¦20¦

78 14 0
                                    

"Ayo cepat, Kak!" Seru Tanah mengendap-endap menuju kamar orang tua mereka. Saat ini kedua orang tua mereka sedang pergi ke luar kota karena Papa mereka ada dinas.

Petir juga sudah pergi kuliah. Namun, masih ada Bibi pembantu yang menjaga.

"Aman?"

"Aman!"

Mereka masuk lalu menutup pintu kamar. Tanah menjaga pintu agar terus aman. Gentar yang bertugas mencari berkas kepemilikan sekolah milih Bapaknya.

"Ada ga?" Tanya Tanah. Sudah hampir setengah jam lamanya Gentar mencari hingga ke sudut kamar tapi tidak menemukannya.

"Ga ada!" Seru Gentar panik. "Cari lagi."

"Ga ada, Tanah. Ini sudah 2 kali aku cari sampe ke kolong sofa tapi ga ketemu juga." Jelas Gentar. Mukanya tampak kentara lesu sekali.

"Gimana ni?" Tanya Tanah. Gentar berfikir sejenak lalu menemukan ide.

"Kita cari di sekolah!" Seru Gentar. Tanah mengangguk mantap. "Ya udah ayo! Sebentar lagi sekolah tutup gerbang." Gentar mengangguk lalu berjalan cepat. Tanah dan Gentar bergegas ke sekolah.

"Kak! Kita jalan sendiri-sendiri. Kita ga keliatan akrab di sekolah." Seru Tanah saat Gentar mengajaknya untuk berjalan.

"Tapi gue ga punya motor, Dik." Keluh Gentar. "Nanti kalo Kakak turun di halte bus gimana?" Tanya Tanah memastikan. Gentar tersenyum lalu mengangguk.

"Ayo!"

–––

"Pak! Tunggu sebentar!" Seru Gentar saat melihat gerbang sekolah akan ditutup. "Kenapa kamu telat?" Tanya Bapak satpam itu. Gentar menunjuk Hp-nya yang menunjukkan pukul 7 kurang 1 menit.

"Bapak curang! Ini belum ganti angka udah mau ditutup aja gerbangnya!" Gentar melenggang masuk meninggalkan Bapak satpam yang merutuki Gentar yang akalnya banyak.

Waktu istirahat tiba. Gentar berpamitan entah kemana. Ia membawa sebungkus roti yang sengaja ia beli untuk mengganjal perut. Ya, walaupun dirinya tidak bisa merasakan yang namanya lapar, tapi perutnya masih butuh asupan.

Gentar melihat Tanah yang berjalan padanya. Gentar pergi menuju ruang kepala sekolah. Tanah juga menyusul dari sisi satunya.

Saat baru saja akan membuka kenop pintu ruang kepala sekolah, tiba-tiba ada yang mengejutkan Gentar dan Tanah dari belakang.

"Kenapa kalian ke ruang kepsek?" Tanya seseorang. Gentar mengenali suara itu. Itu suara Supra. Gentar membalikkan badan lalu tersenyum.

"Lu mau Papa Lu dan Ibu gue cerai, kan?" Tanya Gentar. Tanah mengerutkan dahinya tidak terima.

"Kak, kita melakukan ini hanya untuk mengambil hak kita aja, kan? Kenapa sampai mau buat mereka cerai?" Tanya Tanah.

Gentar mengatupkan bibirnya bingung. "Ada dua anak yang tidak terima dengan hubungan Papa dan Ibu, Tanah." Jawab Gentar. "Tapi ada dua anak juga yang tidak terima kalau mereka cerai," ucap Tanah.

Genta menundukkan kepalanya kesal. "Ini untuk mengungkap kematian Bapak, Tanah!" Tanah mundur beberapa langkah. Tubuhnya lemas, kepalanya pusing tidak terkendali. Gentar sadar. Ini terjadi setiap kali Tanah akan berganti kepribadian.

Gentar mencari cara agar Tanah tidak merusak rencananya. Supra jelas bingung dengan pemandangan saat ini.

Gotcha! Gentar melihat Sopan dan temannya yang lain di belakang Tanah menyusul Supra tadi. Gentar mendorong tubuh Tanah yang langsung diambil alih oleh Sopan.

Human Sides [Tamat] ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang