09. Rumah Nakala
Butuh waktu sekitar dua puluh menit untuk sampai di rumah Nakala. Setelah Nakala selesai memarkirkan motornya, ia langsung mengajak Ester untuk masuk ke dalam rumah.
Saat masuk, Ester disambut dengan sebuah pelukan dari Lia, ibu Nakala.
"Akhirnya, Nakala nemuin kamu," ujar Lia dengan memeluk Ester erat.
Ester tersenyum dan membalas pelukan dari Lia.
"Tante nyuruh Nakala nyariin kamu karena Tante mau ngajak kamu makan malam, sebagai ucapan terima kasih Tante karena sudah menolong Nakala."
Ester tersenyum menanggapi.
Karena belum malam, alhasil Ester duduk di ruang tamu bersama Nakala. Sedangkan Lia sedang di dapur. Ester tidak diizinkan pulang sebelum selesai makan malam. Ester pun pada akhirnya hanya menurut saja.
Saat Lia pergi ke dapur untuk memasak, Ester ingin membantu, tapi lagi-lagi tidak diizinkan oleh Lia dengan ancaman, Ester tidak diizinkan pulang sampai besok pagi. Karena Ester tak ingin, alhasil dia kembali pasrah saja.
Hingga kini, ia hanya duduk di sofa single ruang tamu bersama dengan Nakala yang juga duduk di sofa single ruang tamu yang berada tak jauh dari sofa tempatnya duduk. Nakala fokus menonton televisi, sedangkan dia hanya duduk karena tak menyukai siaran televisi yang ditonton Nakala. Sungguh, dia tidak suka dengan kartun Naruto. Sedangkan Nakala menonton film Naruto. Sungguh membosankan.
Hingga suara teriakan dari arah pintu membuat atensi Ester teralihkan menuju sosok yang tengah berteriak di ambang pintu. Anak laki-laki kecil yang terlihat begitu menggemaskan dengan sebuah robot-robotan di tangan kanannya. Melihat itu, membuat Ester merindukan anak-anak panti asuhan.
"Assalamu'alaikum, Mama!" teriaknya dengan begitu nyaring.
"Wa'alaikumussalam," jawab Ester pelan sambil terus mengamati anak laki-laki yang ia duga adalah adik dari Nakala.
Ester melihat Nakala menoleh sebentar ke arah pintu lalu mengisyaratkan kepada anak laki-laki itu untuk mendekat ke arahnya.
Anak itu pun langsung menurut dan mendekat ke arah Nakala.
"Papa mana?" tanya Nakala.
"Masukin mobil ke garasi," jawab anak itu dengan suara yang lucu.
"Kamu liat kakak itu?" tanya Nakala sambil menoleh ke arah Ester.
Ester yang melihat Nakala menoleh ke arahnya beserta anak laki-laki itu yang juga ikut menoleh, hanya terdiam.
"Bang, muka kakak itu seram, kayak lagi marah. Namanya, apa ya? Jules, juhes, judes, nah iya judes. Muka kakaknya judes, Zen takut," cicit anak itu semakin merapat ke tubuh Nakala.
Nakala terkekeh kecil. Memang benar yang dikatakan adiknya, wajah Ester memang terlihat sedikit judes dan tegas.
"Jangan takut. Kakaknya baik, sana kenalan." Nakala mendorong pelan punggung Zen ke arah Ester.
Zen pun berjalan takut-takut ke arah Ester. Ester yang melihatnya merasa gemas dengan tingkah Zen.
Sedangkan Nakala tersenyum dan melanjutkan menonton televisi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Separated Twins : ESVANA
General Fiction©Hak cipta dilindungi undang-undang Kembar dengan dua kepribadian yang berbeda. Hidup yang berbeda. Orang tua yang berbeda. Ini tentang dua gadis kembar. Estrella Ghannieze dan Isvana Ghitara. Mungkinkah mereka dapat dipertemukan oleh takdir? Note...
