¦18¦

87 14 11
                                    

"Bang, kalian semua dipanggil ke ruang BK sama Pak Gempa." Seorang siswa memberitahu kepada sekumpulan anak itu.

"Kita juga?" Tanya Gopal yang kebetulan juga ada di sana bersama Fang dan Qually.

"Em, kalian bertiga ga diajak. Katanya Cuma Bang Api, Bang Frostfire, Bang Galcier, Bang Supra, Bang Sori, Bang Gentar sama Bang Sopan." Kata anak itu. Gopal cemberut kesal. Fang menarik anak itu dan Qually mengikuti dibelakang.

"Kalau ga diajak, ga usah maksa." Hardik Fang.

Yang lainnya tertawa melihat itu Gopal memang moodbooster.

Setelahnya mereka pergi ke ruang BK untuk memenuhi panggilan gurunya. Terlihat ada beberapa pasang mata yang menatap mereka di ruang BK. Ternyata Pak Gempa tidak sendiri, tapi juga bersama guru yang lain.

"Eh, kalian sudah datang. Mari duduk sini kalian!" Pak Gempa mempersilahkan mereka untuk duduk. "Ada apa, Pak?" Tanya Frostfire mewakili.

"Oh, ga ada apa-apa sebenarnya. Cuma perihal nilai. Sebenarnya saya hanya memanggil enam anak saja, tapi ternyata Supra ikut juga." Pak Gempa tersenyum ramah kepada anak muridnya. Mereka bertujuh saling pandang, apa ada hal penting? Begitu pikir mereka.

"Ekhm, jangan terlalu banyak basa-basi, Pak Gem," kata Pak Hali. Pak Gempa mengangguk.

"Jadi begini, sebenarnya, ada kesalahan input nilai. Jadi, kami ingin memastikan nilai kalian karena kalian masuk ke dalam 5 besar. Anak yang lain sudah kami konfirmasikan, ternyata nilainya sudah benar. Jadi, tinggal kalian." Jelas Pak Gempa.

"Sepertinya Supra juga harus ikut melakukan perbaikan input dalam nilainya, Pak Gem." Seru Pak Solar sembari memperbaiki kaca matanya. Matanya menatap tajam Supra. Biar pun dia ternyata adalah Anak kepala sekolah.

"Yang dikatakan Pak Solar benar. Mungkin bisa jadi kesalahan input nilai ada di Anak peringkat satu." Pak Ais menatap datar mereka. Hal seperti ini jarang terjadi selama ia menjadi guru.

"Em, sebelumnya, kenapa ada kesalahan input, ya, Pak?" Tanya Sopan. "Jadi, nilai di data guru, tidak sama dengan nilai yang dimasukkan ke rapor. Tidak ada yang menyadari itu selain kami, oleh karena itu kita ingin memastikan." Jelas Pak Taufan. Pak Duri mengangguk membenarkan ucapan Pak Taufan.

Gentar menatap jengah mereka. Ia tau kenapa kesalahan input itu terjadi.

"Peringkat pertama jurusan IPA, Supra. Peringkat kedua, Gentar. Peringkat ketiga, Sori. Peringkat keempat, Sopan. Lalu di jurusan IPS, peringkat pertama, Glacier. Peringkat kedua, Api. Peringkat ketiga, Frostfire." Absen Pak Duri.

"Jika memang benar terjadi kesalahan input, ini bisa berpengaruh dengan dapodik kalian. Kalian bisa didiskualifikasi dari pendaftaran menuju universitas mana pun." Jelas Pak Gempa setelah mendengar Pak Duri.

"Sepertinya untuk jurusan IPS tidak ada kesalahan input," celetuk Pak Blaze tiba-tiba. Temannya menatap tajam Pak Blaze. "Kau orang tua Api, Pak. Jadi, hal ini juga harus dipastikan," ucap Pak Hali menatap tajam temannya. Pak Blaze menghela nafas pelan.

"Baiklah,"

Mereka berlima yang mendengarnya terkejut sontak menatap Api meminta penjelasan. Api mengatupkan bibirnya lalu tersenyum watados.

"Sudah! Kalian sebaiknya segera mengambil rapor kalian lalu kita akan memastikannya. Jika memang ada kesalahan, kita harus segera memperbaikinya sebelum penentuan eligible." Pinta Pak Gempa.

Mereka semua mengangguk dan mengikuti perintah Pak Gempa. Mereka harus memperbaiki hal ini sesegera mungkin.

Tak lama mereka kembali membawa rapor masing-masing. Mereka menghitung keseluruhan nilai, lalu mencocokkannya dengan yang ada dirapor.

"Sudah saya duga memang ada kesalahan nilai dirapor kalian. Saya harus memperbaiki ini dan melakukan perangkingan kembali, agar tidak terjadi kesalahan fatal.

Sori mencebikkan bibirnya kesal. Rangkingnya tetap di rangking 3. Frostfire berusaha tersenyum, ternyata memang ada yang mengubah nilainya, bukan karena ia tidak mampu.

"Kalau begitu, kalian bisa kembali ke kelas. Kalian tidak boleh bolos di jam pelajaran berikutnya," kata Pak Hali menatap tajam mereka semua. Mereka mengangguk lalu pergi ke kelas mereka masing-masing.

"Baik, Pak."

–––

"Bagaimana bisa ada kesalahan input?! Untung kalian langsung menyadarinya. Jika tidak, bagaimana jika Anak-anak harus kehilangan masa depannya?!" Bapak kepala sekolah menatap marah mereka bertujuh. Gurunya ini tidak dapat diandalkan.

"Maaf Pak. Lain kali kita akan berusaha untuk lebih teliti lagi dalam menginput nilai." Pak Gempa dan yang lain menundukkan sedikit kepala mereka.

"Jangan sampai ada kesalahan input lagi di kemudian hari!" Bapak kepala sekolah menatap galak mereka. "Pergilah! Kalian membuat ku muak." Usirnya.

"Baik, kalau begitu kami pamit dulu." Pak Gempa mengajak temannya keluar. Sudah ia duga. Walaupun Bapak kepala sekolah memarahinya dan teman-temannya seakan ia tidak tau apa pun, tapi ia mengerti siapa yang membuat kesalahan itu.

"Bapak kepala sekolah sepertinya tidak menyayangi Gentar. Beliau tidak ada terima kasihnya kepada pemilik sekolah ini." Pak Duri tersenyum menatap mereka. Mereka semua mengerti itu.

"Sudahlah, biar itu menjadi urusan mereka." Pak Ais menatap malas mereka.

–––

Peringkat angkatan jurusan IPA.

1. Gentar Traisca

2. Supra Erzhan Ezal

3. Sori Arunika Prawara

4. Muhammad Sopan Kiyora

5. ...

Peringkat angkatan jurusan IPS

1. Glacier Haruman

2. Frostfire Eira Egan Acerios

3. Fire Phoenix Egan Acerios

4. ...

Mereka semua melihat mading. Ada perbedaan nama yang kentara. Supra menatap datar mading itu. Berbeda dengan Gentar yang tersenyum tipis. Ibunya pasti bahagia kalau tau ternyata anaknya selama ini berada di peringkat satu.

Frostfire dan Api saling pandang. Namanya bertukar tempat juga.

"Yah, baguslah aku ga lengser dari peringkat satu," celetuk Glacier membuat Api dan Frostfire menatap tajam anak itu.

"Apa?"

"Ngalah please!" Bujuk mereka berdua membuat Glacier menaikkan satu alisnya. "Kalau mau peringkat satu, kalahin gue. Kalau gue ngalah buat kalian, artinya kalian cemen!" Jawab Glacier.

"Pwiss!" Frostfire dan Api menggelandoti Glacier memintanya mengalah. Keluarganya benar-benar keras masalah nilai.

"No! No!"

"Huhuhu, Glace jahat!" Rengek Frostfire.

"Biarin."

Disisi lain Sori dan Sopan tertawa nilai mereka juga mengalami perubahan, tetapi tidak ada perubahan pada rangking mereka.

Yang dilawan otaknya wah banget. Apalagi si Gentar yang sepertinya makan baterai tiap hari buat otaknya udah di luar nalar galaxy. Juga Supra yang selalu makan abunya buku setiap hari. Ya, gitu deh jadinya.

"Kenapa kalian tertawa?" Tanya Supra menatap aneh mereka. Sori dan Sopan bertos ria.

"Ga ada. Cuma menertawai nasib," Sori terus tertawa membuat Supra mendelik aneh. Gentar tersenyum tipis melihat itu, ia tidak peduli yang penting masalah ini akhirnya terungkap.

Human Sides [Tamat] ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang