"Kenapa lu senyum-senyum gitu?" Tanya Supra kepada Glacier yang sedari tadi tampak senyum-senyum sendiri. Glacier yang disinggung itu malah tersenyum malu.
"Gue akhirnya dapet rumah kontrakan baru!" Jawab Glacier. "Oh iya? Dapat harga berapa?" Tanya Sori. Glacier menggaruk lehernya tidak gatal.
"Em, 2,5 juta. Tapi worth it si. Walaupun kecil, tapi setidaknya bisa buat tempat bernaung. Juga rumahnya ga gampang bocor kaya di rumah sebelumnya." Jelas Glacier. Mereka semua bahagia mendengarnya. Akhirnya Glacier tak tampak murung lagi.
"Alhamdulillah! Akhirnya ada tempat buat dijadikan tempat bernaung sekali pun tempatnya kaya gubuk. Kita harus selalu bersyukur dengan segala pemberian Allah." Ujar Sopan membuat mereka semua ikut mengucapkan hamdalah.
"Enak bener, ya, punya temen kek Sopan bisa diingetin akhirat tiap waktu. Walaupun kita tetep kek gini-gini aja, ga niat tobat," celetuk Api membuat mereka terkekeh senang.
"Oh, kelas gue ama Sori udah masuk waktunya Pak Duri. Gue duluan." Pamit Supra yang langsung menarik Sori yang baru saja akan berpamitan.
Sopan melihat layar Hp-nya untuk melihat jadwal pelajarannya sekarang. Sopan terpanjat saat melihat kalau ternyata sekarang waktuya jam pelajarannya Pak Blaze.
"Kita harus pergi dulu sebelun di-Ngek! Sama Pak Blaze!" Seru Gentar saat lengannya ditarik oleh Sopan dengan pose leher dipotong dengan jarinya.
Api mengedip lucu. Pak Blaze itu Ayahnya. Dan tidak ada siapa pun yang tau kecuali Frostfire.
–––
Saat itu hujan. Seluruh murid dipulangkan lebih awal. Anak-anak pada berhamburan pulang ke rumah masing-masing. Beberapa ada yang memilih menunggu hujan berhenti turun sebelum pulang.
Tidak dengan dua anak yang sedang bergerak gelisah mencoba menghubungi siapa pun untuk pulang. Siapa lagi kalau bukan Frostfire dan Api.
Seharusnya mereka bisa pulang dengan mobil mewah mereka. Tapi sayang, sopirnya bilang kalau mobilnya mogok di tengah jalan. Mereka berulang kali mendesah khawatir. Juga Api yang sudah mencoba mencari sesuatu untuk ia bakar.
"Bang, apinya nyalain kesini dong. Frosty mau ngangetin tangan, dingin nih!" Frostfire menggigil kedinginan. Saat ini hujan kembali deras membuat mereka semakin kedinginan.
Api menyodorkan korek api yang sudah ia nyalakan mendekat di tengah-tengah tangan sepupunya. Disatu sisi ia pelototi terus api itu sampai dirinya merasa tenang.
"Bbrrr, dingin bat!" Seru Frostfire berusaha menyalurkan rasa hangat di tangannya keseluruh tubuh. Saat mencoba untuk menghangatkan diri, Frostfire melihat satu sosok manusia dari arah gerbang sekolah.
"Itu Gentar bukan si?" Tanya Frostfire menunjuk siluet seseorang menggunakan baju olahraga yang sedang anteng berdiri di tengah hujan. Bibirnya sudah pucat pasi tapi anak itu tampak biasa saja.
"Iya! Itu Gentar!" Seru Api merasa khawatir. Frostfire segera menghubungi Hp Gentar, tapi tak mendapatkan balasan. Frostfire yakin sekali kalau Hp anak itu sudah mati kemasukan air.
"Auh, Hp-nya mati! Gimana ini? Mukanya udah pucet gitu!" Tak lama setelah berkata begitu, Frostfire nekat menerobos hujan. Jaket anti airnya ia gunakan sebagai tameng agar tubuh Frostfire tidak begitu basah.
Frostfire mendorong Gentar sedikit untuk membuat anak itu menyadari kehadirannya. Lalu ia mengkode Gentar untuk ikut dengannya. Tangannya masih setia menahan jaket anti airnya untuk melindunginya dari hujan walaupun seragamnya sudah basah separuh.
"Lu! Udah tau hujan kenapa ga neduh? Emang lu ga khawatir sama badan lu kalau kenapa-napa?" Tanya Frostfire kesal melihat Gentar yang sudah basar kuyup dan tubuhnya mulai memucat.

KAMU SEDANG MEMBACA
Human Sides [Tamat] ✓
De TodoDibalik topeng yang selalu manusia pakai, ada sisi lain yang tidak mereka tunjukkan. Mari adu nasib! Siapa yang paling menyedihkan? 16 + Cover by Monsta Calendar 2023