End
### Mengurai Rasa
Hari-hari di sekolah selalu sibuk dengan kegiatan ekstrakurikuler dan latihan seni. Di salah satu sudut sekolah, ruang musik menjadi tempat favorit bagi siswa-siswa yang memiliki bakat di bidang musik. Di sinilah Chika sering terlihat, duduk di depan piano dengan jari-jarinya yang lentik menari di atas tuts, mengalunkan melodi yang memikat hati siapa saja yang mendengarnya.
Namun, suasana hati Chika tidak seindah melodi yang ia mainkan. Meski tetap menjadi primadona sekolah, ada yang berubah. Sebelumnya, Gita yang selalu berusaha mendekatinya, tetapi sekarang, Gita seakan hilang dari kehidupannya.
Chika masih menjadi pusat perhatian siswa lain, baik dari angkatannya maupun kakak kelasnya. Namun, absennya Gita membuatnya merasa ada yang kurang. Chika seharusnya senang karena pengganggunya berkurang, tapi entah kenapa, hatinya merasa hampa setiap kali ia datang ke sekolah.
Suatu hari, saat sedang bermain piano, Chika tak sengaja melihat Gita melintas di depan ruang musik. Gita hanya melirik sebentar tanpa menyapa, kemudian berlalu begitu saja. Hati Chika terasa nyeri. Dia merindukan kekonyolan Gita, terutama saat Gita selalu terlihat gugup saat berbicara dengannya.
###
Di dalam kelas, suasana masih riuh seperti biasa. Chika duduk di bangkunya, memandangi papan tulis tanpa minat. Teman-temannya sibuk berbicara tentang kegiatan akhir pekan dan gosip terbaru. Olla, sahabat Chika, memperhatikan perubahan pada Chika.
"Chik, kamu kenapa? Akhir-akhir ini kelihatan nggak semangat banget," tanya Olla dengan nada prihatin.
Chika menghela napas panjang. "Nggak apa-apa, Olla. Gue cuma lagi nggak mood aja."
Olla menatap Chika dengan pandangan curiga. "Ini pasti ada hubungannya sama kak Gita, ya?"
Chika terkejut dengan tebakan Olla. Dia mencoba menyangkal, tapi tatapan tajam Olla membuatnya menyerah. "Iya, La. Gue nggak ngerti kenapa, tapi gue merasa kehilangan dia."
Olla tersenyum tipis. "Kalau lo merasa kehilangan, kenapa nggak coba bicara sama dia? Kak Gita mungkin cuma butuh minta maaf dari lo doang."
Chika terdiam, merenungkan saran Olla. Mungkin memang sudah saatnya ia menurunkan gengsinya dan mencoba berbicara dengan Gita.
###
Hari berikutnya, Chika memberanikan diri untuk menyapa Gita saat mereka berpapasan di koridor sekolah.
"Kak Gita!" Sapa Chika
"Kenapa, Chik?" tanya Gita dengan nada datar.
Chika merasa gugup, tapi dia berusaha terlihat tenang. "Kakak udah nggak lagi lihat aku latihan?"
Gita menatap Chika dengan tatapan heran. "Bukannya sebelumnya kamu selalu mengusir?" tanyanya. "Sudah tenang saja, kamu sekarang bisa tenang. Aku nggak akan ganggu lagi."
Jawaban itu membuat hati Chika terasa berat. Dengan perasaan kecewa, dia menggelengkan kepalanya. "Aku minta maaf atas perkataanku yang kemarin kak. Di ruang musik sekarang gak asik lagi, nggak ada lagi yang menemani aku main piano."
Gita hanya menjawab dengan datar, "Lama-lama kamu juga terbiasa. Toh, sebelumnya juga kamu tenang-tenang saja tanpa aku."
Chika akhirnya menyerah. Dia merasa usaha untuk mendekati Gita sia-sia.
###
Saat Chika sedang galau, teman-temannya menasihatinya agar tidak melepaskan Gita begitu saja.
"Chik ? Yah galau lagi cegil kita!" Ucap Jessi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Short Stories GITA KU
Romance************BANYAK GITANYA**************** PENOKOHAN SESUAI REFERENSI MEMBER
