kiri dan kanan mencari keberadaan penjual siomay. Siapa tau ada kan?

Saat tengah asik-asiknya memakan siomay, suara gesekan motor dan aspal terdengar begitu nyaring. Menimbulkan decitan yang nyaring disertai dentuman yang cukup keras.

Sontak, Ester menoleh keluar warung—ke jalan raya.

Matanya menelurusi dari mana asal bunyi tadi. Hingga ia menangkap keberadaan seorang laki-laki yang tengah melepas helm.

Ternyata sura tadi berasal dari laki-laki itu. Terbukti, motor laki-laki itu tergeletak di pinggir jalan raya.

Ester hanya diam—tak ada niat untuk menolong. Hingga matanya kembali terpaku pada satu titik—kepala laki-laki itu. Darah mengalir dari belakang kepalanya. Pekat. Hingga timbul rasa kasihan dalam hati Ester.

Tanpa memperdulikan siomay nya. Ia berlari keluar warung. Meninggalkan selembar uang di bawah mangkuk.

Tanpa sepatah kata pun Ester langsung mengangkat motor laki-laki itu yang tergeletak. Bagian depannya hancur. Melihat kunci yang masih ada di motor, tanpa memperdulikan apa pun ia langsung menaikinya—membuat laki-laki yang tengah meringis kesakitan itu menatap Ester dengan pandangan heran.

"Lo naik. Gue anter ke rumah sakit, itu kepala lo bocor," cerocos Ester yang keburu panik melihat darah yang terus mengalir dari kepala laki-laki itu.

Melihat tidak ada pergerakan dari laki-laki tersebut, Ester langsung turun dari motor— menarik tangan laki-laki itu dengan kasar.

"Cepet."

Pada akhirnya, mau tak mau laki-laki itu naik ke atas motor.

Setelah berhasil naik, Ester langsung melajukan motornya menuju rumah sakit terdekat. Ya, walaupun dia tidak tau di mana letaknya. Pokoknya mencari saja lah, dia sudah terlanjur khawatir dengan kondisi laki-laki yang duduk di belakangnya itu.

Lama Ester berkeliling tapi tak juga ketemu, hingga tepukan di bahunya membuatnya menghentikan motor dan menoleh ke arah belakang.

"Lo mau bawa gue ke mana?" tanya laki-laki tersebut sambil memegang kepalanya.

Ester menggeleng. "Nggak tau," jawabnya yang membuat laki-laki itu menghela nafas pasrah.

"Anterin ke rumah gue aja, di depan sana, masuk lorong," ucap lelaki itu yang langsung diangguki oleh Ester.

Tak butuh waktu lama mereka sampai di rumah tingkat berwarna putih dengan gerbang yang menjulang tinggi.

"Pak, bukain gerbangnya," ucap Ester kepada penjaga di sana.

"Neng siapa atuh?"

"Liat belakang," ucap Ester yang membuat penjaga itu terkejut dan segera membukakan gerbang.

Ester memasukkan motor laki-laki itu dan membantunya turun. Ia juga membantu laki-laki itu masuk ke dalam rumah.

Baru menginjakkan satu kaki di dalam rumah besar itu, suara teriakan seseorang membuat Ester berjengkit kaget.

"YA AMPUN NAKALA, KAMU KENAPA INI?" seorang wanita paruh baya yang terlihat masih begitu cantik di usianya  berteriak dengan begitu nyaring

Ester langsung menjelaskan. Jika sedang di situasi seperti ini, Ester akan berbicara panjang lebar, sangat berbeda dari biasanya.

Setelah Nakala dibawa ke kamarnya dan dokter sudah dipanggil. Kini Ester menjelaskan kepada wanita paruh baya yang ternyata adalah ibu dari laki-laki tadi. Nakala ya, namanya?

"Tadi saya lihat dia jatuh di jalan Tante, rencananya mau saya bawa ke rumah sakit tapi saya tidak tau di mana letak rumah sakit. Dia bilang bawa ke rumah saja, jadi saya bawa ke rumah. Katanya ini rumahnya," jelas Ester yang membuat perempuan paruh baya itu tersenyum.

"Makasih ya, sudah menolong putra Tante," ucapnya dengan tersenyum.

"Gak usah makasih Tan. Ini murni sikap kemanusiaan." Ester tersenyum tipis. "Kalau gitu, saya pamit pulang," lanjutnya.

"Kamu diantar sopir," putus wanita paruh baya itu seperti tidak ingin dibantah.

"Saya Lia, dan kamu?" lanjutnya.

"Ester."

"Baiklah Ester, kamu pulang harus diantar oleh supir."

Pada akhirnya Ester pulang dengan sopir yang mengantarkannya. Dia sampai di asrama pukul 17.40 wib. Saat sampai di kamar asrama, ia diomeli oleh Caca.

Kadang, Ester merasa Caca seperti ibunya. Sebab, jika Ester sedang ada masalah, pasti Caca yang akan menghiburnya. Saat Ester kebanyakan kerja, Caca akan mengomel. Ester kurang tidur, Caca akan mengomel. Ester senang mempunyai sahabat seperti Caca. Ada di kala susah dan senang.

Rumah kedua bagi Ester adalah Caca. Sedang rumah pertama baginya adalah panti. Karena di sana dia dibesarkan, di sana dia mendapatkan kasih sayang yang besar. Di sana ia diajarkan tata krama. Di sana ia diajarkan menjadi gadis yang kuat. Panti, tempat yang kata orang adalah tempat pembuangan anak. Nyatanya tempat itu membuat rasa nyaman yang besar kepada Ester.

Tak jarang, saat masuk sekolah menengah pertama, Ester sering dikata-katai anak buangan. Namun Ester tetap diam. Dia hanya menatap datar orang yang mengejeknya. Dia tak peduli apa kata orang lain. Ini hidupnya, bukan hidup mereka.

Ester bertemu dengan Caca saat kelas 4 SD. Saat itu Caca adalah gadis yang cerewet, tetap sama seperti sekarang. Caca tak henti-hentinya mendekatinya. Pada akhirnya, Ester dapat melihat ketulusan di mata Caca, mereka berteman—sampai sekarang.

"Pokoknya, kalau lo nggak bilang lagi kalau mau pergi, sepuluh hari gue ngambek sama lo!" ancam Caca menatap tajam ke arah Ester yang masih setia duduk di sofa single itu.

"Lo dengerin gue, nggak?!" semprotnya, menatap jengah Ester.

"Iya Ca, denger."

"Jangn iya-iya doang. Awas aja lo, unfriend kita!" ancam Caca.

Tak ayal, Ester tersenyum bahagia melihat tingkah laku Caca. Terlihat jelas di mata Caca, bahwa ia mengkhawatirkan Ester.


Bersambung....

Separated Twins : ESVANACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang