ASSALAMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKTUH.
BAGAIMANA KABAR KALIAN? SEMOGA SELALU SEHAT DAN BAHAGIA.
HAPPY READING 📚.
SALAM SAYANG DARI AKU💙.
***
Setelah kepergian Roni dengan keluarganya, Aziza duduk dengan cemas, berharap seseorang akan datang hari ini. Dia bahkan tidak tahu harus membayar ganti rugi dengan apa, untungnya Lira memberinya sedikit waktu.
"Kira-kira bang Alif datang nggak yah hari ini?" gumam Aziza, sedikit cemas dan bingung harus mengatakan apa nanti.
"Kalau aku bebas hari ini juga, harus kemana? Pulang? Malu banget. Apalagi ketemu Faizal. Ya Allah mukaku kayaknya udah hilang."
Kecemasannya semakin bertambah, mengingat setelah keluar Dia harus kemana. Apa nanti Dia akan terlantar dijalan?
"Bagaimana ya keadaan rumah. Faizal makan dengan baik nggak ya? Bagaimana Faizal dapat menghadapi keluarganya? Apalagi ayah, gimana kalau ayah nggak bisa nerima aku lagi?" Aziza tidak bisa duduk dengan tenang.
Satu menit berikutnya.
"Aku yakin, semua akan baik-baik aja. Percaya sama Allah, Za."
***
Saat jam istirahat, tanpa membuang-buang waktu lagi Alif segera menuju parkiran, hari ini Dia memutuskan untuk mengunjungi Aziza.
"Semoga ada perubahan."
"Alif!" Alif terpaksa berhenti saat mendapati seseorang mendekatinya dengan tergesa-gesa.
"Ada masalah?"
"Kabar baik."
"Apa?"
"Gue dapat info, pengacara yang laporin adek lo baru aja datang, dan mereka katanya udah berdamai, mereka juga udah cabut laporannya."
Alif tentu bahagia mendengarnya, tapi merasa janggal juga.
"Kok bisa?"
"Gue nggak tahu juga, gue cuman dengar sekilas. Tiba-tiba banget, padahal sebelumnya ibu itu kelihatan kekeuh mau nuntut adik lo."
"Iya, Alhamdulillah."
"Tapi lo tahu 'kan walaupun pelapor mencabut laporannya, kasus ini akan tetap berlanjut dan proses penuntutanya tetap akan berjalan, gue yakin lo juga tau ini kasus penggelapan, apalagi udah ada beberapa bukti yang valid."
Alif termenung, betul yang dikatakan Adam, meski Dia berusaha meyakinkan diri, tapi sayangnya fakta yang Dia ketahui berhasil membuatnya tidak percaya diri.
Adam menepuk pundak sahabatnya.
"Gue bukannya nggak percaya yang namanya keajaiban, tapi dari sudut pandang siapapun adik lo mungkin akan dipenjara, tapi bisa jadi adik lo langsung bebas jika lo mau bayar, tapi gue tahu lo orangnya kayak gimana."
"Gue paham Dam, gue cuman berharap setidaknya hukumannya bisa lebih ringan. Maksimal berapa?"
"Bisa empat sampai lima tahun." Alif mengangguk, meski berat Dia tetap berusaha percaya jika akan ada jalan terbaik untuk Adiknya.
"Setidknya kalau udah damai, hukumannya pasti berkurang juga."
Alif mengangguk, lalu menepuk pelan pundak sahabatnya itu.
"Thanks, kalau gitu gue pergi dulu."
***
Sepanjang jalan, Alif tidak dapat menenangkan diri, bagaimana cara Dia memberitahu Aziza? Orangtuanya? Faizal? Dan semua orang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Persimpangan Jalan (END)
General Fiction⚠️JANGAN LUPA FOLLOW SEBELUM MEMBACA⚠️ *** Kira-kira bagaimana perasaan kalian, ketika ada beberapa orang yang tidak kalian kenali mengaku menjadi keluarga, bahkan salah satunya mengaku menjadi calon suami, bagaimana? Mungkin yang kalian rasakan ad...
