ASSALAMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH.
BAGAIMANA KABAR KALIAN? SEMOGA SELALU SEHAT DAN BAHAGIA.
HAPPY READING 📚.
SALAM SAYANG DARI AKU💙.
***
Menikah, kata seseorang ibadah seumur hidup, makanya kita perlu pasangan yang satu visi dan satu misi, satu membimbing dan satunya ingin dibimbing.
Menikah bukan hanya tentang hidup bersama, tapi tentang mereka yang sama-sama tahu hak dan kewajibannya, mereka yang bisa membangun komunikasi, mereka yang tahu posisinya, dan mereka yang mau diajak menggapai jannah-Nya.
Senyaman itu hidup dengan seseorang yang paham agama. Pertengkaran, perdebatan, berbeda pendapat, semua hanyalah bumbu untuk buah yang manis. Kamu tidak harus menikah dulu untuk bisa tahu bagaimana rasanya, tapi kamu harus berilmu dulu untuk tahu bagaimana cara mengatasinya.
Begitulah Faizal ketika bersama Azila Jamila.
Seseorang pernah mengatakan, jangan menikah jika yang kamu harapkan itu selalu enaknya, selalu romantisnya, selalu senyumnya, dan selalu bahagianya. Itu benar, karena menikah hanya seperkian persen saja yang bahagia, selebihnya adalah kesabaran dalam menghadapi segala macam ujian.
Ujian hidup, apalagi dalam pernikahan, bukan hanya tentang pertengkaran. Harta bisa menjadi ujian, ilmu bisa menjadi ujian, anak bisa menjadi ujian, bahkan pasangan kita juga ujian.
Sama seperti Faizal ketika bersama Aziza Jamila.
Rumah tangga itu, urusan antara dua orang. Adapun yang ada disekitarnya berkewajiban menasehati, karena terlalu ikut campur tidak akan meredakan, tapi justru akan selalu menimbulkan masalah baru.
"Assalamu'alaikum." Faizal mengetuk pintu rumah yang lokasinya sekitar 2 jam dari kota, menunggu dengan gemuru berisik yang berasal dari dalam dadanya.
"Wa'alaikumssalam." Seorang perempuan dengan busana syar'i muncul dari balik pintu. Faizal tersenyum menyambut istrinya itu, senyum yang hanya dibalas dengan tatapan terkejut.
"Faizal?" Jujur, sependengaran Aziza suara ucapan salam tadi, terdengar tidak sperti suara Faizal. Mungkin karena isi kepalanya begitu berisik, sehingga untuk mengenali suara suaminya sendiri Aziza sudah tidak bisa.
"Salim dulu sama suami." Faizal menyodorkan tangannya. Meski ragu dan dengan gerakan pelan, Aziza tetap patuh menyambut tangan tersebut, tentu dengan raut terkejut masih sangat kentara di wajah teduhnya.
Faizal mempertahankan senyumnya saat Aziza dengan cepat melepaskan pegangannya pada tangannya, menunggu beberapa detik untuk Aziza berbicara, tapi ternyata perempuan itu hanya terus terdiam dengan mata yang menatap tanpa henti Faizal.
"Ummi sama abi ada di dalam?" tanya Faizal karena tidak kunjung dipersilahkan masuk oleh sang istri yang justru dengan setia berdiri di daun pintu.
"Lagi ke luar."
Faizal tersenyum sambil mengangguk, Aziza masih terlihat murung.
"Bisa aku masuk?"
"Zal___."
"Kita bicara ya, sayang."
***
Aziza belum siap jika harus bertemu dengan Faizal sekarang. Sejak semalam Dia memang tidak bisa tidur dengan nyenyak, setiap Dia menutup mata, ingatan yang selama ini Dia hilang perlahan hadir satu per satu. Dari awal mengapa Dia berakhir ada di lingkungan keluarga kandungnya setelah lebih dari 20 tahun dirawat oleh orang lain. Lalu bagaimana hubungannya dengan Azila perlahan menjadi dekat, pernikahan Azila dan Faizal, bahkan moment saat Faizal yang dulu pernah datang dan ingin menjadikannya istri. Semua sudah kompleks.
KAMU SEDANG MEMBACA
Persimpangan Jalan (END)
Fiksi Umum⚠️JANGAN LUPA FOLLOW SEBELUM MEMBACA⚠️ *** Kira-kira bagaimana perasaan kalian, ketika ada beberapa orang yang tidak kalian kenali mengaku menjadi keluarga, bahkan salah satunya mengaku menjadi calon suami, bagaimana? Mungkin yang kalian rasakan ad...
