Risih (GitChik) 2

854 71 4
                                        










2


### Kata-kata yang Menyakitkan

Saat jam istirahat, Gita memutuskan untuk menuju kelas Chika karena ada sesuatu yang perlu dia sampaikan. Dengan langkah mantap, dia berjalan menyusuri koridor. Namun, ketika hampir sampai di kelas Chika, dia melihat Chika berjalan bersama teman-temannya, Ashel dan Jessi, menuju kantin.

"Chika!"

Gita mencoba memanggil, suaranya sedikit lebih keras dari biasanya. Tapi Chika tidak menoleh, seolah tidak mendengar panggilan Gita. Dengan cepat, Gita memutuskan untuk mengikuti mereka ke kantin.

Di kantin yang ramai, Gita terus mengikutinya dari kejauhan. Chika dan teman-temannya duduk di meja yang kosong. Sebelum Chika sempat duduk, dia menatap Gita dengan tatapan tajam.

"Kak, bisa stop ngikutin gue gak? Gue risih, Kak. Buat kemarin, sekali lagi gue berterima kasih sudah mau nolong, tapi gue bukan mulai menerima Kakak. Gue nggak kayak cerita-cerita Wattpad yang setelah ditolong jadi suka lah, cinta lah! Gue nggak suka lo Kak!"

Kata-kata Chika membuat Gita mematung di tempat. Rasa malu langsung menyelimuti dirinya, apalagi kejadian ini terjadi di kantin yang sedang ramai. Kata-kata Chika menusuk hatinya, membuatnya sadar diri. Ia merasa sangat kecil dan tak berarti di hadapan Chika.

Gita menghela napas dalam-dalam, lalu tersenyum pahit. Dengan langkah perlahan, ia berjalan menuju meja Chika. Tanpa sepatah kata, ia mengeluarkan dompet Chika dari sakunya dan meletakkannya di meja di depan Chika. "Dompet kamu, kemarin jatuh," katanya dengan suara rendah sebelum langsung berbalik dan berjalan menjauh dari sana, meninggalkan kantin dengan perasaan yang campur aduk.

Chika hanya diam tak bersuara, menatap dompetnya yang tergeletak di meja. Dia tak menyangka bahwa kata-katanya bisa begitu menyakitkan bagi Gita, padahal Gita hanya ingin menolongnya.

Ashel, yang duduk di sebelah Chika, akhirnya bersuara. "Chik, nggak segitunya kali. Dia cuma mau nolong."

"Iya, Chik. Jangan berlebihanlah. Dia juga punya hati," tambah Jessi.

Chika menggigit bibirnya, menahan rasa bersalah yang mulai muncul di hatinya. Ia menyadari bahwa kata-katanya barusan terlalu kasar. Ia menghela napas panjang, merasa perlu untuk meminta maaf kepada Gita. Namun, rasa gengsi dan amarah yang belum sepenuhnya hilang membuatnya ragu untuk segera melakukannya.

Sementara itu, Gita berjalan menjauh dari kantin, mencoba menenangkan diri. Tatapan orang-orang di kantin masih terasa membekas di pikirannya. Ia tahu bahwa usahanya untuk mendekati Chika selalu berakhir dengan kegagalan, tapi kali ini rasa sakitnya lebih dalam.

Teman-teman Gita, Oniel, Olla, dan Eli, yang melihat kejadian itu dari kejauhan, segera menghampiri Gita.

"Git, lo nggak apa-apa?" tanya Oniel dengan nada khawatir.

"Gue liat tadi, Chika ngomong kasar banget," tambah Olla.

"Biarin aja," kata Gita sambil berusaha tersenyum. "Gue cuma mau ngembaliin dompetnya. Nggak lebih."

"Tapi lo kelihatan sedih, Git," kata Eli. "Lo yakin nggak apa-apa?"

Gita mengangguk pelan. "Gue baik-baik aja. Gue mau balik ke kelas."

"Lah ! Makan aja belom masak balik ?" Ucab Olla.

"Udah, balik aja kasian tuh kulkasnya dalam mode bahaya." Balas Eli sambil menggeret tangan Olla.

###

Setelah kejadian di kantin, Chika mulai merasa dihantui oleh rasa bersalah. Setiap kali dia melihat Gita di sekolah, dia tidak bisa mengabaikan perasaan yang mengganggu di dalam hatinya. Namun, gengsinya yang tinggi membuatnya sulit untuk mengakui kesalahannya dan meminta maaf.

Selama beberapa hari, Chika merasa sangat tersiksa. Gita yang biasanya selalu mencoba mendekatinya, kini benar-benar menghilang dari pandangannya. Bahkan ketika mereka bertemu di lorong sekolah, Gita tidak lagi melihat ke arahnya. Gita seolah-olah menjadi sosok bayangan yang hanya lewat tanpa jejak, dan ini membuat Chika merasa lebih bersalah.

Di ruang musik, tempat favorit Chika, suasana tidak lagi sama. Setiap kali dia bermain piano, dia merasa ada yang kurang. Biasanya, meski merasa kesal, dia tahu bahwa Gita sering mendengarkan dari kejauhan. Tapi sekarang, tidak ada lagi suara langkah kaki Gita yang mendekat atau tatapan diam yang menyemangatinya. Chika merasa kehilangan sesuatu yang dia sendiri tidak sadar pernah dia miliki.

"Chik, lo kenapa sih? Kok murung terus akhir-akhir ini?" tanya Jessi saat mereka duduk di taman sekolah.

Ashel menambahkan, "Iya, Chik. Lo nggak biasanya kayak gini. Ada masalah?"

Chika menghela napas panjang. "Gue... gue nggak tahu. Mungkin gue terlalu kasar sama Gita."

"Oh, soal kejadian di kantin itu?" tanya Jessi.

Chika mengangguk pelan. "Iya. Gue ngerasa bersalah, tapi gue nggak tahu harus gimana."

"Lo harus minta maaf, Chik," kata Ashel. "Gita itu mungkin aneh, tapi dia nggak jahat."

Jessi setuju. "Bener, Chik. Kalau lo terus kayak gini, lo sendiri yang bakal tersiksa."

Chika tahu bahwa teman-temannya benar, tapi rasa gengsinya masih sangat kuat. Dia tidak pernah meminta maaf kepada orang lain, apalagi kepada seseorang yang membuatnya kesal seperti Gita. Namun, semakin lama dia menunda, semakin berat rasa bersalah itu menghantuinya.

Suatu hari, setelah pulang sekolah, Chika memutuskan untuk menghabiskan waktu di ruang musik seperti biasa. Dia berharap dengan bermain piano, perasaannya bisa sedikit lebih tenang.

Awalnya memang Chika menikmati melodi dari jari jemarinya, namun lama-lama rasa sepi nan aneh mulai Chika rasakan kembali.

Sudah merasa bosan Chika bermain Piano terdengar suara dari arah pintu, dan saat Chika membuka pintu ruang musik, dia terkejut melihat Gita sudah ada di sana, sambil tersenyum kearahnya.

"Kak Gita?" Chika memanggil pelan.

Gita. Wajahnya tetap tenang, tetapi ada rasa sakit yang terlihat di matanya. "Hei, Chika," jawabnya singkat.

Chika merasa gugup. Ini adalah kesempatan yang baik untuk meminta maaf, tapi kata-kata itu sulit keluar dari mulutnya. Dia berdiri di depan piano, menatap Gita dengan canggung.

"Gue... gue cuma mau kasih ini, ini surat dari OSIS" katanya akhirnya, menghindari tatapan Chika.

Chika mengangguk. "Untuk apa ?"

"Baca aja, gue nggak ikut rapatnya jadi nggak tau isinya apa. Dah ya Chik... Enjoy your Day!"

Chika merasa lebih bersalah saat melihat Gita akan pergi. Dia tidak ingin Gita pergi dengan perasaan tidak enak seperti ini. "Kak Gita, tunggu."

Gita berhenti dan menoleh kembali. "Ya?"

Chika menarik napas dalam-dalam, berusaha mengumpulkan keberanian. "Aku... aku minta maaf. Kemarin di kantin, aku terlalu kasar sama kakak."

Gita terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis. "Gak apa-apa, Chika. Gue ngerti kok."

"Tapi gue beneran nyesel. Gue nggak seharusnya ngomong kayak gitu. Kakak cuma mau nolong, dan aku malah nyakitin kakak," lanjut Chika dengan nada penuh penyesalan.

Gita tersenyum dan menjawab, "tak apa santai saja, lupan kejadian itu.

Chika merasa beban di dadanya sedikit berkurang. Senyum tulus Gita membuatnya merasa lebih baik. "Terima kasih, kak Gita."

Gita hanya mengangguk dan melangkah menjauh dari Chika.

















Bersambung....

Short Stories GITA KUCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang