17. Kembali ke Bandung.
Hari ini Ester, Caca, Selena, Kevin, Wili, dan Bu Gina akan kembali ke Bandung. Selesai sudah masa-masa mereka untuk berada di sekolah yang besar dan begitu keren ini.
Mereka memandang gedung sekolah ini untuk terakhir kalinya. Dalam hati, mereka merasa kesempatan emas ini bukanlah hal yang sia-sia. Mereka mendapatkan sertifikat penghargaan langsung dari sekolah ini.
Karena secara tidak langsung mereka menjadi siswa-siswi yang membuat guru-guru di sekolah ini merasa bangga. Kemampuan mereka dalam bidang pendidikan maupun olahraga tidak dapat diragukan.
Mereka jelas ikut berprestasi dalam mengharumkan nama sekolah ini.
Bahkan, terpampang jelas di papan mading—biodata mereka berlima dengan menggunakan seragam Stephen Internasional Scholl beserta penghargaan yang mereka dapatkan.
Bus untuk menuju bandung telah ada tiba di depan sekolah kurang lebih 15 menit yang lalu. Siap mengantar rombongan Bu Gina kembali ke Bandung.
Sebelum Ester kembali ke Bandung, Isvana juga menyempatkan diri untuk menemui Ester. Walau sesuatu di rumah sudah menunggunya—acara keluarga.
Isvana menatap haru wajah Ester. Ia peluk dengan erat tubuh Ester yang jauh lebih tinggi darinya.
Matanya berkaca-kaca. "Gue pasti bakal kangen banget sama lo." Pelukannya semakin erat. Seakan-akan tak pernah ingin melepaskannya.
Ester tersenyum tipis. "Gue juga."
"Ester, gue bakal ngirimin lo pesan tiap saat. Pokoknya gue nggak mau kita putus komunikasi." Isvana memegang kedua lengan Ester dengan erat. Matanya menatap mata Ester dengan serius.
Ester mengangguk. Memang, uang yang kemarin ia dapat telah ia belikan ponsel. Agar ia menjadi lebih mudah untuk berkomunikasi dengan orang-orang.
"Jaga diri baik-baik, Isvana," pesan Ester balas memeluk tubuh Isvana.
"Lo juga."
Setelah selesai berpelukan untuk terakhir kalinya, Ester berjalan masuk ke dalam bus. Tangannya ia lambaikan pelan pada Isvana. Dengan senyuman tersungging di bibirnya.
"Gue harap lo selalu bahagia, Van. Gue janji kalau gue udah nemuin Bunda sama Ayah, gue bakal akui semuanya."
**
Sekitar empat jam perjalanan, mereka akhirnya telah sampai di Bandung. Bus berhenti tepat di depan sekolah mereka.
Ester turun dari dalam Bus dengan menenteng tas di tangan kiri dan kanannya. Ia menghirup udara bandung dengan pelan.
"Huh... selamat datang kembali bandung..."
Cukup lama Ester terdiam memandang sekolahnya, hingga akhirnya ia memutuskan untuk pulang. Kembali ke panti asuhan. Untuk menuju panti, Ester perlu berjalan kaki sekitar lima belas menit. Kakinya melangkah menyusuri jalan raya dengan tenang. Hingga ia sampai pada sebuah belokan—gang yang cukup besar. Ia lewati jalan setapak dengan pelan. Sampai pupil matanya berhenti pada satu tempat. Dengan pagar setengah tiang berwarna putih. Besar dan asri.
Anak-anak berdiri tersenyum lebar dari depan pagar. Menunggu kepulangannya.
"Selamat datang kembali Teteh!" teriak mereka yang langsung mengerumuni Ester.
Ester tersenyum merentangkan kedua tangannya untuk memeluk anak-anak itu. Ia letakkan semua barang bawaannya.
Sungguh, rasanya begitu membahagiakan melihat kehadiran anak-anak ini lagi.
"Terima kasih, sayang." Ester peluk mereka semua satu-satu. Mencium pipi mereka secara bergantian.
Bu Nadia yang sedari tadi berdiri menatap interaksi Ester dengan anak-anak, akhirnya menghampiri Ester. Ia peluk tubuh Ester dengan erat. "Ibu bangga sama Teteh..."
Ester tersenyum hangat. Matanya berkaca-kaca. Betapa ia merindukan ibunya ini. Andai kata ia disuruh untuk terus berada di kota orang, mungkin Ester akan menolak. Ia tidak sanggup meninggalkan ibunya ini untuk waktu yang begitu lama.
Bu Nadia membawa Ester masuk ke dalam rumah. Membawanya duduk di kursi ruang tamu yang tersedia makanan di atas mejanya.
Bu Nadia memegang tangan Ester dengan lembut. "Ibu mau kasih tau kamu sesuatu. Kamu siap?"
Ester menatap heran, "Kasih tau apa, Bu?"
Bu Nadia tersenyum, "Kemarin, orang tua kamu datang ke sini, nak," ucapnya.
Mendengar hal itu, sontak Ester menegapkan tubuhnya—terkejut. Ia menatap tak percaya pada Bu Nadia.
"Ibu... serius?" tanyanya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Bu Nadia mengangguk. "Duduk dulu dengan tenang, biar Ibu ceritakan."
Ester langsung duduk dengan benar. Memperbaiki posisi duduknya. Ia siap mendengarkan cerita Bu Nadia.
Untuk anak-anak. Mereka sedari tadisudah bermain dengan barang-barang yang sempat Ester belikan untuk mereka.
Salah satu anak laki-laki menghampirinya. "Teh, ini buat kita semua?"
"Iya," jawab Ester tersenyum kecil. Anak itu bersorak senang.
Setelah anak itu keluar untuk kembali bermain dengan anak-anak lainnya. Bu Nadia langsung memulai ceritanya.
"Kemarin ada perempuan yang datang ke sini. Dia bilang kalau dia Biola Denata. Awalnya Ibu gak percaya, takut-takut dia bohong. Dia bilang dia nyariin kamu sama saudari kamu. Ibu suruh dia nunjukkin foto kamu sama Isvana waktu kecil. Akhirnya, dia nunjukin foto satu keluarga, di sana ada perempuan yang wajahnya mirip sama dia. Posisinya lagi gendong bayi yang Ibu yakini itu kamu. Sebab Ibu tau persis wajah kamu waktu bayi.
Foto itu emang udah buram, tapi masih bisa dikenali. Di sampingnya juga ada laki-laki yang juga gendong bayi. Kayaknya itu Isvana. Ibu akhirnya percaya. Terus Ibu bilang kalau kamu gak ada. Kamu ada kegiatan sekolah. Ibu suruh dia datang lagi hari ini, karena yang Ibu tau kamu pulang hari ini. Nak, Ibu harap kamu harus bisa hadapi situasi ini dengan baik. Ibu yakin, kamu pasti punya feeling kalau emang dia benar-benar orang tua kamu."
Bu Nadia memegang kedua tangan Ester dengan lembut. Menatap manik mata Ester yang sudah meluruhkan air mata dengan deras.
KAMU SEDANG MEMBACA
Separated Twins : ESVANA
Ficção Geral©Hak cipta dilindungi undang-undang Kembar dengan dua kepribadian yang berbeda. Hidup yang berbeda. Orang tua yang berbeda. Ini tentang dua gadis kembar. Estrella Ghannieze dan Isvana Ghitara. Mungkinkah mereka dapat dipertemukan oleh takdir? Note...
