ASSALAMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKTUH.
BAGAIMANA KABAR KALIAN? SEMOGA SELALU SEHAT DAN BAHAGIA.
HAPPY READING 📚.
SALAM SAYANG DARI AKU💙.
***
"Perempuan juga memiliki hak untuk dapat bekerja, meski sudah menjadi seorang istri. Hakikatnya memang di rumah, tapi mereka juga tidak dilarang untuk mencari rezekinya, untuk mengejar impiannya."
***
Aziza selalu merasa, hidup dengan Faizal adalah mimpi. Pria itu tidak pernah menuntut banyak, kecuali jika itu berkaitan dengan syari'at agama. Aziza juga merasa, Faizal seperti tahu apa yang Dia inginkan, hingga semua yang diberikan oleh suaminya tersebut, Aziza tidak pernah merasa kurang dari segi apapun.
Enam bulan yang mereka lalui bersama ternyata memiliki banyak makna dan pembelajaran, Aziza terkadang merasa tidak percaya Dia bisa menjadi seperti sekarang, meski Dia sudah mengingat jika Dua tahun yang lalu Dia juga pernah berhijrah, tapi entah kenapa kali ini vibesnya lebih berbeda, mungkin karena kali ini hijrahnya yang ke dua ada Faizal yang membersamai.
Faizal yang mendidiknya dengan penuh kesabaran dan kelembutan, membuat Aziza sadar, jika perempuan itu hanya perlu dilembuti, dan Faizal tahu ilmunya. Seperti itulah jika menikah tepat pada waktunya, saat sudah ada ilmu, sudah mampu membiayai hidup anak orang, dan tentunya susah siap mental.
Lalu tentang pekerjaan? Jika ingin jujur, Aziza merasa rindu dengan dirinya yang dulu, bukan pada masa jahiliyahnya, tapi pada masa saat Dia disibukkan oleh pekerjaan. Sebagian orang bisa saja berpikir, kenapa tidak jadi ibu rumah tangga yang baik saja? Apalagi telah jelas suami mampu mengcover semua keperluan kita dan rumah tangga.
Pendapat itu tidak sepenuhnya benar, tapi tidak juga salah, tergantung sudut pandang masing-masing saja. Namun, bagi Aziza, seorang perempuan si pemilik mimpi yang sudah Dia rakit sedemikian mungkin, bahkan saat Dia masih SD, lantas apa dengan berkeluarga Dia harus merelakan semuanya? Sungguh, Aziza merasa berat.
"Zal!" panggil Aziza, saat ini mereka sedang duduk di balkon kamar, menikmati senja yang menjadi favorit Aziza.
"Kenapa?" tanya Faizal sambil menoleh, mematikan putaran youtube yang menayangkan kajian ustadz favoritnya.
"Kalau aku mau kerja, boleh?" tanya Aziza ragu. Mereka memang sudah pernah membahas ini, tapi itu sudah sangat lama. Aziza ingin memastikannya kembali.
Faizal terdiam cukup lama, berpikir keras tentang kalimat yang cocok dan tentunya tidak menyinggung perasaan istrinya,tpi justru tanpa Faizal sadari diamnya justru sudah membuat Aziza sedikit kecewa.
"Kalau nggak boleh juga nggak pa-pa, aku juga cuman mau nanya aja, belum ada planing bakal kerja dimana juga kalau pun kamu izinin. Lagian pendapatan kamu setiap bulannya juga lumayan," ucap Aziza dengan senyum lembutnya, kali ini Dia mencoba lebih dewasa, Dia sadar tidak semua harus tentang kemauannya, tidak semua harus egonya.
Menghadiri kajian rutin setiap pekan ternyata bisa mengubah pola pikir Aziza yang sudah berstatus sebagai seorang istri, yang artinya semua bukan tentang individual lagi, tapi justru partner, tim, dan itu bersama Faizal. Dia tidak boleh seenaknya melakukan sesuatu tanpa diskusi dengan partnernya lebih dulu.
Faizal tersenyum tipis. "Kalau sudah ada planing mau kerja dimana, segera kasi tahu aku." Aziza membualatkan matanya terkejut, senyumnya semakin lebar dan terlihat lebih ikhlas dari yang tadi.
"Berarti kamu izinin aku?" tanya Aziza bersemangat. Memang siapa yang tidak paham arti dari ucapan Faizl tadi? Siapapun yang mendengarnya juga pasti paham.
KAMU SEDANG MEMBACA
Persimpangan Jalan (END)
Fiction générale⚠️JANGAN LUPA FOLLOW SEBELUM MEMBACA⚠️ *** Kira-kira bagaimana perasaan kalian, ketika ada beberapa orang yang tidak kalian kenali mengaku menjadi keluarga, bahkan salah satunya mengaku menjadi calon suami, bagaimana? Mungkin yang kalian rasakan ad...
