"Bangun!"
BYUR!!
Air hangat itu baru saja disiramkan ke tubuh Gentar. Gentar terbangun setelah air itu turun dari tubuhnya. Gentar mengucek matanya sepelan mungkin agar tidak kenapa-napa.
"Kenapa kau tidak pergi sekolah dua hari ini, hah? Sudah berapa kali kau izin tidak masuk sekolah? Apa kau tidak ingat kalau Supra masih ada diperingkat satu? Dan kau, malah berleha-leha di kamar padahal nilai mu masih dibawah Supra!" Omel Ibunya Gentar. Gentar menatap sayu Ibunya.
"Aku ga bisa berdiri terlalu lama, Bu. Penglihatan Gentar berkunang-kunang. Gentar belum makan dari kemarin." Adu Gentar.
"Alasan! Semalam Ibu sudah menyuruh Bibi untuk mengantarkan makanan ke kamar mu. Bilang saja kau malas! Kalau sampai semester ini nilai dan peringkat mu masih lebih kecil daripada Supra, jangan harap kau akan mendapatkan uang jajan lagi!"
"Tapi, Bu. Malam ini Bibi tidak mengantarkan makanan ke kamar."
"Tinggal makan di meja makan apa susahnya? Kau masih tidak terima dengan kehadiran Ayah dan Petir, kan? Jangan sombong jadi orang!" Ibunya memukulkan sapu lidi ke tubuh Gentar. Gentar hanya bisa menangis menerima pukulan itu. Bukan apa, dia masih punya hati. Mentalnya semakin hari semakin terkikis semenjak kehadiran lelaki tua gila itu.
Dia tidak pernah menolak jika disuruh makan di meja makan. Malah dia senang sekali. Tapi, justru mereka yang masih tidak menerima kehadiran Gentar. Mereka yang melarang Gentar untuk makan di meja makan.
Dirinya sering dibawakan makanan oleh Bibi pembantunya. Tapi, itu makanan yang tidak layak dimakan oleh manusia. Makanan basi. Mentang-mentang indra pengecapnya rusak, ia jadi dikasih makanan basi oleh mereka. Karena itu, dia memilih membeli makanan sendiri di luar daripada memakan makanan basi.
"Kau tidak tau rasa sakitnya mendengar anak lain yang dipuji-puji. Sedang anak sendiri dihina-hina! Kau pemalas Gen! Ibu harus mengusir setan yang membuat mu jadi pemalas ditubuh mu!" Ibu Gentar terus menerus memukul Gentar.
"Gentar beneran, Bu. Tolong, jangan pukul Gentar lagi. Kumohon," ucap Gentar lirih. Tangisannya semakin tak terkendali. Gentar tidak bisa melawan Ibunya. Orang yang melahirkannya.
"Ibu harus mengusir setan pengganggu ditubuh mu, Gen!"
Ctass!
Ctass!
"Sa-sakit...,"
Ctass!
"Bohong! Kau tidak bisa merasakan sakit!"
Ctass!
Ctasss!
"Sakit, Bu!! Hati Gentar sakit dipukuli oleh Ibu!" Gentar menangis semakin keras. Ia tidak kuat. Rasanya lebih menyakitkan saat dipukul oleh Ibunya dengan sapu lidi dibandingkan dipukul Petir dengan sabuk berbahan kulit milik Petir.
Ibunya berhenti sejenak menatap anaknya yang sudah menangis meraung-raung. Ia masih emosi, tapi melihat anaknya menangis semakin menjadi membuatnya urung.
"Ingat! Kalau sampai semester ini nilai mu lebih kecil daripada Supra, Ibu ga akan kasih uang jajan lagi pada mu!"
BRAKK!
Pintu kamarnya ditutup dengan kasar oleh Ibunya. Gentar sendiri masuk terisak. Tubuhnya memang tidak merasakan sesakit apa pukulan Ibunya, tapi hatinya begitu sakit akan perlakuan kasar ibunya.
"Gue, benci sama Pak tua dan Anak-anaknya itu." Monolog Gentar sembari memeluk lututnya dipojok kamar. Ia menangis dengan sepuas hati disana.
Dulu, rumahnya begitu bahagia. Dia begitu diperhatikan oleh Bapaknya sendiri. Tapi sekarang, semenjak kehadiran mereka, hidup Gentar benar-benar bergerak di bawah.
–––
"Bang Sopan!" Teriak Angin. Wajahnya tampak khawatir. Ia memanggil Sopan yang masih berbicara dengan Anaknya Pak kyai.
"Ada apa Angin?" Tanya Sopan yang atensinya teralihkan.
"Bang Gen! Dia-dia tubuhnya kesakitan semua!" Seru Angin panik. Seketika itu Sopan memencet alarm di jam tangannya. Ia meminta izin kepada gus tersebut, sebelum akhirnya keluar dari pondok pesantrennya.
Sopan dengan cepat pergi ke rumah Gentar. Sebelum itu, ia membeli beberapa makanan dan minuman untuk temannya itu. Ia berlari secepat mungkin sampai akhirnya ia sampai di rumah besar milik Gentar.
Sopan melihat Dokter pribadi Gentar yang tampak panik dan berusaha menerobos keamanan rumah itu. Ia mencari tau dimana kamar milik Gentar, tapi tak kunjung ia temukan.
"Dik, dimana kamar Gentar?" Tanya Dokter tersebut kepada Tanah. Tanah mengerutkan kening bingung.
"Ada apa Dokter datang ke mari? Abang Gentar tidak ada disini!"
"Bohong! Gentar pasti ada disini. Kasih tau dimana kamar Gentar!" Seru Sopan.
Ia sudah berkali-kali memasuki rumah Gentar. Tapi Gentar tidak pernah sedikit pun menunjukkan kamar miliknya. Dulu, Sopan pikir Gentar tidak nyaman untuk memberitahu tentang kamarnya, tapi sekarang, ia tau apa alasannya.
"Gentar!" Seru Sopan saat melihat Gentar yang terkulai lemas. Wajahnya membengkak karena menangis. Dokter tersebut meringis melihat keadaan Gentar saat ini.
"Ayo! Dokter bawa ke rumah sakit!" Seru Dokter itu. Dengan sigap Sopan dan Dokter membawa Gentar ke dalam mobil. Anak ini akan dirujuk ke rumah sakit.
–––
"Nih, makan! Pasti lemes banget." Sopan menyuapi nasi untuk Gentar. Dengan senang hati Gentar menerimanya.
"Terima kasih, Sop!" Seru Gentar. Senyumannya seperti dipaksakan. "Kenapa ga dipencet alarmnya? Atau engga kenapa ga telfon aku?" Tanya Sopan. Gentar menutup bibirnya bingung akan menjawab apa.
"Jangan digigit bibirnya. Sini buka mulutnya, aku mau lihat lidahnya masih aman atau engga." Gentar membuka mulut memperlihatkan bagian dalamnya kepada Sopan. Sopan mengangguk. "Masih aman. Ayo makan lagi!"
"Gimana lu bisa tau gue kenapa-napa?" Tanya Gentar lirih. Sopan tersenyum simpul.
"Agak aneh sama panjang juga ceritanya." Jawab Sopan. "Pendekkan."
"Tau dari Angin. Angin bilang tau dari jin yang waktu itu ngibulin aku katanya," kata Sopan.
"Heh! Adik jadi-jadian lu itu indihome?" Tanya Gentar. Sopan mengangguk kecil.
"Gila!!" Seru Gentar tak percaya. "Gue kira cupu, ternyata suhu!" Lanjutnya.
"Asal kamu tau, Gen! Katanya, jinnya itu mirip kamu. Mukanya banyak darahnya sebadan-badan. Terus, dia selalu ngikutin aku kemana pun aku pergi." Sahut Sopan. Gentar mengedipkan matanya tak percaya.
"Tu-tunggu. Jadi, jinnya ngikut kesini juga?" Tanya Gentar yang tampak mematung itu.
"Iya! Kata Angin si, jin qorinnya mau minta bantuan ku, tapi Angin ga tau mau minta bantuan apa? Katanya." Jawab Sopan. "Duh, Pan! Walaupun gua ga tau rasanya merinding, tapi gue bisa ngerasain rasa takut, Pan! Terus apa katanya itu, jin itu mirip gue? Ga mungkin!" Seru Gentar tak percaya.
"Oh iya, aku tadi udah minta yang lain buat dateng ke sini. Em, jangan bilang ke siapa-siapa tentang jin itu, ya?!" Pinta Sopan. Gentar menyeringai jahil.
"Bilang, ah! Eh, kalian! Sopan ya diikutin jin qo_ emmph!" Mulut Gentar ditutup oleh Sopan. Sopan mendelik galak. Pengen banget dia tuh mau cubit ginjal temennya, tapi percuma, temennya itu ga bisa ngerasain sakit.
"Jangan, ish! Kalau kamu bilang ke mereka, nanti aku sakitin kamu sampe masuk rumah sakit!" Ancam Sopan. "Ish, Sopan ya jahat!" Gentar memanyunkan bibirnya sebal. Kan, cuma mau main-main aja, ga beneran bakal dibilangin ke siapa-siapa.
"Biarin!"

KAMU SEDANG MEMBACA
Human Sides [Tamat] ✓
AcakDibalik topeng yang selalu manusia pakai, ada sisi lain yang tidak mereka tunjukkan. Mari adu nasib! Siapa yang paling menyedihkan? 16 + Cover by Monsta Calendar 2023