¦22¦

86 14 0
                                    

Gentar menatap sayu pemakaman itu. Pemakaman yang hanya dihadiri oleh beberapa orang. Kini, tersisa dirinya dan teman-temannya disini.

Dia menatap nisan milik Ayahnya yang masih baru dibuat. Diusapnya makam itu dengan lembut. Bunga yang ditaburkan di atas gundukan tanah Ayahnya.

"Ayah, sudah tenang, kan, di sana?" Tanya Gentar lirih. Angin di sebelah Gentar mengusap punggung anak itu memintanya untuk tegar.

Berbagai cara Angin dan Sopan lakukan untuk meminta izin menghadiri pemakaman orang tua temannya. Kendati begitu, Sopan tetap mendapat hukuman atas kelakuan sembrono Anak itu.

"Ayah Bang Gentar bilang, Bang Gentar harus kuat. Ayah Bang Gentar bilang, kalau Bang Gentar ga boleh nyerah sedikit pun sama hidup Bang Gentar. Yah, walaupun itu cuma jin qorin Ayah Bang Gentar si, tapi mereka seperti bercermin," ucap Angin berusaha menenangkan teman Abangnya itu.

"Thanks cil. Ada gunanya juga lu jadi Adik-adikannya Sopan." Gentar terkekeh kecil sembari mengusap air matanya. "Belajar yang rajin, ya?" Gentar mengusak rambut Angin yang memang tidak pernah ditata rapi.

"Bukan cuma lu, gue juga stress di rumah! Hidup cuma buat belajar, belajar, belajar!"

"Gue jadi babu di rumah! Dengerin omelan orang tua,"

"Hey! Kalian ga usah ribut masalah itu! Badan gue tiap hari dicambuk kalo ga bisa sempurna!"

Teriakan demi teriakan terdengar. Gentar, Angin dan Sopan berbalik badan. Melihat Frostfire, Glacier dan Sori saling adu nasib.

Disisi lain, Supra menatap mereka dengan tatapan yang mengerikan. Juga Api yang sudah membakar sampah kuburan akibat meredakan stressnya.

Sopan meluruh menyaksikan itu. Dia tertekan menghadapi temannya terus-terusan. Anak itu akhirnya berdiri saat menyadari bahwa kondisi ini sudah tidak dapat tertangani.

"DIAM!" Teriak Sopan lelah. Tercetak jelas kantung matanya yang hanya tidur 2 jam semalam.

"Kalian salat?" Tanya Sopan. Frostfire, Glacier dan Sori saling pandang. Mereka mengangguk kecil setelahnya. "Salatnya pernah bolong, ga? Jujur!" Tanya Sopan sembari menatap tajam mereka.

Dengan ragu mereka mengangguk. Benar. Mereka salat hanya saat diingatkan oleh Sopan. Selebihnya, hanya menunggu saat mendapat hidayah.

"Lihat! Salat kalian aja bolong. Terus kalian berharap masalah kalian berkurang gitu?" Tanya Sopan. Mereka semua terdiam mendengarnya.

"Dengar, ya! Dengan salat, rejeki kita Insyaallah bakal dilancarkan. Dengan salat, Insyaallah kita bakal dipermudah saat meraih ilmu. Dengan salat, Insyaallah akan dilapangkan hatinya saat mendapatkan musibah." Nasihat Sopan yang membuat mereka semua menunduk untuk mendengarkan.

Angin berbinar melihatnya. Abang Sopan keren! Begitu pikirnya.

"Asalkan satu," Sopan menjeda kata-katanya membuat mereka mengangkat kepala penasaran dengan apa yang dikatakan Sopan.

"Asalkan salat kalian khusyuk dan ikhlas. Melakukannya bukan semata-mata untuk riya' atau karena kewajiban. Salat itu karena kebutuhan." Lanjut Sopan. Mereka mengangguk mengerti.

Gentar tersenyum menatapnya. Akhirnya ia tidak akan mendengarkan adu nasib lagi.

"Seperti makanan. Tanpa makan, kalian akan kelaparan, bukan? Seperti itu juga saat salat. Tanpa salat, kalian akan sengsara."

"Tapi Pan, ada orang yang ga salat, tapi hidupnya makmur. Ada nonis yang ga salat tapi hidupnya bahagia." Sanggah Frostfire.

"Memangnya kamu nonis?" Tanya Sopan. Frostfire menggeleng.

"Orang kalau ga salat, tapi hidupnya bahagia dan makmur. Hati-hati, mereka bisa jadi kena istidraj. Orang-orang yang kena istidraj dimurkai oleh Allah. Diberikan kenikmatan harta dunia hingga mereka terus lalai hingga saat waktunya pembagian azab. Mau?" Mereka menggeleng. Benar mereka takut.

