Polisi

1.5K 76 6
                                        

ASSALAMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKTUH.

BAGAIMANA KABAR KALIAN? SEMOGA SELALU SEHAT DAN BAHAGIA.

HAPPY READING 📚.
SALAM SAYANG DARI AKU💙.

***

Ingat dengan apa yang dulu Aziza katakan pada Faizal saat sedang marah? Jika kebohongan akan selalu memunculkan kebohongan yang lain. Seperti itulah kira-kira kondisi Aziza sekarang. Satu kebohongan, dua, tiga, dan terjadi secara terus-menerus.

Sebenarnya, tidak sepenuhnya berbohong. Azila izin untuk bertemu teman, dan Roni adalah temannya, tapi salahnya Aziza tidak memperjelas ke Faizal jika teman yang Dia maksud adalah Roni.

Merasa beralah? Tentu, bahkan sangat, ternyata tahu ilmu saja tidak cukup membuat kita melakukan dan meninggalkannya. Seperti Aziza, Dia sudah tahu itu salah, tapi Dia tidak dapat meninggalkannya, dan tidak ada toleransi untuk itu.

"Kabari aku kalau mau pulang," ucap Faizal setelah menghentikan mobilnya pada bahu jalan yang berada tidak jauh dari cafe yang akan Aziza tempati untuk bertemu temannya.

"Iya, kamu hati-hati. Kabari aku kalau sudah sampai pondok." Aziza tersenyum, lalu segera keluar dari mobil, menatap dengan panuh rasa bersalah pada kendaraan roda empat tersebut yang perlahan menjauh.

"Assalamu'alaikum. Udah lama, Za?"

"Wa'alaikumssalam, belum Ra. Kamu baru sampai juga?"

Ranum Raihana, atau lebih dikenal dengan panggilan Rara, Dia adalah salah satu teman Aziza yang ditemuinya pada kajian rutin setiap hari jum'at, kajian yang sudah lama Aziza ikuti. Rara seumuran dengan Aziza, bahkan pernah satu sekolah saat SD.  Sekarang Rara sedang fokus pada pendidikan S2-nya sambil bekerja.

Jika berbicara tentang melanjutkan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi, Aziza sendiri sampai saat ini belum memberikan jawaban kepada Faizal tentang tawaran untuk kuliah Magister bersama-sama. Alasannya, tentu karena hatinya masih dalam kebimbangan.

Aziza juga tidak pernah lagi mengungkit tentang Dia yang ingin kembali bekerja, karena ada satu hal yang sedang Aziza persiapkan mulai dari sekarang, tentang mendidik diri sendiri, dan fokus pada keluargan kecilnya.

Mungkin sebagian orang merasa Aziza menyia-nyiakan ijazah S1-nya, tapi bagi Aziza, tidak ada yang sia-sia di dunia ini, banyak hal yang Dia dapatkan di dunia perkuliahan dan dalam meralisasikannya tidak harus di depan laptop dan dibawah AC, di dalam rumah bahkan dapur sekalipun juga sangat bisa. Atau contohnya, pola pikirnya yang sekarang, adalah buah dari pendidikannya di bangku kuliah.

"Maaf aku ngerepotin kamu," ucap Aziza sambil berjalan sama-sama memasuki cafe.

"Nggak pa-pa kok, lagian pagi ini aku free, soalnya kerja pas siang terus hari ini kuliah online pas malam."

"Eh iya, temanmu yang kamu bilang mau kamu temui, udah dimana?" tanya Rara.

"Aku juga nggak tahu, aku memang nggak ngabarin, tapi biasnya setiap pagi dia selalu ke sini sebelum ke kantor," ucap Aziza sambil sesekali monoleh saat lonceng pada pintu utama berbunyi, menandakan ada orang yang datang.

"Pagi-pagi gini? Di cafe?"

"Iya, biasalah laki-laki, kafein."

"Laki-laki?" tanya Rara terlihat cukup terkejut.

"Iya, kamu nggak keberatan 'kan? Aku takut suami aku salah paham kalau cuman berdua aja, ini soalnya penting banget."

"Gimana ya, Za."

"Sebentar aja, itupun kalau dia datang."

"Oke, kita tunggu sampai jam sembilan, lebih dari itu aku udah nggak bisa." Aziza mengangguk semangat.

Persimpangan Jalan (END) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang