¦23¦

214 37 9
                                        

"HAPPY BIRTHDAY!"

Seruan itu mengejutkan Gentar yang baru saja bangun dan keluar dari kamarnya hendak ke kamar mandi. Ia tau hari ini adalah hari ulang tahunnya, tapi ia tidak menyangka akan terkejut dengan kejutan itu. Awalnya dia mau pura-pura kaget malah kaget beneran.

"Tu-tunggu, apa? Kalian juga ikutan? Wahh!" Gentar berbinar menatapnya. Kue berbentuk kotak dengan hiasan boneka yang tampak seperti wajahnya. Dia tidak menyangka itu.

"Iya dong! Kita, kan, best friend! Ayo kita seharian turutin maunya Gentar!" Seru Frostfire. Mereka semua bersorak hore. Gentar senang bukan main.

"Hahahha! Kalian akan ku jadikan babu seharian!" Seru Gentar yang dihadiahi pelototan oleh temannya. "Enak aja!" Seru mereka. Gentar terkekeh mendengarnya.

Mereka lucu sekali dimata Gentar.

Yang paling Gentar ga nyangka itu adalah kehadiran Supra yang tiba-tiba. Gimana engga? Supra juga hadir disini ikut memberi kado.

"Aww, Babang Supra datang juga!" Seru Gentar senang dia menjabat tangan Supra seperti saat ia menjabat temannya. Anehnya, Supra tidak ketus atau protes padanya. Padahal anak itu kalau tidak suka sama orang lain, dia ga bakal mau kontak fisik sama orang itu.

"Hm, kasihan, Adik sendiri soalnya." Jawab Supra. Percayalah! Gentar meleleh mendengarnya. Tapi harus tetap stay cool.

"Ya, ya, baiklah. Kuenya boleh dipotong ga? Gemes banget pengen makan muka ku sendiri." Seru Gentar yang membuat mereka semua menatap horor Gentar.

"Wahhh, ga bener! Harusnya kita yang ngap boneka Gentar! Kok jadi yang punya mukanya yang mau ngap?!" Seru Sori tak terima. Gentar terkekeh mendengarnya, seru aja gitu.

"Lucu banget soalnya! Kalian malah ngehide buat kue tart dikasih boneka muka ku. Cu bangettt!" Serunya. Mereka semua tersenyum mendengar Gentar yang terlihat bahagia. Kemarin saja Gentar benar-benar murung seharian sampe harus digodain sama Frostfire, Glacier dan Sori.

"Ya sudah, kita makan muka Gentar bareng-bareng. Mau yang aslinya atau yang bonekanya?" Tanya Sopan menengahi. Gentar shock berat mendengarnya. Itu yang bilang Sopan sendiri!

"Mukanya!"

"Sopan, lu jahat banget." Bibir Gentar melengkung ke bawah tampak sedih. Sopan melihatnya merinding geli dengan ekspresi yang diberikan Gentar. Ada-ada aja Anak ini.

"Gentar, make a wish sebelum potong kue. Bayangin, dengan lu potong kue ini, lu seperti pecahin celengan ayam yang isinya sudah penuh sampe ga bisa diisi lagi. Isinya tumpah di mana-mana waktu pecahin celengannya. Dan sebelum pecahin celengannya, pasti lu harus pikirin bakal dibuat apa isinya, kan?" Jelas Sori panjang lebar.

Gentar terkekeh kecil mendengarkannya. Perumpamaan Sori begitu meyakinkan. Ia mengangguk lalu mengambil pisau untuk memotong roti. Matanya ia pejamkan untuk membuat sebuah permintaan. Permintaan yang benar-benar ia impikan sedari dulu.

Setelah mengucapkan permintaan, Gentar membuka matanya kembali lalu memotong kue tersebut. Gentar pernah mengingat bagaimana rasa kue tart buatan Bapak Ibunya. Tapi sayang, kali ini ia harus kehilangan indera perasanya.

"Gue harap, gue bisa jadi seperti manusia normal pada umumnya."

Dibalik harapan itu, memiliki makna yang dalam penuh dengan segala rasa sakit yang ia rasakan. Sakitnya adalah tidak bisa merasakan sakit. Karena itu, dia berharap dirinya bisa merasakan sakit seperti orang normal. Dia bersyukur sekali jika hidupnya tidak berhenti diangka 25 tahun.

Mereka semua menatap haru. Doa-doa terbaik dilantunkan oleh mereka yang merayakannya. Termasuk Tanah, Adiknya sendiri.

–––

Human Sides [Tamat] ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang