¦24¦

101 14 6
                                    

Ini sudah beberapa hari lamanya Petir sudah tidak menyakiti Gentar lagi. Luka Gentar mulai mengering. Saat ini Frostfire sedang belajar bersama dengan Glacier. Sebagai gantinya, Glacier mendapatkan uang jajan tambahan dari Frostfire.

Wahh, mau jugaaa!

Supra sendiri sedang mengajari Sori pelajaran Fisika. Pelajaran yang paling anak itu benci sejagat raya. Yah, walaupun memang yang paling tidak Sori suka setelah Fisika itu pelajaran Kimia. Tapi anehnya, nilai Kimia dan Fisikanya sama anjloknya. Eh, ga aneh juga si.

Gentar sendiri sedang menjalani pengobatan seperti biasa. Lukanya harus dirawat agar kulitnya kembali mulus. Ya, mereka sekarang sedang berada di rumah sakit menemani Gentar.

"Ga gitu, Frost! Astaga! Capek gue ngajarin lu." Glacier mengusap wajahnya frustasi. "Ya, abisnya yang bagian ini susah banget!"

"Ga susah. Ini cuma bagian modus doang, Ya Allah." Glacier gemas sekali dengan Frostfire. Sudah beberapa kali dia salah menghitung modus data.

Sopan terkekeh melihatnya. Memang seru sekali melihat mereka berdebat.

"Parah kalau modus doang ga tau," celetuk Supra membuat Frostfire mendelik menyuruhnya diam. "Lu juga! Cuma medan magnet aja ga ngerti." Lanjut Supra.

"Ya, lu si! Otaknya dikasih makan abunya buku mulu. Lah gue, dikasih makan sayur doang!" Protes Sori kesal. Ni Supra ikhlas ga si ngajarinnya?!

"Ga ada hubungannya."

"Ada!"

"Gentar juga makan baterai. Jadinya otaknya agak-agak kinclong. Tapi kalo materi bahasa agak lemot." Sambung Sopan. "Ga usah bantuin Sori dah, Pan. Kalau dibantuin makin jadi anaknya."

"Wahh parah lu!" Sori mengetuk kepala Supra kesal. Enak saja anak itu.

"Lihat! Kurang ajar anak ini!" Supra mengetuk kembali kepala Sori membuat Sori merengek. "Ish, Supra jahat!"

"Eh, Sup!" Seru seseorang membuat perhatian mereka teralihkan. Supra terdiam saat melihat keberadaan Petir. Petir tampak sedang bersama dengan teman-temannya.

"Ngapain lu?" Tanya Supra. "Temen gue abis kecelakaan. Lu juga ngapain di sini? Lu bareng Gentar?"

"Oh, engga. Gentar di dalem lagi ganti kulit. Pergi sono jagain temen lu." Usir Supra. Sopan menatap horor kearah Supra membuat Supra berubah pikiran. Petir juga agak kesal sebenarnya, tapi ia ngerti keadaan.

"Jagain temen lu, Bang. Mereka cariin elu nanti," ucap Supra dengan sedikit lembut. Petir terbatuk kecil untuk menghilangkan kecanggungan lalu mengangguk memilih menemani temannya yang baru dibawa masuk ke IGD.

"Gue pergi dulu."

Mereka menatap Supra meminta penjelasan atas sikapnya. "Biasa, masalah keluarga." Jawab Supra.

Ting!

Glacier membuka Hp-nya yang berbunyi. Ia melihat sebuah pesan dari Ayahnya. Glacier membelalakkan matanya saat mendapat kabar Air sedang kecelakaan membuat temannya keheranan.

"Kenapa?" Tanya mereka semua.

"Kak Air! Dia kecelakaan!"

"Jangan-jangan yang tadi itu Kak Air lagi?" Tanya Frostfire yang membuat mereka semua juga berpikir hal yang sama.

"Gue ke IGD dulu. Ayah gue nyuruh gue datang ke sana." Pamit Glacier. Bukannya mereka mengangguk dan tetap diam, mereka justru mengikuti ke mana Glacier pergi.

"Sopan di sini aja. Nanti kalau Gentar butuh apa-apa gimana?" Mereka semua mengangguk lalu meninggalkan Sopan sendirian. Yah, begitulah mereka kalau ada hal heboh sedikit.

"Itu mereka ke mana?" Tanya Gentar yang baru saja keluar dari ruang pemeriksaan. "Kakaknya Glacier kecelakaan. Mereka semua lagi ke sana." Jawab Sopan yang membuat Gentar mengangguk lalu mengusulkam untuk menyusul ke sana.

–––

Gentar memasuki kamar Ibunya dengan mantap. Ia sudah memikirkan tentang ini sebelumnya.

"Bu," panggil Gentar. Sang Ibu yang dipanggil langsung menoleh padanya. Meninggalkan kesibukannya untuk mendengarkan Gentar.

"Ya?"

"Ibu, kan, pernah bilang ke Gentar. Kalau Gentar bisa dapat peringkat 1, Ibu akan menuruti seluruh keinginan Gentar," kata Gentar mendekati Ibunya. Wanita itu tersenyum pada Gentar. Ia tentu saja ingat dengan perkataannya.

"Gentar mau minta apa sama Ibu?" Tanya Ibu Gentar. Gentar menundukkan sedikit kepalanya lalu mengangkatnya kembali.

"Gentar mau minta, agar harta Bapak yang Ibu berikan ke Papa dicabut. Kalau bisa, seluruhnya." Jawab Gentar yang membuat Ibunya memandang shock Gentar.

"Maksud mu apa? Kalau gitu nanti Papa bakal cerain Ibu." Protes wanita itu. Gentar tersenyum teduh. Tentu saja ia tau.

"Jadi, cinta Papa ke Ibu hanya sebatas harta peninggalan milik Bapak?" Tanya Gentar yang membuat Ibunya terdiam seribu bahasa.

"Maksud mu?"

"Papa mencintai harta Ibu. Bukan mencintai Ibu. Sekalipun Ibu memaksanya." Gentar menunduk. Perasaannya porak poranda saat Ibunya menatapnya dengan tatapan tak percaya.

"Sekalipun Ibu memberi seluruhnya sampai Ibu dan anak-anak Ibu tidak mendapatkan sepersenpun harta Bapak, dia akan tetap meninggalkan Ibu. Karena Papa memang tidak pernah mencintai Ibu." Gentar mengangkat kepalanya. Menatap Ibunya nanar. Perasaannya gundah.

"Gen,"

"Gentar berbicara fakta, Bu. Kenyataannya, dia hanya memeras seluruh harta Ibu hingga tak tersisa sedikit pun."

–––

Langkah kakinya berjalan cepat menuju Ayahnya. Emosinya tak terkendali. Jadi selama ini dirinya hanya dijadikan boneka oleh Papanya?

"Pa!" Sentak Petir saat melihat Papanya tengah serius menatap komputer dihadapannya. Papanya yang mendapatkan sentakan dari Petir langsung menatap anak sulungnya.

"Apa?" Tanya pria itu heran. Petir mendekatkan wajahnya ke wajah Papanya.

"Apa maksud Papa membuat ku membenci Gentar?" Wajah Petir merah padam berusaha menahan emosinya yang meledak-ledak.

"Membenci Gentar? Bukankah kau sendiri yang inisiatif menyakitinya?" Jawab sang Papa menatap mata Petir dengan sengit. "Heh, Papa licik! Papa selama ini yang merampas harta Bapaknya Gentar. Memanasi aku agar menyakiti Gentar," Petir mengambil nafas berusaha agar tetap tenang.

Akhir-akhir ini Petir sedang mencari tau maksud perkataan Supra. Sebut saja Petir tengah mendapatkan ilham. Setelah beberapa hari mencari tau, justru ia mendapatkan informasi yang tidak berharap ia dengar.

"Papa juga membuat ku mengambil semua apa yang seharusnya menjadi miliknya. Petir juga baru tau kalau selama ini Gentar pengidap CIPA. Papa kejam! Papa jahat! Petir, ga akan percaya Papa lagi!" Petir memukul meja kerja Papanya untuk menyalurkan emosinya lantas berjalan keluar dari ruangan Papanya.

"Akhirnya kau tau lebih cepat dari perkiraan Papa, Petir. Keep it secret or you'll know the consequences. (Rahasiakan itu atau kau akan tau konsekuensinya." Ancam pria itu sebelum Petir benar-benar keluar dari ruangan Papanya.

Human Sides [Tamat] ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang