Cerai?

1.8K 89 5
                                        

ASSALAMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH.

BAGAIMANA KABAR KALIAN? SEMOGA SELALU SEHAT DAN BAHAGIA.

HAPPY READING 📚.
SALAM SAYANG DARI AKU💙.

***

Hari-hari berlalu begitu cepat, dan Alif merasa cukup bersalah kepada Faizal karena belum dapat memberikan informasi lebih lanjut tentang keberadaan Aziza, padahal bisa jadi Dia adalah satu-satunya harapan karena mengingat profesinya. Faizal bahkan terlihat tidak memiliki kesibukan apapun selain mendatanginya atau menghubunginya setiap saat hanya untuk sekedar tahu bagaimana kabar istrinya.

Alif juga kerap kali mendapati Faizal yang terlihat frustasi jika sendiri, berbanding terbalik jika di depan keluarga, Dia selalu terlihat tenang, hal itu justru membuat Alif sedikit khawatir, tapi Alif percaya pada Faizal, karena adik iparnya adalah orang yang dapat dipercaya.

Satu kalimat yang selalu Alif dengar saat Faizal ditanyai tentang Aziza pada keluarganya, aku percaya sama Allah, Dia pasti akan memudahkan segala urusan hambanya selagi itu tidak menyalahi syari'at.

Lihat saja jika Alif berhasil mendapat informasi tentang keberadaannya Aziza, akan Dia ceramahi habis-habisan adiknya itu, karena tidak mungkin prosesnya akan seketat ini tanpa persetujuan Aziza.

Setelah menutup panggilan telepon dari Faizal, Alif kembali membuka chet dari orang misterius yang katanya ingin mengobrol langsung dengan dirinya, awalnya Alif ingin mengabaikan saja, tapi setelah pemilik nomor tersebut mengatakan sangat penting karena menyangkut Aziza, membuat Alif memutuskan untuk bertemu.

Dua puluh menit dari tempat kerjanya, akhirnya Alif sampai di lokasi yang dikirim oleh nomor tersebut, cafe yang bernuansa sangat anak muda menjadi pemandangan pertama yang Alif lihat.

"Dimana dia duduk?" gumam Alif bingung harus melangkah ke arah mana setelah memasuki cafe, tidak begitu ramai sebenarnya, tapi Dia sedikit risih saat beberapa orang memperhatikannya, mumgkin karena pakaian dinas yang Dia gunakan.

Saat sibuk berpikir tiba-tiba handphonenya berdering, Alif segera mengangkatnya saat melihat siapa yng menelpon.

"Lo duduk dimana?" tanya Alif langsung.

"Di ujung, sekarang menoleh searah jarum jam," ucapnya di seberang sana, Alif spontan melihat jam tangannya, lalu menoleh. Seorang laki-laki melambaikan tangan, dan detik itu pula sambungan teleponnya terputus, tanpa menunggu lama Alif segera menghampirinya.

"Silahkan duduk." Alif mengangguk, lalu segera duduk.

"Saudaranya, Aziza?" tanya laki-laki tersebut, Alif hanya mengangguk.

Tangan laki-laki itu terulur, Alif menatap tangan tersebut sejenak, lalu menyambutnya dengan baik.

"Kenalin gue, Roni." Alif sempat berpikir, merasa tidak asing, sedetik berikutnya Dia menatap serius pada Roni.

"Mungkin lo udah tahu tentang gue, dan yang ada di benak lo, itu benar. Hanya saja bukan itu tujuan utama gue mau ketemu, lo tenang aja, masalah Aziza biar gue yang beresin." Alif mendengarnya baik-baik, seakan setiap kata yang keluar dari mulut Roni bisa saja menjadi petunjuk untuk dirinya.

"Gue udah nggak tahu harus bujuk Aziza dengan cara apa, dan setelah gue pikir-pikir, mungkin lo bisa."

"Apa?" tanya Alif. Roni berdehem.

"Oke langsung aja, Aziza minta bantuan gue buat urus perceraian. Dia mutusin mau cerai sama Faizal." Singkat, padat, dan Alif terkejut, benar-benar tidak habis pikir.

Persimpangan Jalan (END) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang