Yang Sebenarnya (Extra Time 1)

2.7K 119 20
                                        

ASSALAMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH

Kabar baik semua?

***
"Di dunia ini, yang paling menakutkan bukan hal mistis, tapi manusia."
_Aziza Jamila_
By. Story Persimpangan Jalan

***

Dua tahun telah berlalu sejak pertemuan itu. Pertemuan di ruang persidangan yang tidak pernah Aziza bayangkan akan menjadi perjumpaan terakhirnya dengan sang suami—Faizal, lelaki yang begitu ia cintai. Bukan hanya dengan Faizal, tetapi juga dengan seluruh orang-orang yang paling berarti dalam hidupnya.

Aziza bahkan tidak tahu harus memulai cerita ini dari mana. Namun, satu kesimpulan yang selalu muncul di benaknya adalah bahwa semua kekacauan ini berawal dari satu orang, Roni. Lelaki yang sejak dua tahun lalu ia beri julukan sebagai orang yang benar-benar sakit jiwa.

Tidak pernah sedikit pun terlintas di benaknya bahwa Roni akan melakukan tindakan sekejam itu. Menyusun sebuah skenario hingga seluruh dunia mengira Aziza telah menghilang, bahkan meninggal dunia. Padahal, dulu Roni pernah menjadi orang yang membantunya. Entah bantuan itu benar-benar tulus atau sejak awal hanyalah bagian dari rencana besarnya.

***

Dua tahun yang lalu, semua bermula dari kecelakaan itu.

Mobil yang membawa Aziza menuju Lembaga Pemasyarakatan untuk menjalani masa hukumannya tiba-tiba mengalami kecelakaan. Aziza tidak benar-benar mengingat bagaimana semuanya terjadi. Saat itu pikirannya kacau, seolah jiwanya telah meninggalkan raganya.

Hal terakhir yang masih ia ingat hanyalah benturan keras di kepalanya saat tubuhnya menghantam kaca mobil, aroma asap yang memenuhi udara, lalu semuanya berubah gelap.

Belakangan Aziza mengetahui kenyataan yang membuat bulu kuduknya meremang.

Kecelakaan itu bukan musibah. Justru semua itu telah direncanakan oleh Roni.

Ketika kesadarannya kembali, Aziza mendapati dirinya berada di sebuah rumah sakit. Awalnya ia mengira dirinya masih berada di Indonesia. Namun, harapan itu runtuh seketika ketika mengetahui bahwa ia telah berada di negeri yang sangat jauh dari tanah kelahirannya.

Australia.

Yang lebih mengejutkan lagi, Roni muncul di hadapannya dengan wajah tenang, seolah tidak pernah melakukan kesalahan apa pun.

"Takdir itu indah, ya, Aziza," ucap Roni sambil tersenyum.

"Sejak awal kamu memang milikku. Hanya milikku. Bukan milik laki-laki alim itu."

Tatapan Aziza dipenuhi kebencian.

"Kamu sakit jiwa, Ron. Kamu benar-benar gila."

"Ya, karena kami," jawab Roni santai.

"Rasanya memuaskan sekali melihat semuanya berjalan sesuai rencanaku. Mulai dari Siska yang bebas, lalu menghubungimu dan mengancammu. Setelah itu Siska mendapatkan bukti, memberitahu Mamaku, hingga akhirnya kamu datang meminta bantuanku. Kamu memohon agar aku menolongmu, jadi aku menemanimu dari awal penahanan, mengurus persidanganmu, dan menjadi mantan terbaik di matamu." Roni tersenyum puas.

"Sempurna, bukan?"

Darah Aziza seakan berhenti mengalir.

Jadi, selama ini....
Ia benar-benar telah ditipu?

Seharusnya sejak awal ia tidak pernah percaya pada Roni. Mantan yang berkedok ingin menjadi sahabat ternyata hanyalah seorang manipulator yang menyembunyikan obsesi di balik sikap baiknya.

Benar ternyata, jika di dunia ini, yang paling menakutkan bukanlah hal mistis, melainkan manusia.

"Kamu benar-benar gila."

"Terserah kamu mau bilang apa, Sayang." Roni mengangkat bahu.

"Yang penting sekarang kamu sudah di sini bersamaku. Kamu tidak akan bisa ke mana-mana, apalagi kembali ke Indonesia dan bertemu mantan suamimu."

"Faizal masih suamiku!"

"Bukankah kamu ingin bercerai? Kamu sendiri yang memintaku mengurus semuanya, kan?" Senyum Roni semakin lebar.

"Mungkin sekarang Faizal sudah menerima surat gugatan cerai darimu."

Mata Aziza membelalak.

"Kamu mengurus gugatan cerai itu atas namaku?"

"Yes, baby. Apa pun demi kamu." Roni mengangguk santai.

Rasa mual langsung menyeruak memenuhi dadanya.

"Itu tidak mungkin terjadi tanpa persetujuanku!"

"Bagi orang sepertiku, tidak ada yang mustahil." Tatapan Roni berubah dingin.

"Semua orang bisa tunduk pada uang dan kekuasaan."

"Kamu gila, Roni!"

***

Dua tahun telah berlalu.

Dan hingga hari ini, Aziza masih terjebak di rumah yang sama bersama lelaki yang telah menghancurkan hidupnya.

Ia mengembuskan napas panjang. Setiap kali mengingat percakapan itu, dadanya kembali terasa sesak.

Hanya ada satu harapan yang terus ia genggam.
Semoga Faizal tidak mempercayai semua kebohongan Roni begitu saja.

Roni telah membawanya keluar dari Indonesia tanpa persetujuannya. Bahkan memaksanya tinggal serumah selama dua tahun belakangan ini. Meski Roni tidak pernah berhasil memiliki hatinya, tetap saja keadaan itu terasa salah.

Sangat salah.

Aziza hanya bisa membayangkan bagaimana hancurnya hati Faizal dan keluarganya jika suatu hari mengetahui kenyataan bahwa selama dua tahun ini ia hidup di bawah atap yang sama dengan mantan kekasihnya.

Entah bagaimana keadaan di Indonesia sekarang. Dua tahun bukanlah waktu yang singkat, dan Aziza hanya bisa berharap, di suatu tempat yang sangat jauh, masih ada seseorang yang belum berhenti mencarinya.

Entah bagaimana keadaan di Indonesia, dua tahun bukan waktu yang singkat, bukan?

***

BACA DULU PLISS! ADA INFO PENTING DI BAWAH!

Bagaiman? Puas? Penasaran?
Pendek? Sengaja.
Ini masih aku lanjut, tapi setelah targetku tercapai, yakni 100.000 pembaca dan 6.000 bintang (boleh lebih).
Jadi, bantu aku untuk promosiin yaw.

Lantas bagaimana keadaan di Indonesia? Bagaimana hari-hari Azizah di Luar Negri dengan Roni? Nanti yaa Aku lanjut.

Oh iya, jangan lupa tinggalkan komentar di setiap part ya.

SEE U GAYSSS. LOVE YOUUU 💜

Persimpangan Jalan (END) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang