"Angin." Panggil Sopan. Sopan menatap matahari sore dengan sayu. "Ya, Bang?" Angin menatap Sopan. Dia memegang kitabnya untuk menghafal beberapa hadist sesuai tugas.
"Bang Sopan bingung. Hubungan pertemanan Abang mulai merenggang," kata Sopan. Matahari semakin turun menimbulkan semburat merah pada langit.
"Memangnya kenapa?" Tanya Angin. Sopan menatap Adik-adikannya itu. "Kamu tau Bang Supra? Anak itu, Ayahnya nikah lagi sama Ibunya Bang Gentar. Sejak dia tau kalau ternyata dia punya Adik tiri namanya Gentar, sejak itu kami serasa asing." Jelas Sopan. Dia tersenyum tipis menanggapinya.
"Bang Gentar itu sakit, Angin. Tapi Abang ga mau mihak salah satunya. Mereka saling bermusuhan." Lirih Sopan. Angin tersenyum mendengarnya. "Setiap hubungan tidak selalu berjalan mulus, Bang. Bahkan ada yang jalannya putar balik. Jungkir balik pun ada. Selama kita mau mempertahankan hubungannya, Insyaallah bakal bertahan." Nasihat Angin.
Angin tersenyum hingga bola matanya tidak terlihat. Itu senyuman penuh rasa sakit yang pernah Sopan lihat. Sopan membalasnya lalu merengkuh tubuh kecil Angin.
"Kamu masih kecil tapi pikiran mu sudah sedewasa ini, Angin." Angin tertawa kecil menanggapinya.
"Dewasa adalah di saat kita sudah baligh. Aku aja belum belum baligh, Bang. Jadi belum dewasa!" Seru Angin. "Ish! Kamu, ya ngeselin!" Angin tertawa menanggapi Abangnya yang kesal padanya. Ia suka saat melihat Sopan kesal padanya.
"Bang Sop!"
"Heh!"
"Kayanya, jin qorin yang ngikutin Abang itu mau bilang sesuatu."
"Bilang apa?"
"Bilang kalau, waktu mangrib udah lewat, kenapa ga salat katanya?"
"Hah? Apa? Kita ketinggalan salat berjamaah! Gawat! Bisa-bisa kita dihukum." Sopan menarik tangan Angin dengan panik menuju masholla. Memang benar, salat berjamaah sudah dimulai.
"Tidak!" Seru mereka berdua.
–––
"Kak Gen!" Seru Tanah saat melihat Gentar. Gentar menatap horor Tanah. Tanah mengerti kenapa Kakaknya menatap horor padanya.
"Ini Tanah, Kak." Tanah tersenyum berusaha menenangkan Kakaknya. Gentar mendengarnya langsung mendekat dan mendekap tubuh Anak itu. "Maaf, Kak." Cicit Tanah pada Gentar.
"Gapapa, Abang-eh, Kakak ngerti, Dek." Gentar tersenyum pada Tanah tidak ingin membuat anak itu memikirkannya. Tanah terkekeh mendengar Kakaknya salah ucap.
Tanah terkena DID (Dissociative Identity Disorder) atau bisa disebut gangguan kepribadian ganda. Hal ini terjadi ketika pengidapnya membentuk dua atau lebih kepribadian di dalam dirinya.
Penyebab gangguan ini diakibatkan oleh peristiwa traumatis pada masa lalu. Kepribadian asli disebut dengan kepribadian inti, namun kepribadian lain disebut kepribadian alternatif.
Tanah divonis mengidap penyakit DID setelah ia harus kehilangan orang tuanya. Kepribadian alternatif Tanah tidak pernah menyukai Gentar dikarenakan Gentar yang juga ikut terlibat dalam kematian Bapaknya. Namun sejatinya kepribadian asli Tanah tidak pernah ingin menyalahkan Kakaknya itu karena sejatinya kematian memang sudah takdir dari tuhan.
"Tanah udah balik. Kak Gen mau marahin Tanah juga ga papa," kata Tanah tidak enak hati. Gentar menggeleng, "Engga, Tanah. Kakak ga marah. Kakak mau nanti waktu Kak Gen ultah, kamu harus ngerayain buat Kakak." Gentar mengusap dagu dengan kedua jarinya membuat Tanah sedikit muak, tapi ia tetap tertawa. Sudah ciri khas Gentar yang selalu sok keren.
KAMU SEDANG MEMBACA
Human Sides [Tamat] ✓
HorrorDibalik topeng yang selalu manusia pakai, ada sisi lain yang tidak mereka tunjukkan. Mari adu nasib! Siapa yang paling menyedihkan? 16 + Cover by Monsta Calendar 2023
![Human Sides [Tamat] ✓](https://img.wattpad.com/cover/368911972-64-k155267.jpg)