¦26¦

85 14 4
                                    

Glacier berjalan menuju kamar Kakaknya. Mereka sekarang akan pulang ke rumah.

"Air bisa jalan?" Tanya Ayahnya pada Air. Air menggeleng. Dia begitu kesusahan saat berjalan. "Biar dibantu Glacier dulu. Ayah mau beresin barang-barangnya," ucap Ayahnya sembari menyerahkan Air ke Glacier.

Glacier diam saat Air berusaha menyeimbangkan diri saat berjalan. Glacier tidak habis pikir. Padahal Air saat ini masih belum pulih sepenuhnya, tapi mereka memaksakan untuk pulang ke rumah.

"Pelan-pelan, Kak."

"Hm."

Glacier terus menuntun Air hingga sampai ke sepeda motor milik Air. Meninggalkan Ayahnya yang masih rempong dengan barang-barang milik Air. "Kasihan Ayah, Glace." Risau Air.

"Kalau kasihan harusnya jangan sampai kecelakaan, Kak." Balas Galcier membuat Air terdiam. Itu memang benar.

"Untung kau kenal Bang Petir, Kak. Kalau engga, kita udah ga ada uang buat makan sekarang." Lanjut Glacier. "Harusnya aku ga buat ulah begini." Air menunduk sedikit. Berusaha tenang.

Glacier menepuk bahu Air berusaha menenangkan. "Kau harus cepat selesai setelah itu bekerja untuk membalas jasa Ayah."

"Terus kau?" Tanya Air. "Aku akan coba cari kerjaan aja. Setidaknya aku bisa menghidupi diri ku sendiri." Glacier tersenyum kecil. Ya, dia sudah pikirkan ini matang-matang.

Air mengangguk mengerti. "Kerja di mana? Kau tau, kan, ijazah SMA itu ga berlaku lagi?" Tanya Air. Glacier berpikir sejenak. Benar juga apa yang Air katakan. "Kau tidak perlu tau. Yang penting, aku tidak melakukan cara haram untuk menghasilkan uang." Jawab Glacier.

–––

"Gentar!" Seru Sopan sembari meraih tangan Gentar untuk berjabat tangan. Maunya si pelukan, tapi tubuh Gentar sekarang lagi masa pemulihan.

"Khawatir, ya?" Goda Gentar membuat Sopan gemas untuk memukulnya. Ada-ada aja Anak itu. "Mau ku tinggal?" Ancam Sopan. Gentar terkekeh lalu menggeleng. Tentu saja tidak mau. Ga seru kalau tidak ada Sopan. Ga ada yang bisa dijahilin soalnya.

Gentar menatap teman-temannya yang juga datang menjenguknya. Mereka kelihatan lesu sekali. "Kalian capek, ya, nungguin gue?" Tanya Gentar. Mereka menggeleng. Bukan itu.

"Terus apa?" Tanya Gentar lagi. Supra mendekat ke ranjang Gentar sedikit gugup. "Papa sama Ibu lu, cerai, Gen." Jawab Supra. Gentar mengerjap pelan. Tenyata karena itu toh.

"Tanah lagi nangis di luar. Papa ngucapin talak dihadapan banyak orang." Lanjut Supra. Gentar mengangguk mengerti. "Bukannya bagus, kan? Keluarga kecil kalian bisa balik lagi?" Tanya Gentar.

"Memang. Tapi Tanah kayanya ga terima lihat Ibu lu diceraikan sama Papa. Gue jadi ga enak," ucap Supra. Gentar tersenyum berusaha menenangkan Supra.

"Tanah itu kena DID. Yang lagi nangis di sana pasti Tanah Arman, bukan Adik gue." Supra mengerutkan kening bingung. "Jadi Adik lu kena DID? Kok bisa? Karena apa?" Tanya Supra.

"Itu karena, sewaktu Bapak gue dijebak, dia dikunci di gudang dekat sana. Gue juga ada di sana, tapi gue berhasil keluar dari situ dan ninggalin Tanah yang waktu itu ketakutan. Gara-gara gue keluar dari gudang, akhirnya gue mau disiksa sama mereka. Tapi sayangnya Bapak nyelamatin gue." Gentar mengambil nafas sejenak sebelum melanjutkan ceritanya.

"Bapak benar-benar perhatiin segala kondisi gue. Sampe waktu makan juga beliau ketat banget ngawasinnya demi biar gue bisa bertahan sampe dewasa." Gentar tersenyum kecil saat mengingat betapa perhatian Bapaknya padanya.

"Tanah juga ga kalah disayang. Dulu kita bahagia. Bapak kerja juga bantu Ibu gue ngejar karirnya. Sampe akhirnya ada orang yang dengki sama beliau dan berusaha ngambil semua yang dia punya."

"Maaf," cicit Supra sepelan mungkin. Gentar terkekeh kecil mendengarnya.

"Gue lari saat Bapak gue diseret. Tubuh gue udah penuh dengan darah Bapak dimana-mana. Gue juga dikejar sama Bapak lu sampe gue tersandung di jalan terus kepala gue terhantam batu sampe akhirnya gue pingsan. Bangun-bangun gue ada di rumah sakit. Bapak lu juga jadi baik banget ke Ibu gue sampe buat Ibu gue jadi buta cinta sama dia." Jelas Gentar.

"Waktu itu, Tanah juga diselamatin sama Papa lu. Papa lu seakan menjadi hero buat dia. Gue ga tau apa yang Papa lu bilang ke Tanah sampe kepribadian lainnya dia ngira gue yang bunuh Bapak itu gue sendiri. Sejak saat itu Tanah kena DID. Gue juga kaget waktu dia tiba-tiba berubah 180° dibandingkan Tanah yang gue kenal." Lanjut Gentar menyelesaikan ceritanya.

"Gudang depan kuburan?" Tanya Sopan yang baru saja konek. Gentar mengangguk membenarkan. "Eh, itu gudang dulu bekasnya pembantaian orang. Kata Ayah ku begitu. Kalau kata Angin setiap lewat sana, di sana banyak arwah penunggunya." Jelas Sopan membuat yang lain merinding.

"Loh, jadi Angin indigo?" Tanya Sori. Sopan mengangguk. "Aku bisa temuin tulang Bapaknya Gentar karena bantuan Angin." Jawab Sopan.

"Gila! Ga nyangka gimana kesiksanya Anak itu setiap ngeliat makhluk yang aneh-aneh." Seru Frostfire merinding. Sopan tertawa kecil mengingat sesuatu. "Aku juga sering diikutiin jin qorin Bapaknya Gentar sebelum dikuburin. Dia juga seringnya bareng aku di pondok. Jadi, ya, ngerti lah!"

"WEH YANG BENER?"

"Beneran!"

"Jauh-jauh Sop! Gue merinding." Frostfire berlari ke belakang tubuh Sori. Sori juga ikut bersembunyi di belakang tubuh Glacier.

"Kalian apa-apaan dah. Cemen banget." Ejek Glacier kepada kedua temannya yang bersembunyi di belakang tubuhnya. Gentar dan Sopan kompak tertawa melihatnya. Seru sekali melihat mereka ketakutan.

"Kan, gue bilang juga apa. Mereka itu takutan!" Ejek Gentar tidak ada habis-habisnya.

"Lu ini! Suka banget jahilin orang," kata Supra sembari terkekeh kecil.

"Seru banget lihat muka kesal kalian. Lucu banget tau!" Seru Gentar membuat mereka semua mendelik tidak terima.

–––

"Maafin gue, Gen!" Ucap Petir pada Gentar. Seandainya dia sadar dari dulu, mungkin dia ga akan menyakiti Gentar segitunya

"Maaf diterima." Jawab Gentar.

"Segampang itu?" Tanya Supra tidak terima. "Iya." Jawab Gentar. "Dia udah jahatin lu sampe ke akar, dan lu maafin dia gitu aja? Minimal peras juga lah hartanya." Seru Supra tidak terima. Enak aja Petir lolos dari hukuman.

Gentar terkekeh puas melihat Supra yang tidak terima. "Itu urusan nanti. Apa katanya yang Maha Kuasa. Nanti gue cuma mau minta jagain sama sayang Tanah dari jauh." Balas Gentar. "Kalau itu siap 45!" Seru Petir sedikit semangat.

"Itu keenakan, Gen. Nanti kalau dia ngulang lagi gimana?" Tanya Supra. "Gue kick aja dia dari dunia ini." Gentar mengedipkan sebelah matanya membuat Petir bergidik. Agak lain ni anak pikirnya.

"Good! Gitu dong."

"Gue bukan Adik lu lagi, ya, Sup?" Gentar tersenyum cerah. Supra melihatnya langsung merubah wajahnya jadi datar. "Lu tetep Adik tiri gue. Ga mau tau!"

"Maksa banget dah!"

"Biarin!"

Human Sides [Tamat] ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang