Seorang pemuda baru saja melangkahkan kakinya di TPU. Kebiasaannya sehari-hari setiap hari Jum'at pagi sebelum melaksanakan kegiatan sekolahnya. Ia menyambangi makam Ibunya yang sudah tiada sejak ia masih berumur 7 tahun.
Juga karena pondok pesantrennya searah dengan jalan sekolahnya, karena itu ia tak pernah absen menyambangi Ibunya setiap minggunya.
"Ibu, Sopan datang lagi. Ibu apa kabarnya?" Tanya Sopan. Sopan tersenyum teduh. Ia merindukan sapaan pagi Ibunya kepadanya. Sapaan Ibunya menanyakan bagaimana kabarnya? Bagaimana harinya? Dan bagaimana perasaannya?
Pertanyaan wajib itu Ibunya khatamkan kepada Sopan sejak kecil. Ia selalu membawa kipas hajatan milik Ibunya. Hanya ini benda yang ia punya barang kesukaan Ibunya.
Sopan mengeluarkan Al Qur'an dari dalam tasnya. Ia tak akan pernah meninggalkan kebiasaannya yang satu ini saat pergi ke makam Ibunya. Perlahan ia membaca setiap ayat dari surat Yasin. Dimulai dari Bismillah hingga akhirnya ia menyelesaikan bacaannya. Tak lupa ia membaca Alhamdulillah setelah selesai.
Ia menutup Al Qur'an yang ia pegang, lalu menciumnya. Ia juga mencium nisan Ibunya lalu pamit pergi untuk bersekolah.
"Kau sudah menyambangi Ibu mu?" Tanya seorang pria tua yang selalu menyapu dan membersihkan makam TPU setiap harinya. Itu Ayah Sopan.
Sopan mengangguk, "Sudah, Yah. Kalau begitu, Sopan berangkat dulu, Ya?" Sopan menyalami tangan ayahnya. Itu juga kebiasaan wajib yang selalu ditanamkan oleh Ayah dan Ibunya saat berpamitan.
"Iya." Ayah Sopan mengusap sayang kepala Sopan. Merapikan seragam yang Sopan pakai dengan bangga. Ia bangga anaknya bisa tumbuh besar tanpa adanya peran seorang Ibu. "Hati-hati! Jangan lupa baca doa sebelum belajar!" Seru sang Ayah saat melihat anaknya sudah berlalu pergi.
Sopan mengacukan jari jempolnya lalu pergi menghilang dari pandangan Ayahnya.
–––
"Duh, lukanya dipipi, alasan apa lagi gue nanti?" Gumam Gentar sembari mengusap lukanya dengan salep luka. Pagi ini dirinya baru saja ribut dengan Adiknya yang hanya berjarak beberapa bulan dengannya.
Bukan main! Adiknya yang bernama Tanah itu menamparnya dengan tenaga dalam sampai pipinya bengkak dan terdapat sedikit bekas kuku milik Tanah disana.
Alasannya sederhana, itu karena buku miliknya yang hilang. Ia sudah mengatakan bahwa Petir, Kakak tirinya itu tidak sengaja membawanya pergi dengan tumpukan buku kuliahnya. Dan Tanah tidak percaya dengan alibi Gentar.
"Nasib, nasib." Gentar kembali mengoleskan luka di pipinya. Ia sudah terbiasa dengan berbagai macam luka. Dari luka gores hingga luka bakar, dia memilikinya. Tapi itu tidak merusak wajahnya, hanya tubuhnya saja. Hingga tidak membuat orang lain prihatin dengannya.
Setelah merasa selesai mengoleskan salep lukanya, ia memasukkannya ke dalam tasnya lalu bersenandung ria menuju sekolah. Tapi tak jauh dari tempatnya memandang, ia melihat Frostfire masuk ke dalam apotek dan membeli beberapa obat merah.
Kalau kalian tanya kenapa Gentar memakai salep bukan obat luka? Jawabannya, dia memakai bahan yang ada di kotak P3K-nya. Stok obat merahnya habis, membuatnya terpaksa memakai salep luka bakar. Kalau beli sekarang, dia bisa-bisa terlambat ke sekolah.
Gentar memilih acuh dengan pemandangan dihadapannya. Ia berjalan sembari bersiul menuju sekolahnya. Rumah yang ia 'tempati' dekat dengan sekolahnya. Jadi ia tidak perlu khawatir akan terlambat masuk ke dalam kelas.
"Gentar!" Seru seseorang yang bernama Sori. Sori datang dengan sepeda motor matic-nya. Dia berhenti di depan pagar sekolah saat melihat keberadaan Gentar didekat pintu pagar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Human Sides [Tamat] ✓
HorrorDibalik topeng yang selalu manusia pakai, ada sisi lain yang tidak mereka tunjukkan. Mari adu nasib! Siapa yang paling menyedihkan? 16 + Cover by Monsta Calendar 2023
![Human Sides [Tamat] ✓](https://img.wattpad.com/cover/368911972-64-k155267.jpg)