Manis pahit

1.5K 77 3
                                        

ASSALAMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH.

BAGAIMANA KABAR KALIAN? SEMOGA SELALU SEHAT DAN BAHAGIA.

HAPPY READING 📚.
SALAM SAYANG DARI AKU💙.

Kejar tayang gayss, soalnya aku harus selesaiin cerita ini bulan ini juga, mau fokus ke cerita yang Baru😁

Jadi, are you ready gays? Sisa beberapa part lagi.

***

Pagi-pagi sekali Faizal sudah sibuk berkutat di dapur, hari ini Dia berencana akan mengunjungi istrinya yang sudah sangat Dia rindukan, tapi Dia tidak mungkin datang dengan tangan kosong jadi, Dia memilih untuk membuatkan makanan untuk Aziza. Makanan sederhana yang tentu bisa Dia masak dengan bantuan video orang.

"Semoga dia suka." Faizal membereskan dapur yang sudah seperti kapal pecah, setelah itu Dia segera bersiap. Lokasinya juga sudah Alif kirim kemarin.

Faizal menatap bingung pada pesan yang Dia kirimkan kepada Alif, hanya dibaca tapi tidak dibalas. Padahal Faizal menanyakan apakah laki-laki tersebut akan ikut atau tidak.

"Mungkin lagi sibuk."

Faizal menatap dirinya melalui pantulan cermin yang ada di dalam kamarnya dan Aziza, tiba-tiba dadanya berdebar tidak karuan mengingat Dia akan bertemu dengan istrinya hari ini juga, membuatnya menggeleng-geleng, Dia sudah seperti anak muda yang baru merasakan virus merah jambu.

"Sadar, Zal. Kamu udah bukan anak SMA, jangan malu-maluin. Ini juga dada, kayakk nggak ada harga dirinya aja."

Tidak ingin tenggelam dalam hal-hal yang menurutnya hanya akan sia-sia, Faizal segera mengambil kunci mobil, Dia harus tiba sebelum waktu kunjungan dibuka, agar Dia bisa memiliki banyak waktu untuk berdua dengan Aziza.

***

Faizal berjalan memasuki kawasan yang baru pertama kali Dia kunjungi, polisi bukan menjadi hal asing sebenarnya, tapi jika bertemu di tempat yang seperti ini rasanya sungguh berbeda.

Berjalan dengan pelan sambil sesekali balas menyapa beberapa polisi yang menyapanya, setelah di pintu masuk Faizal segera menanyakan keberadaan Aziza, awalnya para polisi hanya saling bertatapan saat Faizal menyebut nama lengkap Aziza, tapi setelah Faizal mengatakan jika Dia adalah suaminya, seorang polisi perempuan langsung mengangguk paham dan meminta Faizal untuk mengikutinya.

"Dia sejak kemarin diam, kami cukup khawatir kalau dia sakit, karena sebelumnya Bu Aziza sangat cerewet," ucap sang polisi tiba-tiba. Faizal hanya mengangguk.

"Anda bisa tunggu di sini, saya akan panggilankan bu Aziza." Faizal lagi-lagi mengangguk, setelah kepergian polisi tadi Faizal lalu duduk di kursi yang sudah disediakan.

"Faizal?"

Faizal mendongak saat mendengar suara Aziza, Dia membalas senyum cantik milik istrinya, tidak ada yang berubah, dimatanya Aziza tetap cantik dan teduh, atau satu hal yang mungkin sangat berbeda, Aziza lebih kurus dibanding terakhir kali Dia melihatnya, pipi bulat yang selama ini menjadi hal favoritnya, kini tampak lebih tirus.

"Makasi banyak, Kak," ucap Aziza pada polisi yang dari awal selalu mendapinginya. Sang polisi tersenyum lalu beranjak pergi.

"Assalmu'alaikum, humaira," ucap Faizal setelah berdiri, Aziza segera mendekati Faizal lalu menyambut uluran tangan suaminya.

Aziza tersenyum lebih lebar, tanpa bertanya lagi seperti sebelum-sebelumnya Aziza langsung berhambur memeluk Faizal.

"Wa'alaikumssalam, aku kangen banget."

Persimpangan Jalan (END) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang