Perihal Agama

1.4K 68 1
                                        

ASSALAMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH.

BAGAIMANA KABAR KALIAN? SEMOGA SELALU SEHAT DAN BAHAGIA.

HAPPY READING 📚.
SALAM SAYANG DARI AKU💙.

***

Rumah Faizal dan Aziza sudah seperti rumah ke dua bagian Alif, bahkan setelah pertengkarannya denga Arkan, Alif tidak pernah lagi pulang ke rumah, Dia justru sudah beberapa hari belakangan ini tidur di kantor atau tidak di rumah Faizal dan Aziza.

"Kayak anak kecil, kabur-kaburan," sindir Faizal saat baru menuruni tangga, tapi sudah menemukan Alif yang duduk di ruang tamu. Benar-benar definisi anggap rumah sendiri.

"Malas berdebat."

"Kamu mending kunjungi Aziza, kemarin saat saya datang dia menanyakaan kamu terus," ucap Faizal sambil duduk di sofa yang berhadapan dengan tempat Alif duduk.

Faizal memang sesekali menemui Aziza, bahkan terlampau sering, tentu dengan kesepakatan diantara mereka berdua, Aziza akan bertemu dengan Faizal dengan syarat jika mereka tidak akan membahas hal-hal yang mengacu pada kasusnya, mereka hanya akan membahas hal-hal random, dan Faizal menyetujuinya.

Bagi Faizal, dapat bertemu dan memandang lama istrinya itu sudah lebih dari cukup.

"Nggak akan gue temui sampai persidangan, gue tahu apa yang mau dia bahas, dan keputusan gue udah bulat. Pecuma datang kalau hanya untuk berdebat." Faizal menghela nafas, Dia melihat memang sulit untuk Aziza dan Alif mengobrol dengan tenang disituasi yang seperti sekarang, sikap mereka itu 11 12.

"Lo sendiri?"

"Saya? Kenapa?" tanya Faizal tidak paham.

"Ada di pihak siapa? Gue atau Aziza?"

"Aziza, saya percaya dengan istri saya," jawab Faizal cepat dan tegas, tanpa ada keraguan. Alif berdcih, cinta memang membuat orang jadi menurut seperti anjing ke tuannya.

"Kalau masalah percaya, gue juga percaya banget sama Aziza, hanya saja gue nggak tega lihat dia terkurung di tempat yang seperti itu? Selama menjadi polisi gue belum pernah melakukan hal yamg melenceng dari hukum, lalu sekarang sekali aja, salah?"

"Bukan salah, hanya kurang tepat."

Alif menegakkan tubuhnya, menatap Faizal serius.

"Pernah dengar nggak Zal, kata-kata hoki sekali seumur hidup? Nah, gue akan gunakan itu sekarang."

"Tidak ada istilah seperti itu, jangan mengada-ada, semua bisa terjadi atas izin Allah, bukan karena hoki-hoki kayak gitu."

Alif mendelik sinis, "Ya tetap aja, apapun itu. Gue mau Aziza segera bebas, terserah apa kata dunia, bodo amat."

Faizal mengembuskan nafas pelan. "Mending kamu coba pikir baik-baik, bagaimana perasaan Aziza kalau kamu melakulan hal itu? Kekecewaan seseorang kadang nggak bisa diobati."

Alif berdecak kesal, jika membahas kekecewaan Alif memang sedikit sensitif akan hal itu, tidak ingin berakhir emosi sama seperti saat Dia mengobrol dengan Arkan, Alif memilih membahas hal lain.

"Zal, tahu nggak alasan gue belum menikah?"

"Karena belum siap?"

Alif menggeleng.

"Terus?"

"Karena gue pernah janji sama diri gue sendiri, sebelum ke dua adik gue bahagia dengan pasangan mereka, gue nggak akan menikah. Dan sekarang kalian? Belum ada satu tahun, tapi badainya masyaa Allah sekali. Kalau kayak gini, sampai tua gue nggak akan nikah-nikah, " jelas Alif, Faizal bergumam sambil mengangguk.

Persimpangan Jalan (END) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang