ASSALAMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKTUH.
BAGAIMANA KABAR KALIAN? SEMOGA SELALU SEHAT DAN BAHAGIA.
HAPPY READING 📚.
SALAM SAYANG DARI AKU💙.
***
Hari-hari berlalu, tidak ada yang berubah. Azila tetap sama, bahkan perlahan beberapa sikapnya yang kurang baik Dia tunjukkan secara terang-terangan ke Faizal. Lalu bagaimana respon pria itu? Sama seperti sebelumnya, selalu Dia hadapi dengan penuh rasa sabar.
"Kamu tidak angkat telepon dari ummi?" tanya Faizal setelah duduk di samping Azila yang sedang fokus menonton siaran gosip di televisi.
"Males, dia kalau telepon banyak tanya, gue nggak suka," jawab Azila santai. Memang, sikap Azila kepada keluarga tidak ada perkembangan, baik itu keluarga Faizal ataupun keluarganya sendiri. Faizal beberapa kali berusaha membuat Azila paham akan posisinya, tapi begitulah.
Faizal sudah berhasil membuat Azila perlahan menjalankan kewajibannya sebagai ummat muslim, meski belum sebaik orang-orang diluar sana, tapi Faizal percaya, seiring berjalannya waktu, Azila akan perlahan semakin membaik, Faizal hanya perlu sabar dalam menuntunnya.
Sekarang Faizal ingin fokus untuk mengubah sikap Azila kepada keluarganya, Faizal kadang merasa tidak enak kepada mereka, khawatir dikira gagal dalam membimbing istrinya.
"Karena dia ummi kamu Azila, dia berhak tahu kamu sedang apa, bagaimana keadaan kamu? Dan hal lainnya," jelas Faizal. Azila hanya berdehem singkat.
"Dia pasti hubungin lo 'kan?" tanya Azila, Faizal mengangguk.
"Bisa gue tebak. Emang harus banget ya dia tahu gue kabarnya gimana? Gue sedang apa? Gue bahkan nggak ada tuh rasa ingin tahu tentang hari-hari dia."
"Sudah, lain kali jangan ditolak panggilan telepon dari ummi atau abi," nasehat Faizal, sedangkan Azila hanya diam tidak menolak tapi tidak juga menyetujui.
"Bagaimana kalau besok kita bermalam di rumah ummi?"
"Ngapain?"
"Ya bukan untuk maksud apa-apa. Pekan lalu 'kan kita bermalam di pondok, jadi pekan ini kita ke rumah ummi dan abi. Pasti mereka senang ketemu kamu," ucap Faizal.
"Nggak ah, kita juga udah ketemu mereka berdua di pondok."
"Udah sana, pergi kerja gih. Udah jam delapan. Jangan mentang-mentang anak pemilik pesantren malah seenaknya terlambat," ucap Azila saat Faizal akan kembali mengucapkan sesuatu, padahal pria itu sudah nampak sangat rapi.
"Baiklah, saya berangkat dulu, kamu tidak ada rencana keluar 'kan hari ini?" tanya Faizal sambil berdiri, Azila menatapnya sekilas.
"Ada, gue mau keluar jalan-jalan doang, suntuk di rumah," jawab Azila. Faizal mengangguk paham.
"Kabari saya jika ingin pulang, nanti saya jemput," ucap Faizal, lalu kembali terdiam.
"Kenapa belum pergi?" tanya Azila bingung saat Faizal hanya diam bagai patung.
"Mau antar saya ke depan?" Azila memutar bola matanya malas.
"Yaudah, ayo," ucap Azila paham, lalu berjalan lebih dulu.
"Tunggu," tahan Faizal, Azila berbalik dengan satu alis yang dinaikkan, seakan bertanya kenapa?
"Hijabnya di pakai dulu," ucap Faizal, tangannya beralih mengambil hijab yang tergantung disandaran kursi, memang Azila sekarang hanya menggunakan piyama tidur, dengan bawahan celana panjang, dan lengan piyama yang juga panjang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Persimpangan Jalan (END)
General Fiction⚠️JANGAN LUPA FOLLOW SEBELUM MEMBACA⚠️ *** Kira-kira bagaimana perasaan kalian, ketika ada beberapa orang yang tidak kalian kenali mengaku menjadi keluarga, bahkan salah satunya mengaku menjadi calon suami, bagaimana? Mungkin yang kalian rasakan ad...
