¦4¦

172 18 0
                                    

"Belajar yang rajin! Kau sudah kelas 12. Ingat! Masuk kedokteran nilainya harus diatas 9," ucapan yang selalu Ayahnya berikan setiap Sori berangkat sekolah.

Tak henti-hentinya ia mendapat ucapan itu hingga membuat dirinya dongkol. Kemudian dia menyalami tangan orang tuanya lalu bergegas mengendarai sepedanya pergi dari rumahnya.

Sori punya 2 Adik. Namanya Daun dan Cahaya. Mereka selalu Sori antarkan setiap pagi saat akan pergi kesekolahnya. Untung saja sekolah Adiknya searah jalan dengan sekolahnya, jadinya ia tidak akan begitu terlambat untuk sampai ke sekolahnya.

Sori anak yang tampak ceria. Di belakang, dia selalu dituntut untuk menjadi apa yang orang tuanya mau. Menjadi panutan untuk adik-adiknya, dan juga harus bisa menempuh pendidikan dokter.

Sori bukan dari orang berada, juga bukan dari orang dengan ekonomi kecil. Tapi, orang tuanya masih mampu membiayainya dengan baik.

Daun dan Cahaya sendiri masih kelas 8 SMP. Mereka anak kembar. Meski begitu, mereka memiliki kepribadian yang begitu berbeda jauh.

Daun juga ceria seperti Sori. Begitu polos dan kekanak-kanakan. Dirinya selalu memikirkan tentang bermain, jarang membantu Sori untuk membersihkan rumah.

Begitu juga Cahaya. Dia begitu angkuh. Dirinya begitu kemaruk dengan pemikirannya, suka memberontak saat ada orang yang tidak sepemikiran dengannya. Maka Sori tidak selevel dengan Cahaya. Dirinya selalu berdebat dengan Cahaya sampai-sampai menghancurkan isi rumah dan membuat orang tuanya marah.

"Sudah, Aya, jaga Daun. Debatnya nanti lagi. Gue mau berangkat sekolah dulu," Pamit Sori yang langsung menancapkan gasnya menuju kesekolahnya. Melihat itu Cahaya menghentak-hentakkan kakinya kesal.

Kakaknya itu selalu saja mengomelinya terlalu manja dan malas. Dirinya sendiri saja sudah punya banyak tugas. Bahkan dia sendiri sudah pengertian membantu membersihkan kamarnya sendiri dan membantu membuang sampah sehabis Sori membereskan rumah.

–––

"Ngapa komuk lu?" Tanya Supra yang baru saja sampai di kelasnya saat melihat Sori mencak-mencak sendiri.

"Ya, seperti biasa."

"Dokter lagi?" Tebak Supra. Sori mengangguk lemas.

"Padahal, kan, gue kagak mau di kedokteran. Walapun nilai Biologi gue begitu, waw! Tapi gue maunya yang berhubungan dengan tanaman." Keluh Sori. "Pakai double degree, kan, bisa?" Tanya Supra.

"Bisa si bisa, ya. Tapi uangnya mehong asal lu tau! Gue bukan dari anak berada kek lu. Dan juga, lu kuliah kedokteran, terus doble degree sama pertanian misalnya, emangnya otak lu mampu?" Oceh Sori yang greget sendiri dengan pikiran anak orang kaya.

"Ya, coba aja. Siapa tau bisa,"

"Kagak, weh! Kagak!" Gemas. Itu yang Sori rasakan sekarang.

"Yaudah, lu masukin jurusan yang lu mau di opsi kedua."

"Ortu gue kagak mau bayarin kuliah gue selain kedokteran, Sup!" Sori meluruh di mejanya bersamaan dengan wajahnya yang mulai berubah murung.

"Kalau aja gue punya uang sendiri nih. Gue bakal terobos keinginan ortu gue. Capek weh!" Lirih Sori. Supra iba menatapnya, tapi ia tak bisa apa-apa. Keluar masuknya uang direkening Supra dijaga ketat oleh orang tuanya. Jika tidak, ia akan mendukung temannya ini hingga sama sukses dengannya nanti.

"Gapapa. Pikirin dulu. Masih ada 8 bulan lagi sebelum pendaftaran universitas." Supra menepuk pundak Sori berupaya untuk menenangkan.

–––

Human Sides [Tamat] ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang