Rahasia

1.9K 97 5
                                        

ASSALAMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH.

BAGAIMANA KABAR KALIAN? SEMOGA SELALU SEHAT DAN BAHAGIA.

HAPPY READING 📚.
SALAM SAYANG DARI AKU💙.

***

Seorang perempuan sedang duduk di ruang tamu, sejak tadi yang dilakukan hanyalah melamun, Dia Aziza Jamila, hari ini rumah lagi-lagi hanya berisi dirinya seorang, berbeda dengan hari-hari sebelumnya pasti selalu ada Faizal. Memang hari ini, suaminya itu sudah kembali mengajar, dan sudah berangkat sejak tadi pagi.

Bicacara tentang Faizal, Aziza sedang memikirkan obrolan mereka beberapa waktu yang lalu, Dia masih bimbang. Aziza tidak kesal, ataupun marah karena Faizal tidak memberinya jawaban, tapi malah memberikan pertanyaan yang membuat Aziza dilanda rasa bimbang.

Namun, Dia bisa menyimpulkan, jika sebenarnya tidak ada perusahaan yang Faizal rasa baik untuk dirinya, sehingga pria itu justru menanyakan perihal kelanjutan pendidikannya.

Beberapa hari ini setiap Aziza menanyakan tentang izin untuk bekerja, Faizal justru selalu mengatakan. "Jawab pertanyaan aku dulu, kamu memangnya nggak mau lanjut S2?" Selalu seperti itu, dan Aziza belum bisa memberi jawaban, karena dari lubuk hati yang paling dalam, Dia ingin, tapi Dia juga tidak ingin membebani Faizal, biaya pendidikan S2 tidaklah murah. Meski Faizal sudah meyakinkan, jika Dia lebih dari mampu untuk membiayai dirinya sendiri dan juga Aziza.

Aziza tahu, Faizal bukan hanya seorang guru, tapi juga memiliki bisnis kecil-kecilan, dan Faizal selalu mendapat panggilan untuk mengisi kajian dan kegiatan-kegiatan syi'ar di beberapa gedung atau mesjid, juga menjadi khatib disetiap hari jum'at, dan isi amplopnya jika dikalikan dalam sebulan, hasilnya bisa lebih dari gaji Faizal di pondok.

Jadi, tidak heran jika Faizal mudah menabung sejak dulu, apalagi sekarang sudah ada Aziza yang bisa memenejemen keuangan rumah tangga.

Aziza sendiri sejak dulu memiliki rencana untuk lanjut S2, tapi Dia ingin bekerja lebih dulu untuk mengumpulkan biayanya, karena gaji yang Dia hasilkan selama bekerja dengan Roni, semuanya sudah lenyap entah kemana, tapi Dia belum berani jujur pada Faizal, juga takut jika jawabannya akan melukai hati suaminya itu.

"Gimana ya?" Aziza memejamkan matanya, mencoba mencari solusi dan tentunya jawaban yang tidak akan Dia sesali nantinya.

"Apa aku setuju aja? Kan enak tuh sama-sama fokus lanjut S2, nanti sama-sama juga jadi dosen, jadi aku kerja sambil jagain suami," ucap Aziza disertai senyum tipis.

"Hmm, entar deh aku ngomong sama Faizal, lagian daripada aku kayak begini, di rumah nggak ngapa-ngapain, rasanya rindu belajar, lagi."

Meski menjadi Dosen tidak pernah masuk dalam list cita-citanya, tapi siapa yang bisa tebak masa depan? Semua bisa jika ada keinginan, dan Aziza bisa membentuk keinginan itu, asal dengan Faizal. Sudah setergantung itu Aziza dengan suaminya.

Saat sibuk dengan pikirannya, Aziza sedikit tersentak saat merasakan benda yang ada di tangannya bergetar, dengan segera Aziza melihatnya.

"Nomor yang nggak dikenal?" gumam Aziza, tanpa ingin mengambil pusing, Dia hanya mengabaikan.

Lima kali Aziza mengabaikannya, dan untuk yang ke enam kalinya Aziza memilih untuk mengangkatnya, takut ada yang penting.

***

"Assalamu'alaikum, ini siapa?"

"Hai, sayang."

"Maaf, ini siapa ya?"

Persimpangan Jalan (END) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang