ASSALAMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH.
BAGAIMANA KABAR KALIAN? SEMOGA SELALU SEHAT DAN BAHAGIA.
HAPPY READING 📚.
SALAM SAYANG DARI AKU💙.
***
Malam harinya Aziza sudah bersiap untuk ikut pulang bersama Faizal, tentu dengan sedikit paksaan dari pria tersebut. Menurut Faizal, sekarang bukan waktunya lagi untuk menghindar, sekarang sudah waktunya untuk saling terbuka dan jujur.
Zahrah dan Arkan sudah pulang sejak tadi sore, Faizal rasa mertuanya itu sudah cukup paham akan posisi mereka, dan Faizal bersyukur jika memang seperti itu, semoga kedepannya tidak akan ada lagi orang-orang yang akan terlampau jauh ikut campur dalam permasalahan yang terjadi di keluarga kecilnya.
Rumah yang mereka tempati sekarang ternyata adalah rumah milik saudara Arkan yang kebetulan sedang ada kerjaan di luar kota, jadi rumahnya memang dalam keadaan kosong.
"Udah selesai?" tanya Faizal sambil membuka pintu kamar yang Aziza tempati beberapa jam yang lalu.
"Tunggu, sisa pakai kaos kaki." Faizal mengangguk, lalu berjalan masuk dan mengambil tas yang berisi barang bawaan istrinya.
"Kamu bawa baju sebanyak ini?" tanya Faizal saat menjenjeng tas yang ternyata cukup berat. Aziza mengangguk dan segera mengikuti langkah Faizal.
"Rencana mau tinggal di sini selama dua sampai tiga pekan, tapi nggak jadi," ucap Aziza santai, Faizal berhenti tepat di daun pintu, menoleh ke belakang, menatap istrinya yang hanya mengangkat bahu acuh, membuat Faizal menggeleng takjub.
"Seniat itu kamu mau menjauh dari aku," ucap Faizal sambil melanjutkan kembali langkahnya. Sedangkan Aziza hanya acuh, pura-pura tidak mendengar, lebih tepatnya malas menanggapi.
"Kunci rumahnya bagaimana?" tanya Faizal setelah mengunci pintu utama rumah tersebut, menoleh ke arah Aziza yang berdiri tenang di sampingnya.
"Kata abi, saudaranya punya kunci pegangan juga, itu biar aku pegang dulu untuk sementara," ucap Aziza, berniat mengambil alih kunci dengan ganci kupu-kupu itu, tapi dengan gesit Faizal mengantonginya.
"Tidak perlu, kita pulangkan kuncinya ke abi."
"Loh, bukannya tadi kamu bilang kita langsung pulang ke rumah aja?"
"Nggak jadi, kita ke rumah abi dulu, aku lupa ada barang-barang aku di sana."
Entah yang ada dipikiran Faizal sekarang layak terpikirkan atau tidak, intinya Dia tidak akan membiarkan Aziza memegang kunci rumah tersebut, takutnya Aziza ngambek sedikit malah larinya ke rumah itu lagi.
***
Perjalanan mereka memang akan memakan waktu cukup lama, Aziza hanya fokus pada pemandangan luar. Sesekali Faizal menoleh sambil berdehem beberapa singkat, tapi sayangnya tidak mendapatkan respon apapun dari istrinya.
Memang sikap Aziza sudah tidak sedingin kemarin-kemarin, tapi sikapnya sekarang yang irit bicara, tentu menjadi hal yang sangat mengganjal bagi Faizal. Menurutnya Aziza tidak cocok menjadi pendiam, tapi Faizal juga harus paham, pasti tidak mudah bagi Aziza untuk menerima semua yang terjadi belakangan ini.
"Kamu belum lapar?" tanya Faizal, mengingat mereka belum makan sejak Faizal datang saat siang tadi.
"Belum, nanti sekalian aja pas singgah untuk shalat isya." Aziza menoleh, menjawab pertanyaan Faizal yang sudah ditanyakan sejak tadi, mungkin hampir lima kali, atau bisa jadi lebih.
"Zal, kamu sebenarnya lihat aku seperti apa?" tanya Aziza tiba-tiba, badannya disandarkan pada sandaran kursi--- menoleh ke arah Faizal yang fokus pada kemudinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Persimpangan Jalan (END)
General Fiction⚠️JANGAN LUPA FOLLOW SEBELUM MEMBACA⚠️ *** Kira-kira bagaimana perasaan kalian, ketika ada beberapa orang yang tidak kalian kenali mengaku menjadi keluarga, bahkan salah satunya mengaku menjadi calon suami, bagaimana? Mungkin yang kalian rasakan ad...
