ASSALAMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH.
BAGAIMANA KABAR KALIAN? SEMOGA SELALU SEHAT DAN BAHAGIA.
HAPPY READING 📚.
SALAM SAYANG DARI AKU💙.
***
Aziza tertawa menanggapi beberapa candaan yang Faizal lontarkan, pria itu entah kenapa sejak tadi tidak berhenti menggoda dan melakukan beberapa hal yang membuat Aziza geleng-geleng.
Beberapa menit, Aziza bisa tiba-tiba lupa dengan hal-hal yang mengganggu pikirannya, tapi bisa juga disela-sela tawanya, rasa khawatir itu muncul tiba-tiba, membuat tawa yang menggema berakhir canggung, dan Faizal menyadari itu.
"Udah Zal, jilbabku jadi berantakan," ucap Aziza sambil menjauhkan tangan Faizal yang akan kembali mengusap kepalanya.
"Udah kenyang?" tanya Faizal saat Aziza menyerahkan kembali rantang yang tadi mereka gunakan untuk makan.
Mereka sedang melakukan makan siang di pinggir danau yang lokasinya tidak begitu jauh dari pondok pesantren. Lokasi yang katanya menjadi tempat favorit Faizal, dan Aziza tahu kenapa dijadikan favorit, apalagi jika bukan karena sepi, benar-benar seperti makan di dalam hutan. Sunyi, senyap, dan terkadang ada suara jangkrik.
"Udah. Kamu emang suka ke sini?" tanya Azila sambil memperhatikan Faizal yang sedang membereskan bekas makanan mereka.
"Sering, tapi itu dulu waktu sebelum menikah, setelah menikah, baru hari ini aku ke sini lagi."
"Menikah yang mana?" Faizal mengangkat kepalanya, menatap penuh tanya pada Aziza.
"Ya menikah yang mana? Yang sama aku atau sama kembaran aku?" tanya Aziza, Faizal tersenyum lalu kembali melanjutkan kegiatannya---hingga selesai.
Aziza dengan sabar menunggu Faizal menjawabnya, setelah susunan rantang sudah tersusun rapi kembali, Faizal mendekatkan duduknya pada Aziza.
"Menikah yang sama kamu." Aziza hanya mengangguk singkat.
"Kamu mau cerita sesuatu?" tanya Faizal sambil menatap dalam perempuan yang duduk disampingnya. Aziza menolah sambil tersenyum.
"Maksudnya?"
"Aku tahu kamu sedang dalam keadaan tidak baik."
"Aku baik kok, sehat juga, alhamdulillah."
"Bukan, bukan itu. Bukan raga kamu." Aziza tersenyum sambil mengangguk-angguk paham.
"Aku menyadari perubahan itu sejak kamu bertemu perempuan tadi, apa ada sesuatu yang mengusikmu?" Aziza menoleh, tetap dengan senyum manisnya.
"Cuman beberapa hal yang tidak penting, tapi agak mengganggu," jujur Aziza, Dia tahu dan sadar, Faizal pasti akan peka terhadap beberapa perilakunya yang aneh.
"Apa? Kalau boleh tahu, kalian sedang membicarakan apa tadi?"
"Rahasia dong, urusan cewe, cowok nggak akan paham, meski aku jelasin dari sekarang sampai besok, kamu nggak akan paham, Zal." jawab Aziza sambil tertawa.
"Kamu nyaman dengan kehadirannya?"
"Mau aku jawab jujur?" tanya Aziza dengan pandangan yang fokus pada hamparan air di depan sana.
"Tentu, aku selalu mengharapkan itu darimu."
Aziza tersenyum, mengangguk samar. Saat menoleh menatap Faizal, Aziza terkekeh melihat kondisi muka suaminya.
"Santai aja ekspresinya."
"Kenapa? Alasannya."
"Aku nggak suka pas dengar dia manggil kamu Mas, aku nggak nyaman saat dia natap kamu," jujur Aziza, meski tidak semuanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Persimpangan Jalan (END)
Ficción General⚠️JANGAN LUPA FOLLOW SEBELUM MEMBACA⚠️ *** Kira-kira bagaimana perasaan kalian, ketika ada beberapa orang yang tidak kalian kenali mengaku menjadi keluarga, bahkan salah satunya mengaku menjadi calon suami, bagaimana? Mungkin yang kalian rasakan ad...
