¦21¦

211 28 8
                                        

"Angin! Angin!" Seru Sopan. Sopan melihat Angin tengah menyapu halaman. Angin yang dipanggil itu menoleh kebelakang. "Ya, Bang?" Tanya Angin.

Sopan memberi gestur mendekat kepada Angin. Angin menurut. Dia sedikit berlari menuju Sopan. Sopan menatap Angin lamat.

"Bisa ga tanya sama jin qorinnya? Siapa namanya? Kenapa ngikut aku terus?" Tanya Sopan bertubi-tubi. Angin menganga tak percaya. Tumben Abangnya itu jadi kepo?

"Em, jinnya ga mau jawab. Coba kalau Abang Sopan tanya sendiri." Usul Angin.

"Abang mana bisa ngomong sama jinnya, Angin!" Seru Sopan kesal. "Ya, coba aja dulu. Hmm, nanti waktu di sepertiga malam sebelum salat tahajjud, nanti Angin kasih air kembang. Abang bisa coba tanya sendiri."

"Air kembang? Maksud mu air bunga?" Angin mengangguk. "Tapi ga tau si itu bakal berhasil atau engga. Soalnya Angin ga pernah coba," kata Angin. Sopan mengubah ekspresinya menjadi datar. Angin yang melihatnya terkekeh.

"Nanti Angin ajarin caranya deh, Bang. Tapi janji jangan takut! Soalnya benar-benar hancur." Angin memperagakan tubuh merinding setelahnya tertawa.

"Kamu mah, ya! Suka banget buat orang merinding!" Sopan mendelik kesal lalu masuk ke dalam kamarnya. Apa-apaan dia dikerjain anak kecil!

Angin tertawa puas. Ia tidak berbohong sedikit pun. Memang benar tubuh asli dari pemilik jin itu sudah hancur.

–––

"Ini air kembangnya, Kak." Angin meletakkan air kembang yang ia maksud dihadapan Sopan. Sopan menatap ragu.

"Angin ga pernah berkomunikasi lewat perantara. Yang pernah Angin tau, orang tua Angin dulu selalu berkomunikasi dengan makhluk ghaib pakai cara ini." Jelas Angin.

"Orang tua kamu juga indigo?" Tanya Sopan. Angin menggeleng. "Engga. Tapi Ayah aku punya jin yang selalu ngikut kemana-mana. Jin itu juga berkomunikasi lewat air kembang itu. Kata Ayah, kembang itu buat dijadikan sebagai makanan bagi makhluk ghaib itu." Jawab Angin.

"Jadi, ini termasuk sesajen?"

"Bisa jadi iya, bisa jadi engga."

"Oh, iya, Angin keluar dulu. Seperti kata aku, Abang fokus ke air kembang itu dan mulai percakapan dengan mereka. Diawal pasti aneh, tapi setelahnya Bang Sopan bisa terbiasa." Angin berjalan keluar kamar. Ia mematikan lampu kamar dan menutupnya erat.

Angin sendiri memilih untuk mandi dan mengambil wudu sebelum salat tahajjud.

Disatu sisi, Sopan memfokuskan dirinya. Ia menatap air kembang itu. Pertama, ia meminta untuk berkenalan. Sopan menutup matanya. Ia berusaha untuk menetralkan segala isi kepalanya yang mengatakan hal ini begitu terlarang untuknya yang tak pernah melakukan itu.

"Si-siapa kamu?" Tanya Sopan. Tidak ada jawaban. Air kembang itu tampak menampilkan sebuah kejadian yang penampilannya tampak seperti di layar proyektor kelasnya. Seorang pria. Pria itu tampak mirip dengan temannya.

Pria itu tampak tengah mati-matian bertahan hidup.

"Gentar?" Tanya Sopan. Lagi-lagi tak ada jawaban.

Pria itu meringis kesakitan. Tubuhnya diremukkan perlahan. Diseret paksa. Jelas itu bukan Gentar. Gentar tak bisa merasakan sakit. Juga, pasti anak itu masih begitu kecil saat itu.

Pria itu memberontak. Ia berusaha berlari ke arah yang berlawanan seperti akan menyelamatkan sesuatu. Air kembang itu menunjukkan seorang anak kecil yang tubuhnya penuh luka. Air matanya sudah banjir air mata. Pria itu berusaha menyelamatkan anak kecil itu.

"A-apa? Itu Gentar!" Seru Sopan saat melihat siapa anak kecil itu. Fokusnya sedikit terpecah. Namun ia paksa untuk fokus.

Anak kecil itu berusaha berdiri diam-diam. Ia menghindari lelaki yang menyiksa Bapaknya. "BAPAK!" Teriak Gentar.

Human Sides [Tamat] ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang