27. Kita mulai dari awal
Mobil brand Mercedes-Benz AMG S63 melaju pelan memasuki gerbang rumah yang menjulang tinggi. Berhenti pada tempat khusus parkiran mobil. Ester turun dari mobil tanpa sepatah kata pun.
Tangannya terulur membuka pintu belakang mobil—mempersilahkan Isvana dan Biola untuk turun. Isvana menuntun tangan Biola. Ia peluk erat tubuh Biola. Merasa bersalah atas ledakan emosinya yang tak terkontrol.
"Maaf Bunda, Ester keterlaluan. Gak seharusnya Ester bicara kayak tadi. Bunda boleh hukum Ester apa pun itu. Tapi tolong maafin Ester. Ester juga minta, tolong anggap Ester ada..." Ester menangis—memeluk tubuh Biola dengan erat.
Biola lekas membalas pelukan Ester tak kalah kencang. Ia sadar bahwa ia sudah menjadi Ibu yang buruk. Ibu yang keterlaluan. Ia harus memperbaiki semuanya sebelum terlambat.
"Bunda yang salah, nak. Tidak seharusnya Bunda membeda-bedakan kamu dan Isvana. Kalian berdua putri bunda. Bunda minta maaf."
Ester langsung mengangguk mantap. "Ester juga salah."
Biola mencium pipi Ester dengan sayang. "Maafin Bunda, sayang."
Isvana memandang dengan tatapan penuh haru. Menunggu giliran untuk memeluk tubuh Ester. Ia juga salah. Kata-katanya keterlaluan.
Setelah Ester melepaskan pelukannya pada Biola, Isvana langsung memeluk Ester dengan kencang. "Maaf Ester. Sebagai saudara, gak seharusnya aku ngucapin hal tadi, aku terlalu kekanakan."
Ester tersenyum. Ia hanya mengangguk seraya membalas pelukan Isvana tak kalah kencang.
"Kita mulai semua dari awal," celetuk Savior yang sedari tadi hanya memperhatikan.
Biola, Ester, dan Isvana mengangguk setuju. Ester mengusap air mata di pipi Biola. Menggandeng tangan ibunya untuk masuk ke dalam rumah. Ester menggandeng tangan sebelah kanan Biola, Isvana menggandeng tangan sebelah kiri Biola. Sedangkan Savior berjalan di belakang mereka sambil tersenyum bahagia.
Di sisi lain, Pak Anton ikut tersenyum bahagia melihat keluarga ini. "Semoga keluarga ini tetap bahagia selamanya."
**
Kini satu keluarga itu tengah berkumpul di ruang tamu. Di depan televisi yang sedang menyiarkan berita. Biola duduk di karpet dekat dengan sofa—sedang mengobati luka dan memar-memar di wajah Ester.
Ester tersenyum memperhatikan Bundanya. Ini yang dia inginkan—tidak dibeda-bedakan.
Melihat senyuman Ester—Biola ikut tersenyum cerah.
Selesai mengobati Ester, Biola berjalan menuju dapur untuk memasak, diikuti oleh Isvana. Sedangkan Ester berjalan menuju ruang boxing dengan Savior.
Mereka akan latihan boxing hari ini. Awalnya Biola tidak mengizinkan, namun pada akhirnya dia mengizinkan saat melihat binar di mata Ester.
"Sudah siap?" tanya Savior menantang.
"Hmm," deham Ester singkat.
"Kamu menang, Ayah belikan motor."
Ester menatap Savior dengan tatapan tidak percaya. "Beneran?"
"Hmm," deham Savior.
Ester tersenyum cerah. Semangatnya berkali-kali lipat meningkat. Sekitar seratus kali lebih semangat.
Mereka mulai berlatih boxing. Bukan hanya berlatih tapi juga langsung adu kemampuan siapa yang lebih hebat.
Sedang di dapur, Isvana dan Biola tengah asik berbincang-bincang tentang Ester dan juga Savior.
"Ayah kamu orangnya nyeremin. Garis wajahnya tegas. Padahal aslinya dia lemah lembut."
"Kalau menurut Vana ya Bund, Ester itu benar-benar jiplakan Ayah, dilihat dari cara natap, cara bicara, auranya, wajahnya pun mirip sama Ayah," tutur Isvana yang diangguki oleh Biola.
"Benar. Mereka sangat mirip."
"Waktu pertama kali ketemu sama Ester, Isvana kayak punya keyakinan yang besar buat temenan sama Ester. Tapi Ester selalu menghindar. Terus pas waktu itu, tiba-tiba Ester nanya sama Vana, katanya, bisa main basket? Vana langsung jawab, bisa. Karena emang udah lima kali Vana ikut pertandingan basket antar sekolah, dan selalu menang. Dengan penuh percaya diri, Vana ngeremehin Ester. Awalnya sih Vana dapat skors banyak, tapi setelahnya Ester lebih banyak dapat skors. Vana sampai lelah buat ngambil bola dari tangan Ester, tapi gak dapat-dapat. Ester emang jago. Waktu yang tanding basket tingkat internasional itu juga, Ester jadi ketua kami. Dia yang nyusun strategi."
Isvana bercerita tentang awal pertemuannya dengan Ester, dan bagaimana jalan cerita mereka selama dua bulan masa pertukaran pelajar.
"Semua sifat Ester nurun dari Ayah kamu, kayaknya," ujar Biolanya dengan tertawa.
Isvana ikut tertawa.
Isvana kemarin memutuskan untuk tinggal bersama keluarga aslinya. Tentunya dengan mengucapkan banyak terima kasih dan berjanji akan berkunjung ke rumah keluarga Leonardo sewaktu-waktu. Walau sulit bagi keluar Leonardo untuk melepas Isvana, namun pada akhirnya mereka setuju, demi kebahagiaan Isvana bersama keluarga kandungnya.
Bersambung......
KAMU SEDANG MEMBACA
Separated Twins : ESVANA
General Fiction©Hak cipta dilindungi undang-undang Kembar dengan dua kepribadian yang berbeda. Hidup yang berbeda. Orang tua yang berbeda. Ini tentang dua gadis kembar. Estrella Ghannieze dan Isvana Ghitara. Mungkinkah mereka dapat dipertemukan oleh takdir? Note...
