ASSALAMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH.
BAGAIMANA KABAR KALIAN? SEMOGA SELALU SEHAT DAN BAHAGIA.
HAPPY READING 📚.
SALAM SAYANG DARI AKU💙.
***
Setelah menyelesaikan jam kerjanya, Alif segera menuju rumah Faizal, setidaknya pria itu harus tahu jika Aziza baik-baik saja meski untuk bertemu masih belum pasti kapan waktunya. Alif sebenarnya sangat ingin memberi tahu Faizal, tapi Dia tidak ingin menjatuhkan harga dirinya, karena Dia adalah seorang laki-laki, yang bisa dipercaya dan dipegang adalah ucapannya.
"Maaf banget, Zal. Lo tenang saja, secepatnya lo bisa menemui Aziza, pasti. Akan gue usahakan." Alif mengangguk meyakinkan dirinya sebelum melajukan mobil, mirisnya setelah sekian lama Dia harus kembali berbohong.
***
Setelah menempuh perjalana yang cukup melelahkan, Alif akhirnya tiba di tempat tujuan, Dia mengehela nafas saat melihat adik iparnya yang berdiri di teras, seakan sudah menunggu-nuggu kedatangannya, karena memang tadi Alif mengabari jika akan datang untuk memberitahu sesuatu tentang Aziza.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumssalam, akhirnya kamu datang juga, Lif. Ayo masuk." Alif mengangguk lalu mengikuti Faizal.
"Capek banget," keluh Alif sambil menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa. Faizal dengan peka segera memasuki dapur untuk mengambilkan air putih.
"Thanks." Faizal mengangguk, lalu duduk di sofa yang berhadapan dengan tempat Alif duduk, hanya dihalangi oleh meja kaca.
"Jadi, ada info apa?" tanya Faizal setelah Alif meneguk air hingga tandas.
"Jadi, gue udah tahu tempat Aziza, tapi untuk sementara lo jangan ke sana dulu, karena emang nggak sembarang orang bisa masuk ke sana. Intinya Aziza baik-baik saja, kita juga tadi sempat ngobrol sendiri tentang lo." Diam-diam Alif menunggu dengan cemas respon dari Faizal, pria itu benar-benar terlihat tenang, membuat Alif semakin was-was saja.
"Jadi kamu sendiri sudah ketemu, Aziza?"
"Hanya beberapa menit, mungkin besok atau beberapa hari ke depan gue bakal ke sana lagi." Faizal mengangguk, Dia bersyukur dan bisa lebih tenang setelah tahu jika istrinya baik-baik saja.
"Kapan kira-kira saya bisa ketemu, Aziza?"
"Secepatnya, bakal gue usahakan. Kalau ada yang mau lo sampaikan bisa lo kasi tahu gue, biar gue yang sampaiin."
"Kalau sudah ketemu Aziza, bisa telepon? Saya mau bicara. Hanya bertemu 'kan yang tidak bisa? Kalau bicara di telepon pasti bisa," ucap Faizal menyarankan solusi, Alif terdiam. Bagaimana jika Aziza yang justru menolak, apa yang harus Dia katakan pada Faizal nantinya?
"Iya, bisa. Insyaa Allah." Biarlah untuk bagaimana nantinya Dia pikirkan, dan semoga Aziza benar-benar akan memikirkan ulang tentang keputusannya.
"Kalau begitu gue pamit dulu, sudah malam."
"Iya, terima kasih banyak. Lain kali biar saya yang datang ke rumah. Ummi sama abi bagaimana?" tanya Faizal yang berhasil kembali menahan pergerakan Alif yang akan segera beranjak.
"Kalau abi seperti biasa, kalau ummi ya tahu sendiri lah, dia bahkan pernah nekad mau mendatangi rumah Roni, untungnya bisa ditenangin sama abi."
"Tante sama paman sendiri, merekah udah tahu?" tanya balik Alif, Faizal hanya mengangguk pelan.
"Bagaimana tanggapan mereka?"
"Ummi sama, dia sangat khawatir. Abi ... saya masih belum tahu tanggapan dia, setelah saya beri tahu, abi tidak memberi respon apapun selain mengangguk, tapi aku yakin abi pasti paham."
KAMU SEDANG MEMBACA
Persimpangan Jalan (END)
General Fiction⚠️JANGAN LUPA FOLLOW SEBELUM MEMBACA⚠️ *** Kira-kira bagaimana perasaan kalian, ketika ada beberapa orang yang tidak kalian kenali mengaku menjadi keluarga, bahkan salah satunya mengaku menjadi calon suami, bagaimana? Mungkin yang kalian rasakan ad...
