Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Pliss pliss pliss, nulis ini jadi terharu, ingat banget aku garap cerita ini dalam waktu satu tahun, terus aku mau upload masih ragu, takut jelek, dll. Apalagi mengingat ini karya pertama yang lolos publish di wattpad dari banyaknya draft.
Selama ini aku nggak minta apapun selain dukungan dan do'a kalian, dan selamanya akan begitu. Dimanapun kalian berada, aku mau ucapin terima kasih banyak untuk yang udah baca, vote, apalagi koment.
Ilmu yang ada dicerita ini semoga bisa diamalkan, biar kita semua sama-sama dapat pahalanya. Untuk yang buruk-buruknya dijadikan pelajaran ya, biar nggak terjadi dikehidupan kalian nantinya.
So, happy reading.....
Salam sayang dari aku, author Persimpangan Jalan, Faezya Annisa.
***
Semua hari-hari yang berat Aziza lalui dengan senyuman dan rasa yang ikhlas, sampai tepat hari ini, di ruangan yang cukup luas, duduk seorang diri di tengah-tengah mata semua orang memandang. Aziza berbalik, tersenyum dengan sangat manis kepada Faizal, lalu Alif, dan terakhir pada kedua orang tuanya yang bahkan menyempatkan diri mereka untuk hadir, membuat Aziza merasa terharu.
Selama ini, Arkan dan Zahrah sempat beberapa kali mengunjunginya, sampai akhirnya mereka tidak pernah lagi datang, awalnya Aziza berpikir jika mereka marah atau kecewa kepadanya, tapi ternyata salah. Faizal justru mengatakan jika mereka tidak akan pernah datang lagi karena Zahrah yang tidak sanggup melihat Aziza karena ketika Dia melihat putrinya, rasa bersalah kepada dirinya sendiri kian membesar.
Alif yang ternyata menepati ucapannya dengan tidak pernah datang mengunjungi Aziza, membuat Aziza sedikit khawatir dengan hal-hal yang akan dilakukan oleh saudaranya tersebut. Alif hanya mengirim pesan lewat temannya yang bertugas ditempat Aziza ditahan.
Seperti.
"Kata Alif, uangnya ditolak soalnya pas mereka datang ke rumah orang tersebut, bertepatan ada bapak dan anaknya, jadi uangnya nggak diambil, gue nggak tahu maksudnya apa, tapi kata Alif lo pasti paham."
Atau.
"Kata Alif, lo nggak usah risau, semuanya udah aman, dan dia yakin lo nggak akan kecewa."
Sebenarnya masih sangat banyak, Aziza sampai muak dan kesal, bahkan Dia pernah satu kali kelepasan, amarah yang harusnya ditujukan kepada Alif justru berakhir Dia luapkan pada teman Alif.
Faizal, bahkan hampir setiap hari mengunjunginya, membawakan makanan yang Dia masak sendiri, atau makanan yang Aziza pesan sebelum dirinya pulang, lalu akan membawanya besok ketika Dia kembali datang. Aziza tidak tahu bagaimana keseharian suaminya, Faizal tidak ingin mengatakannya dengan jelas, pria itu hanya mengatakan jika Dia mengajar, mengunjungi Aziza, tidur, makan, dan hal-hal lainnya.
Mertua Aziza? Aziza benar-benar tidak tahu, Faizal selalu membahas topik lain jika Aziza menanyakan tentang Faizah dan Fausan. Sejujurnya Aziza merasa takut dan sedikit khawatir, bagaimana jika hubungan Faizal dan orangtuanya menjadi renggang karena dirinya? Jika itu benar, Aziza akan sangat kecewa dengan dirinya sendiri, tapi Aziza yakin, Faizal tidak mungkin seperti itu.
Hari ini, adalah hari penentuan berapa lama Aziza harus mempertanggungjawabkan kesalahannya, jika biasanya meja dan kursi sebelah kanan dan kiri akan diisi oleh mereka yang siap membela entah itu korban atau tersangka, tapi justru hari ini kedua sisi tersebut kosong, seakan menjelaskan jika sekarang semua keputusan sudah bulat, sesuai hukum, dab tidak akan ada perdebatan lagi. Suasananya selalu sama, layaknya ruangan sidang pada umunya.
Aziza diam-diam juga berdo'a, bohong jika Dia tidak berharap agar hukumanya bisa sedikit diringankan, tapi di sisi lain Dia merasa harus mendapatkan balasan dari perbuatan yang Dia lakukan dulu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Persimpangan Jalan (END)
Ficção Geral⚠️JANGAN LUPA FOLLOW SEBELUM MEMBACA⚠️ *** Kira-kira bagaimana perasaan kalian, ketika ada beberapa orang yang tidak kalian kenali mengaku menjadi keluarga, bahkan salah satunya mengaku menjadi calon suami, bagaimana? Mungkin yang kalian rasakan ad...