"Tapi, masalah gue ada di orang tua gue, Pan. Dia selalu memaksa gue untuk belajar terus. Tapi dia bahkan memperlakukan gue seperti bukan Anaknya." Sanggah Sori. Dia menangis setiap mengingat orang tuanya. Sopan menepuk pundak Sori tiga kali.

"Karena itu. Dengan salat, kamu Insyaallah bakal dikasih ketenangan hati saat menghadapi orang tua mu. Minta sama yang Maha Kuasa supaya orang tua kamu luluh sama kamu." Jelas Sopan. Sori mengangguk.

"Itu berlaku buat kamu juga Glacier." Sopan melirik Frostfire dan Glacier. Mereka semua mengangguk.

"Bukan cuma kalian, tapi semua orang yang ada di dunia ini. Urusan orang itu biar menjadi urusan orang itu. Tidak usah membahas nonis. Layaknya kamu menciptakan sesuatu, tapi yang kamu ciptakan malah tunduk ke orang lain. Bayangkan betapa emosinya kamu dengan apa yang kamu ciptakan itu." Sopan menatap dalam mereka bertiga.

"Pasti kesel banget jelas," celetuk Frostfire. Sopan mengangguk. "Tapi, tugas kita bukan malah ikut membenci ciptaan yang melenceng itu, tapi justru harus saling merangkul. Mengerti?" Tanya Sopan. Mereka mengangguk mengerti.

"Jadi, mulai sekarang kalian harus rajin salat 5 waktu. Kalau bisa kalian juga melaksanakan segala sunnahnya." Sopan tersenyum melihat temannya. Ia memeluk mereka bertiga. Kasihan dari tadi kena semprot sama Sopan terus.

"Nah, sudah. Lihat tu Gentar! Kasihan dia lemes terus." Sopan menunjuk Gentar yang menatapnya datar. Bukan apa, Gentar malu dikasihani oleh Sopan.

Frostfire, Glacier dan Sori kompak tertawa melihatnya. Komuk Gentar memang seru dijadikan bahan tertawaan.

Sopan melihat Supra yang menatapnya balik. Sopan tersenyum lalu mendekat padanya.

"Dirimu adalah dirimu. Ayah mu adalah Ayah mu. Seburuk-buruknya Ayah mu, bukan berarti kamu juga seburuk Ayah mu." Sopan menepuk pundak Supra berusaha menenangkannya.

"Salat, biar diberikan ketenangan dan kelapangan hati buat terima semua yang terjadi. Melihat orang tua pisah itu sakit. Tapi kamu jangan terlalu berlarut dalam kesedihan itu. Jangan pernah menanamkan kebencian di dalam hati mu bahkan secuil." Supra mengangguk kecil.

"Maaf," ucap Supra.

"Minta maafnya jangan ke aku, minta maaf ke Anaknya langsung." Sopan menunjuk Gentar yang tengah digoda habis-habisan oleh temannya. Supra mengangguk. Dia masih gengsi untuk meminta maaf.

"Jangan pentingkan ego. Urusan begini, ego perlu dikesampingkan." Sopan tersenyum lalu memeluk dan menepuk punggung anak itu guna menenangkan lalu melepaskannya. Dia harus pulang sesegera mungkin.

"Wah! Abang keren! Abang panutannya Angin!" Seru Angin memberikan kedua jempol tangannya. Ia begitu kagum dengan Abangnya. Sopan tersenyum malu menanggapinya. Ia memilih menepuk pundak Frostfire untuk menyadarkan Anak itu.

Frostfire yang ditepuk pundaknya itu menoleh dengan tatapan bertanya. Sopan menunjuk Api yang sedang gila-gilaan membakar sampah kuburan. Pundak Frostfire merosot melihatnya. Ia lalu berdiri untuk menenangkan Anak yang satu itu.

"Bang Api! Jangan gila!" Teriak Frostfire menghampiri Api yang sedang bakar-bakaran. Mereka semua tertawa melihat Frostfire yang tertekan menghadapi Api yang rewel. Anak itu memang perlu dijauhkan dari yang namanya pemantik api.

"Gen, aku sama Angin pulang dulu, ya?" Pamit Sopan. Gentar mengangguk mempersilahkan Sopan untuk kembali.

"Pan!" Panggil Gentar. Sopan menoleh melihat Gentar yang memanggilnya.

Saat menoleh Anak itu langsung mendapat pelukan tidak terduga dari Gentar.

"Makasih, lagi." Sopan tersenyum lalu mengangguk.

"Sama-sama." Setelahnya Anak itu pergi.

Human Sides [Tamat] ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang