03. SMA Stephen Internasional School
Saat ini para siswa-siswi pertukaran pelajar telah berada tepat di depan gerbang SMA Stephen Internasional School. Gedung sekolah menjulang tinggi dengan fasilitas yang lengkap. Koridor yang luas. Dan halaman parkir yang begitu besar. Mereka berdecak kagum melihat sekolah ini yang lapangan untuk parkiran saja seluas itu. Begitu pun dengan bangunan sekolah yang tinggi dan suasana yang asri.
"Gila. Cakep banget," puji Caca berdecak kagum.
"Nggak usah alay lo!" Kevin mendorongnya pelan bahu Caca.
"Gue nggak alay, ya. Tapi emang sebagus itu sekolahnya," sinis Caca.
"Sudah-sudah. Sekarang kita masuk," sela Bu Gina selaku guru yang menemani mereka.
***
Saat ini mereka telah sampai di salah satu bangunan yang terletak di paling belakang sekolah. Bangunan ini terlihat begitu besar.
"Di asrama ini tersedia sepuluh kamar. Satu kamar untuk dua orang. Kamar untuk guru beda lagi. Kamar untuk guru bagian paling ujung. Ada lima kamar. Tapi kalau Bu Gina ingin tinggal di sini bersama murid juga boleh. Karena murid ganjil. Itu artinya, Ibu bisa tinggal dengan salah satu siswi Ibu," jelas seseorang yang merupakan pemandu mereka untuk hari ini.
"Terimakasih Bu," ucap Bu Gina tersenyum menatap pemandu mereka yang merupakan-seorang perempuan.
"Sama-sama. Jika sudah, kalian bisa langsung masuk. Untuk murid, bisa langsung masuk sekolah hari ini juga. Karena ini baru hari pertama, kalian bisa pergi ke sekolah pukul delapan—tidak lewat. Untuk kelas, kalian bisa lihat di mading. Pakaian serta buku sudah disiapkan. Dan ini denah lokasi yang ada di sekolah ini. Semoga kalian betah dan nyaman," ujar pemandu tersebut dengan tersenyum.
"Terimakasih Bu!" seru mereka dengan tersenyum.
"Sekali lagi, sama-sama. Saya permisi."
***
Kini mereka sudah sama-sama masuk ke dalam kamar masing-masing. Ester dengan Caca. Kevin dengan Wili. Selena dengan Bu Gina.
Mereka juga telah bersiap-siap untuk berangkat sekolah yang letaknya tepat berada di depan gedung asrama mereka. Hanya saja jaraknya sedikit jauh.
Ester telah siap dengan seragamnya yang cocok dengan tubuhnya yang tinggi. Almamater, rok, baju, juga dasi yang terdapat logo Stephen Internasional School. Rambut sebahu yang diberi jepitan pada bagian kanan. Memberi kesan tegas sekaligus hangat pada diri Ester.
Sedang Caca, juga telah siap dengan pakaian yang sama dengan Ester. Hanya saja gaya rambut yang berbeda. Rambut Caca panjang berwarna hitam. Ia beri kesan imut pada dirinya dengan memakai bandana berwarna putih.
Juga jangan lupakan sepatu Ester dan Caca yang berwarna putih. Karena memang peraturan di sini sepatu harus berwarna putih.
Caca dan Ester keluar kamar dengan tas yang tersampir di pundak mereka. Bukannya bagaimana, semua ini pemberian dari sekolah. Tas, sepatu juga termasuk.
"Bagaimana, sudah siap menjadi siswa dan siswi SMA Stephen Internasional School selama dua bulan?" tanya Bu Gina yang juga sudah siap dengan seragamnya. Karena Bu Gina juga ikut pertukaran guru selama dua bulan ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Separated Twins : ESVANA
Ficción General©Hak cipta dilindungi undang-undang Kembar dengan dua kepribadian yang berbeda. Hidup yang berbeda. Orang tua yang berbeda. Ini tentang dua gadis kembar. Estrella Ghannieze dan Isvana Ghitara. Mungkinkah mereka dapat dipertemukan oleh takdir? Note...
