Spesial Faizal (Extra Time 2)

600 18 6
                                        

ASSALAMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH

Kabar baik semua?

Ini hari Jum'at, jangan lupa banyak-banyak berhalawat yaaa.

HAPPY READING

***

"Sungai itu….

Tidak pernah mengembalikan apa pun,
kecuali rindu yang tidak lagi tahu harus berlabuh ke mana."

***

Jakarta.
Dua tahun yang lalu.

Faizal yang baru saja mendudukkan dirinya di kursi teras rumah menoleh saat benda pipih yang tergeletak di sampingnya, tepat di atas meja, bergetar pelan.

Nama Alif tertera di layar. Entah kenapa, ada rasa tak nyaman yang tiba-tiba menyelinap di dadanya. Tanpa menunggu lama, Faizal mengangkatnya.

"Assalamu'alaikum, Faizal."

"Wa'alaikumussalam... iya?" Nada suaranya terdengar biasa, padahal jantungnya mulai berdetak tak beraturan. Entah kenapa, perasaanya tidak baik.

"Aziza kecelakaan."

Dunianya seperti berhenti bergerak.

Hening.

Faizal merasa ada sesuatu yang runtuh di dalam dirinya.

Kosong.

Seperti ada bagian yang direnggut secara paksa. Degup jantungnya kini terdengar jelas di telinganya sendiri. Dadanya sesak, napasnya tercekat, seolah udara mendadak terlalu berat untuk dihirup.

"Kenapa bisa?"

Dari banyaknya pertanyaan yang berdesakan di kepalanya, hanya dua kata itu yang sanggup lolos dari bibirnya.

Faizal memaksa dirinya berpikir positif.

Mungkin hanya kecelakaan kecil.

Namun matanya berkhianat, getarnya tak bisa disembunyikan, dan ada ketakutan yang perlahan menjalar, dingin, dan menusuk.

"Gue nggak bisa jelasin apa-apa. Datang ke lokasi yang udah gue kirim."

Telepon terputus.

Faizal bangkit, tanpa sadar kakinya sudah melangkah pergi. Dia bahkan belum sempat masuk ke dalam rumahnya, tidak sempat berpikir, tidak sempat berdoa dengan benar.

Saat tangannya hendak membuka pintu mobil, satu tetes air jatuh mengenai punggung tangannya.

Air mata.

Faizal mendongak cepat, seolah langit yang harus disalahkan, lalu masuk ke mobil dan menyalakannya.

"Tidak. Kamu tidak boleh menangis," gumamnya lirih, nyaris seperti doa yang putus asa.

"Apa yang kamu tangisi? Aziza akan baik-baik saja. Dia pasti baik-baik saja ... dan mungkin sekarang dia menunggumu."

Namun kecepatan mobil yang semakin lama semakin meninggi justru mengkhianati ucapannya sendiri. Dia tidak tenang. Sama sekali tidak.

***

Sesampainya di lokasi, Faizal langsung turun, langkahnya terburu-buru dan nyaris terhuyung. Di depannya berdiri beberapa polisi, garis pembatas, dan satu ambulans.

"Faizal."

"Alif," ucapnya cepat, napasnya memburu.

"Gimana kondisi Aziza? Udah dibawa ke rumah sakit?" Matanya menyapu lokasi itu dengan panik.

Persimpangan Jalan (END) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang