"Supra ga masuk lagi," kata Sori menatap temannya khawatir. Sudah beberapa kali ia menghubungi anak itu tapi tidak mendapat jawaban.
"Coba telfon lagi."
"Ga dijawab, Glace." Sori bergerak gelisah. Ia harap-harap cemas. "Dia ga ada izin di kelasnya?" Tanya Sopan. Sori menggeleng kuat. Supra tidak ada izin ke kelasnya sama sekali.
Sopan terdiam sejenak. "Hari ini Gentar juga ga masuk. Tapi ga ada kabar. Ke kelas ga izin."
"Apa masalah keluarga mereka kali, ya?" Tanya Sori dan Frostfire.
"Kalau itu masalahnya bukan di ortunya, tapi di diri mereka sendiri. Mereka saling ga terima ortu mereka nikah lagi, jadinya, ya gitu." Sahut Glacier sembari memakan roti yang ia beli.
"Iya juga si."
"Sebenarnya Gentar pernah ga masuk sekolah ga pake izin begini. Waktu SMP dulu." Semuanya mulai menatap Sopan tertarik untuk mendengar. Kalau Sopan sudah cerita, berarti itu serius.
"Ga masuk kenapa?"
"Dia ga masuk karena harus dirujuk ke rumah sakit. Gara-gara dia minum air panas yang baru mendidih. Alhasil lidahnya ga bisa kenal rasa makanan lagi. Indra pengecapnya rusak." Jelas Sopan. Mereka semua melebarkan matanya tak percaya.
"Gila! Gue ga bisa ngebayangin dia ga bisa ngerasain rasa manisnya duren montong." Sori mendelik tak percaya.
"Jadi, Gentar setiap makan ga ngerasa apa-apa?" Tanya Frostfire yang tampak shock berat. "Iya, dia ga ngerasa apa-apa." Jawab Sopan sembari mengangguk.
"Ga kebayang ga bisa ngerasain makanan gitu. Jadi hambar hidupnya," celetuk Glacier.
"Itu kalau perasaan dia masih punya, kan? Kaya rasa sedih, marah, bahagia?" Tanya Frostfire membuat Sopan mendelik kesal.
"Ya bisa lah! Gentar itu bukan psikopat yang ga punya empati! Ngawur pertanyaannya!" Frostfire cengengesan menggaruk pipinya yang tak gatal. "Ya, siapa tau."
"Gentar juga selalu bawa jam. Di sana dia bisa pencet tombol alarm darurat. Aku juga dikasih alarm khusus buat kalau Gentar kenapa-napa dari SMP karena kejadian itu." Lanjut Sopan.
"Kenapa elu? Dia ga punya temen lagi apa gimana?" Tanya Sori. Sopan menggeleng. "Boro-boro temen. Dia malah dipandang sebagai monster sama mereka." Jawab Sopan membuat pupil mata mereka melebar.
"Siapa yang berani nganggep Gentar monster?! Orang gila kalo gitu!" Seru Frostfire. Sopan hanya mengangguk membenarkan.
"Makanya aku jadi takut sekarang. Takut Gentar kenapa-napa," ucap Sopan sembari memakan makanannya.
–––
Sopan berlari secepat mungkin dari kejaran Adudu. Jika dibilang Adudu baru membullynya setelah tanding silat hari itu, tentu saja tidak. Adudu sudah membullynya dari saat dia masuk kelas 10.
Lalu kenapa Sopan bertahan? Karena selama ini ia melawan Adudu dengan silatnya. Dulu dia berhasil melawan Adudu setiap kali orang itu akan membullynya, tapi sekarang kondisinya tak memungkinkan. Apatah lagi Adudu sudah semakin tangkas. Jadi dia tidak bisa melawan Adudu begitu saja.
"Heh, lu mau kemana sekarang?" Adudu tersenyum meremehkan Sopan. Sopan meneguk ludahnya kasar. Tangannya masih terasa sakit karena keseleo. Jika lawan Adudu sekarang, itu tidak menjamin tangannya bakal baik-baik saja setelah ini.
Saat Adudu akan menyerang, tiba-tiba ada satu buah busur panah dua mata mengarah menuju Adudu. Panah itu membuat Adudu menyingkir. Tapi siapa sangka ternyata panah tersebut menancap ke tembok tepat berjarak 1 cm dari mata Adudu.

KAMU SEDANG MEMBACA
Human Sides [Tamat] ✓
DiversosDibalik topeng yang selalu manusia pakai, ada sisi lain yang tidak mereka tunjukkan. Mari adu nasib! Siapa yang paling menyedihkan? 16 + Cover by Monsta Calendar 2023