¦25¦

78 13 0
                                    

"Bangun!"

PYURR! Seember air yang masih baru saja mendidih disiramkan pada tubuh Gentar. Gentar yang tertidur itu menggeliat saat merasakan tubuhnya begitu basah.

Kulit Gentar yang terkena siraman air panas langsung melepuh begitu saja. Pria itu terkekeh puas melihatnya. Memang benar, Gentar ternyata pengidap CIPA.

Pria itu menendang tubuh Gentar yang masih menggeliat tidak nyaman. "BANGUN!" Teriak pria itu. Gentar yang tubuhnya ditendang langsung saja bangun. Dirinya mengucek matanya masih mengantuk.

"Bagus!" Puji pria itu. Pria itu berjongkok untuk menyamakan dirinya dengan tubuh Gentar.

"Kau sudah bertindak ternyata." Pria itu menarik dagu Gentar membuat anak itu mendongak. Pupil mata Gentar mengecil ketakutan.

"Lepas! Lepasin Gentar!" Teriak Gentar saat orang itu memaksa Gentar untuk berdiri. Gentar terbelalak melihat tubuhnya sudah melepuh. Dia memberontak. Papanya sudah berniat untuk menggesek lukanya dengan ampelas atau kertas pasir.

"Arkh! Sakit!" Teriak Gentar agar Papanya itu berhenti menyakitinya. Bukannya merasa prihatin, pria itu justru tetap menggosokkan ampelas itu ke tubuhnya. "Kumohon berhenti! Sakit!" Ringis Gentar. Anak itu membayangkan betapa sakit tubuhnya jika ia bisa merasakan rasa sakit.

"Kau penipu, dasar biadap!" Sentar pria itu. "Kau tidak usah sok kesakitan, dasar cacat!" Lanjutnya. Gentar menangis. Bukan karena kesakitan, melainkan rasa kecewa yang besar.

"Aku biadap? Kau yang merampas seluruh harta Bapak ku dan menghancurkan hidup Bapak juga Anaknya, kau kata aku biadap?!" Gentar terkekeh miris. Ia melepas paksa cengkraman pria itu dari badannya. Mendorong pria itu sekuat mungkin hingga pria itu terjatuh dan menabrak tembok.

"Kau tidak pantas hidup!" Hardiknya. "Kau yang tidak pantas untuk hidup, lalat pengganggu! Kau tau apa kebiasaan lalat, kan? Makan sampah!" Ejek Gentar.

Pria itu marah saat mendengar ejekan Gentar. Dirinya berdiri lalu berlari mencengkram rambut Gentar lalu menjambaknya. Gentar berteriak sekeras mungkin. Kali ini bukan untuk menarik simpati Papanya, melainkan untuk mengundang perhatian keluarganya.

BRAK!!

"PAPA!" Petir berlari menahan Papanya yang berusaha lepas dari tahanannya. Tanah juga ikut membantu.

"Gentar!" Ibu Gentar juga ikut berlari saat mendengar suara teriakan Gentar. Ia menangis tak kuasa melihat keadaan anaknya.

"Gentar! Kau tak apa-apa, Nak? Ya Allah!" Ibunya gemetaran saat melihat kulit Gentar yang melepuh akibat air panas. Ia tak kuasa menahan tangisnya saat melihat Anaknya.

Gentar berusaha tersenyum untuk menenangkan Ibunya. "Gentar ga papa, Bu." Ibunya menggeleng. Ia tau bahwa Gentar tidak baik-baik saja. Tidak pernah baik-baik saja.

"PAPA JAHAT!" Teriak Tanah saat melihat Gentar benar-benar tampak mengerikan. Dia menangis meraung-raung kala melihat keadaan Kakaknya yang berantakan.

"Kau! Aku cabut seluruh harta yang ku berikan pada mu. Semuanya!"

"Dan aku akan menceraikan mu!"

"Aku tidak peduli! Gentar lebih berharga dari mu, dasar tamak! Kau lebih tidak berharga dari sebutir kacang!" Hardik Ibu Gentar yang membuat suaminya murka. Tentu saja siapa yang tidak murka saat harga dirinya disamakan dengan sebutir kacang.

"Pergi bawa Papa mu dari rumah ini, Petir!" Pinta Ibu Gentar telak mengusir pria itu. Ia akan membawa Gentar pergi ke rumah sakit. Gentar sedang kritis sekarang.

–––

"Ustaz, saya harus segera pergi ke rumah sakit sekarang juga!" Pinta Sopan sedikit memaksa. Pasalnya dirinya ditahan agar tidak diperbolehkan keluar dari pondok.

"Kamu sudah berkali-kali izin sebulan ini. Sekarang kamu izin dengan alasan teman mu masuk rumah sakit?" Ustaz tersebut menatap Sopan tidak percaya. Lagi pula hanya teman, bukan keluarga inti.

Sopan bergerak gelisah. Yang ada dipikirannya saat ini hanyalah Gentar, Gentar dan Gentar. Sopan beristighfar untuk menenangkan dirinya. Dia mengambil nafas beberapa kali sebelum menghadapi gurunya.

"Sebenarnya saya punya amanah yang harus dijaga, Ustaz." Sopan menatap sayu gurunya. "Amanah apa?" Tanya Ustaz tersebut.

"Saya diberi amanah untuk selalu menjaga teman saya. Teman saya pengidap penyakit CIPA, Ustaz. Jadi, dia tidak bisa merasakan rasa sakit. Sekarang juga saya dapat kabar kalau teman saya masuk rumah sakit karena disiram air panas sama Papa tirinya." Jelas Sopan. Ia tidak bisa menahan air matanya lagi. Jelas Sopan sedih karena tidak bisa menemani Gentar.

"Siapa yang beri kamu amanah? Bukannya teman mu memiliki keluarganya," kata Ustaz tersebut. Sopan menunduk dalam. "Dokter teman saya, Ustaz. Keluarganya tidak begitu peduli dengannya. Juga, hanya saya teman dekatnya." Jawab Sopan sembari terisak kecil. Tangisannya lepas sekarang juga.

"Saya mohon Ustaz. Beri saya izin. Saya harus menemani teman saya." Sopan mendongak memohon kepada Ustaznya. Karena ini dia tidak suka saat harus izin kepada Ustaznya. Lebih baik dia meminta izin langsung ke gus atau kyainya.

"Huh, baiklah. Tapi setelah ini kurangi izin keluar." Peringat Ustaznya yang langsung dihadiahi anggukan. Sopan tersenyum kecil saat mendapatkan surat izin keluar. Akhirnya dia bisa menemani Gentar.

–––

"Gentar gimana?" Tanya Sopan yang nafasnya terengah-engah sehabis berlari. "Gentar lagi ditangani sama Dokter. Ngeri banget gue waktu lihat kulitnya Gentar yang melepuh itu kaya abis digesek," kata Sori merinding.

"Ya Allah. Kejam banget itu Papanya." Sopan menggigit kukunya melupakan keberadaan Supra di sana.

"Tolong cabut semua fasilitas yang ku berikan pada suami ku saat ini dan lakukan pemindahan nama menjadi atas nama Gentar dan Tanah. Harta Traisca seharusnya menjadi milik mereka." Ibu Gentar berjalan ke sana kemari sembari berbicara dengan seseorang ditelefon.

"Oke baik."

"Apa maksud mu?"

"Apa lagi? Mengembalikan apa yang seharusnya menjadi milik anak ku," kata Ibu Gentar.

"Apa? Kalau begitu aku talak kamu sekarang juga!"

"Fine!" Mendengar itu, Papa Supra lantas pergi dari rumah sakit meninggalkan Ibu Gentar.

Sopan dan seluruh temannya yang mendengarkan mengerjap bingung. Tanah juga di sana sedang dipeluk oleh Petir. Tanah menangis dipelukan petir. Dia tidak pernah menyangka akan hal ini.

"Tenanglah,"

"Gue ga tau mau seneng atau sedih," kata Supra memecah keheningan. Tubuhnya sudah merosot dari posisi duduk tegapnya begitu lemas. Yang lainnya memeluk Supra berusaha menenangkan.

Sopan di sana hanya bisa melongo tak percaya. Semudah itukah mengucapkan talak? Itu mengerikan. Dampaknya begitu besar bagi Anak-anak mereka.

Human Sides [Tamat] ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang